Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Periklindo Targetkan Micro EV Bawah Rp100 Juta untuk Percepat Adopsi Pasar Massal

OtomotifRaka MahendraRaka MahendraSumber: CNN Otomotif
Raka Mahendra
Raka Mahendra
Jurnalis Otomotif

Pakar modifikasi kendaraan dan tren pasar motor di Asia Tenggara.

Periklindo Targetkan Micro EV Bawah Rp100 Juta untuk Percepat Adopsi Pasar Massal
BAGIKAN:

Periklindo membidik segmen micro EV di bawah Rp100 juta sebagai kunci membuka pasar massal kendaraan listrik di Indonesia. Wakil Ketua Umum Periklindo, Achmad Rofiqi, menegaskan bahwa harga terjangkau adalah syarat utama menarik minat publik beralih dari bahan bakar fosil ke kendaraan ramah lingkungan.

Angka 100 juta menjadi garis demarkasi ambisius. Rofiqi menyebut dirinya dan asosiasi 'terobsesi' untuk memotong biaya produksi agar unit ringkas ini bisa dinikmati lapisan masyarakat yang lebih luas. "Kalau harga itu sebenarnya bergantung nanti dari jenis kendaraannya. Mungkin yang kelas micro EV, kami terobsesi bagaimana bisa membuat harga micro EV ini bisa di bawah Rp100 juta sehingga lebih banyak lagi yang menikmatinya," ujar Rofiqi di acara CNN Indonesia Evolution Forum, Rabu (30/9).

Obat bagi mahal EV saat ini ternyata bukan di baterai yang lebih canggih, melainkan di penghapusan kekhawatiran berlebih. Rofiqi mengidentifikasi "range anxiety" atau kepanikan jarak tempuh sebagai biang keladi lonjakan harga. Produsen takut konsumen kehabisan tenaga di tengah jalan, sehingga menyematkan baterai berkapasitas jumbo yang tidak proporsional untuk kebutuhan kota. Padahal, untuk mobilitas harian dalam kota, kapasitas 100-150 km sudah lebih dari cukup. "Masyarakat masih sensitif, range anxiety sangat tinggi. Itulah kenapa baterai yang dipasang sendiri micro EV pun ingin range-nya sampai 300 - 400 [km]. Padahal kalau cuma di dalam kota, 100 - 150 km pun enggak akan habis satu hari," kritik Rofiqi.

Pendekatan rasional ini berarti menyetel ulang asumsi industri. Rofiqi menekankan bahwa penyesuaian fungsi baterai agar sesuai kebutuhan nyata adalah jalan menuju efisiensi. Jika kekhawatiran tidak perlu berkurang, maka kapasitas baterai bisa dipangkas, biaya turun, dan harga jual akhirnya masuk akal. "Ke depan baterai lebih kecil, harga lebih murah, dan lebih affordable sehingga lebih banyak masyarakat mulai beralih ke sana," tutup Rofiqi. Ini bukan sekadar tren, ini kalkulasi bisnis yang sedang didorong Periklindo.

Dampaknya langsung terasa pada persepsi publik. Selama ini, mobil listrik identik dengan harga ratusan juta hingga miliaran rupiah. Dengan target di bawah 100 juta, gerbang masuk ke kepemilikan EV terbuka lebar bagi kelas menengah. Namun, transisi ini menuntut perubahan pola pikir: dari mengejar jarak tempuh ekstrem untuk pamer, menjadi menghitung efisiensi untuk harian.

Analisis Redaksi

Mendorong harga di bawah 100 juta bukan sekadar wacana marketing; ini adalah strategi disrupsi untuk meruntuhkan hambatan utama adopsi EV, yaitu harga. Selama ini, persepsi "mahal" berasal dari spesifikasi baterai yang berlebihan untuk kebutuhan riil. Dengan memangkas "range anxiety" menjadi parameter teknis yang realistis (100-150 km), biaya produksi bisa ditekan drastis. Ini selaras dengan prinsip ekonomi skala: volume penjualan tinggi dari model mikro akan mempercepat kurva biaya turun.

Yang perlu diwaspadai adalah respons pasar dan regulasi. Jika pabrikan berhasil menurunkan harga ke bawah 100 juta, pertanyaan berikutnya adalah: apakah infrastruktur penunjang seperti stasiun pengisian daya untuk kendaraan ringkas sudah siap? Selain itu, apakah insentif pemerintah mampu menutupi selisih biaya agar target harga ini tetap menguntungkan bagi produsen? Tanpa sinergi antar elemen tersebut, target harga bisa menjadi mimpi yang tidak terwujud secara komersial.

Makna peristiwa ini menandai pergeseran narasi industri otomotif nasional dari sekadar "mengganti mesin" ke "merancang ulang produk". Langkah Periklindo adalah sinyal kuat bahwa era EV massal di Indonesia tidak akan dimulai dari sedan premium, tetapi dari kota-kota padat dengan kendaraan komuter ringkas. Keberhasilan strategi ini akan ditentukan oleh keberanian produsen untuk tidak lagi over-spec-kan produk, dan kemampuan konsumen untuk melepaskan ketakutan irasional terhadap jarak tempuh.

Meow! Tanya Nesi!
😸