Warga Sikka Tumpuh Air Batang Pisang: Krisis Air Bersih Berlangsung Tiga Pekan, Bupati Belum Tanggapi
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Krisis air bersih yang melanda Desa Tuanggeo, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), memaksa warga bertahan hidup dengan meminum dan membasuh tubuh menggunakan air yang ditorehkan dari batang pisang dalam kurun waktu tiga pekan terakhir.
Nestor Langga, salah satu terdampak, melakukan proses ekstraksi ini di depan kediamannya. Ia mengayunkan sebilah pisau besar ke batang pohon, mengupas kulitnya, lalu menggerok bagian bawah batang yang berdekatan dengan pangkal. Sebuah bilah bambu yang telah dipotong sesuai diameter batang dipasang untuk menyalurkan aliran air ke dalam wadah yang telah disiapkan di bawahnya.
"(Krisis air) sudah dua tiga minggu ini. Satu hari paling dua sampai tiga liter [dapat dari batang pohon pisang]," ujar Nestor pada Selasa (29/9), sebagaimana dikutip dari detikBali. Keluhan ini merepresentasikan kondisi ribuan warga di kawasan pesisir pesisir Flores yang bergantung pada sumber daya alam minim.
Meski rasa air tersebut sepat dan bercampur pahit, Nestor menegaskan bahwa cairan dari tanaman tropis ini masih menjadi satu-satunya opsi untuk memenuhi kebutuhan dasar. "(Rasanya) sepat juga. Untuk mandi dan cuci, bisa juga untuk masak," imbuhnya. Keterpaksaannya ini menyoroti kegagalan sistematis dalam penyediaan infrstruktur sumber air tawar di wilayah kepulauan NTT yang rawan kekeringan.
Seperti dilansir, sejauh ini belum ada bantuan tanggap darurat berupa air bersih yang tiba di Desa Tuanggeo. Kontak dilakukan kepada Bupati Sikka, Yuventus Prima Yoris Kago, namun pesan dari media tidak direspons hingga berita ini ditulis. Pengabaian dari otoritas daerah ini menambah kompleksitas permasalahan di tengah minimnya sumber pesisir dan curah hujan rendah.
Kekeringan yang melanda Sikka bukan fenomena baru. Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo melakukan safari politik di Palue. Di sana, warga secara terbuka mendesak kebutuhan akan teknologi penyulingan air laut menjadi air tawar, sebuah permohonan yang hingga kini belum terjawab oleh negara. Ketergantungan pada praktik budidaya pisang kini menjadi simbol putusnya rantai birokrasi dalam pelayanan publik di wilayah geografi NTT.
Analisis Redaksi
Peristiwa warga meminum air separuh matang dari batang pisang menandai transisi dari krisis ekologis menjadi krisis ketahanan nasional yang serius. Ketika sumber air bersih tidak tersedia dan tidak ada intervensi pemerintah daerah, masyarakat terdorong memutar otak secara radikal. Hal ini mengindikasikan ada kegagalan logistik besar-besaran; pengiriman bantuan air minum yang seharusnya menjadi kewajiban dasar negara, tidak berjalan.
Angka produksi air dari pohon, sekitar 2-3 liter per hari, menunjukkan bahwa sumber daya alam pun tidak sanggup menutupi kebutuhan manusia, apalagi jika ditiru oleh populasi desa yang lebih luas. Kekurangan ini berisiko memicu wabah penyakit kulit dan diare, yang akan menambah beban sektor kesehatan yang sudah tertatih-tatih. Tanpa penanganan struktural seperti instalasi desalinasi (penyulingan air laut) yang disuarakan warga sejak era pemerintahan sebelumnya, kekeringan akan berulang menjadi tragedi rutin tahunan.
Langkah mendesak yang harus dilakukan saat ini adalah audit independen terhadap logistik bantuan di tingkat Kabupaten Sikka. Pengabaian dari pemimpin daerah atas pertanyaan media mengindikasikan adanya birokrasi yang tidak responsif. Negara harus memastikan ada jalur distribusi air tawar, baik melalui tangki air darurat maupun pembangunan sumur dalam dan pipa transmisi, dalam hitungan hari, bukan minggu.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Wali Kota Jakut Dorong Pembiasaan Kerja Bakti untuk Cegah Banjir

Kepulauan Seribu Mendorong Wisata Bebas Sampah lewat Ekosistem Bahari dan Ekonomi Sirkular

200 Warga Pondok Bambu Ikuti Sosialisasi Jemput Bola Perlindungan Sosial dan Desil
