Suyudi Ario Seto Tiba di Istana, Siap Jabat Kapolri Gantikan Listyo Sigit Prabowo

Politik
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Suyudi Ario Seto Tiba di Istana, Siap Jabat Kapolri Gantikan Listyo Sigit Prabowo
BAGIKAN:

Komjen Pol Suyudi Ario Seto tiba di Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis (1/10) untuk menjalani pelantikan sebagai Kapolri baru menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Kedatangannya dengan mengenakan Pakaian Dinas Harian (PDH) menandai babak transisi kepemimpinan di tubuh Kepolisian Republik Indonesia yang selama ini dinanti publik.

Sebelum Suyudi melangkah masuk, Jenderal Listyo Sigit Prabowo sudah lebih dulu tampak hadir di lokasi yang sama. Kehadiran mantan orang nomor satu di Korps Bhayangkara itu memunculkan spekulasi kuat mengenai langkah politik selanjutnya. Listyo kini diisukan bakal mengisi posisi Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), menggantikan Dudung Abdurahman yang sebelumnya menempati jabatan tersebut.

Proses menuju kursi Kapolri tidak dilalui Suyudi tanpa ujian. Saat menjalani uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) di Komisi III DPR, ia menyampaikan komitmen yang terdengar lugas. "Apabila memperoleh amanah, saya siap dinilai dari hasil, bukan dari janji," kata Suyudi di hadapan para anggota dewan.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika belaka. Ia menegaskan akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya sesuai konstitusi, menjalankan pengawasan terhadap Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), menghormati proses hukum, bekerja bersama lembaga pengawas, serta membuka ruang koreksi dari masyarakat. Bagi perwira tinggi ini, jabatan Kapolri merupakan puncak tanggung jawab yang menuntut pembuktian nyata.

Suyudi secara terang-terangan menolak ukuran keberhasilan institusi berbasis seremonial. Ia tidak ingin kinerja Polri dinilai dari banyaknya slogan, aplikasi, operasi, rapat, atau publikasi. Tolok ukurnya sangat membumi: masyarakat merasa lebih aman, laporan lebih mudah diterima, pertolongan datang lebih cepat, perkara lebih pasti, korban terlindungi, hukum diterapkan adil, anggota berintegritas memiliki masa depan, dan penyimpangan dapat dikoreksi tanpa harus menunggu viral.

"Saya ingin keberhasilan Polri kelak dinilai bukan dari banyaknya slogan, aplikasi, operasi, rapat, atau publikasi. Tetapi dari hal yang benar-benar dirasakan, masyarakat lebih aman, laporan lebih mudah diterima, pertolongan datang lebih cepat, perkara lebih pasti, korban terlindungi, hukum diterapkan adil, anggota berintegritas memiliki masa depan, dan penyimpangan dapat dikoreksi tanpa harus menunggu viral," jelasnya saat fit and proper test berlangsung.

Visi yang dipaparkan Suyudi memberikan sinyal perubahan arah kebijakan internal kepolisian. Selama bertahun-tahun, publik kerap mengkritik kecenderungan institusi penegak hukum yang terlalu sibuk memoles citra ketimbang memperbaiki layanan dasar. Penekanan pada koreksi penyimpangan tanpa harus menunggu viral menjadi tamparan keras bagi budaya kerja reaktif yang mengakar di beberapa satuan wilayah.

Analisis Redaksi

Pergantian pucuk pimpinan Polri selalu membawa dinamika tersendiri dalam konstelasi politik nasional. Masuknya Suyudi Ario Seto ke Istana hari ini bukan sekadar rotasi jabatan rutin. Ini adalah penanda arah baru bagi institusi yang langsung bersentuhan dengan denyut nadi kehidupan warga sehari-hari. Janjinya untuk meninggalkan ketergantungan pada pencitraan digital dan kembali pada esensi pelayanan keamanan patut dicatat sebagai modal awal yang baik.

Di sisi lain, rumor penunjukan Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala KSP menarik untuk dicermati. Jika benar terealisasi, perpindahan dari jenderal polisi aktif ke lingkaran inti istana menunjukkan pola konsolidasi kekuasaan yang lazim terjadi di setiap pergantian elite keamanan. Langkah ini sekaligus memastikan transisi di tubuh Polri berjalan mulus tanpa friksi berarti antara pejabat lama dan baru.

Tantangan terbesar Suyudi justru dimulai setelah ia resmi menyandang bintang empat. Mengubah kultur organisasi sebesar Polri membutuhkan lebih dari sekadar pidato tajam di hadapan Komisi III DPR. Publik kini memegang stopwatch. Mereka akan menghitung seberapa cepat laporan ditangani, seberapa adil hukum ditegakkan, dan apakah anggotanya berani mengoreksi kesalahan atasan tanpa takut dimutasi. Waktu pembuktian telah dimulai.

Meow! Tanya Nesi!
😸