⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Periklindo: Lonjakan Penjualan Mobil Listrik 141 Persen Buktikan Transisi Hijau di Jalur Tepat

OtomotifSiska AmeliaSiska AmeliaSumber: CNN Otomotif
Siska Amelia
Siska Amelia
Rider & Reviewer

Membawa perspektif segar dalam dunia otomotif roda dua dari kacamata perempuan.

Periklindo: Lonjakan Penjualan Mobil Listrik 141 Persen Buktikan Transisi Hijau di Jalur Tepat
BAGIKAN:

Penasihat pasar tidak lagi sekadar teori; angka berbicara. Wakil Ketua Umum Persatuan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Achmad Rofiqi, menegaskan bahwa lonjakan penjualan kendaraan listrik roda empat di Indonesia menjadi bukti nyata bahwa transisi menuju kendaraan ramah lingkungan sudah berada di jalan yang benar. Dalam paparannya di CNN Indonesia Evolution Forum di Jakarta, Rabu (30/9), ia menggarisbawahi bahwa tren ini bukan euforia sesaat, melainkan fondasi struktural untuk mendukung target Net Zero Emission pemerintah.

Angka-angkanya mengejutkan, bahkan bagi mereka yang sudah lama memantau sektor otomotif. Rofiqi mencatat, penjualan kendaraan listrik roda empat melonjak tajam dari sekitar 40 ribu unit pada 2024 menjadi 103 ribu unit pada akhir 2025. Pertumbuhan sebesar 141 persen ini tidak bisa diabaikan. "Kita lihat bahwa pertumbuhan 141 persen ini merupakan suatu hal yang menunjukkan bahwa kita ini sudah di jalan yang benar," kata Rofiqi. Ini bukan hanya statistik, ini adalah sinyal pasar yang sedang berubah arah secara masif.

Namun, antusiasme pasar tidak datang tanpa risiko. Industri ini masih rapuh terhadap ketidakpastian kebijakan. Rofiqi menyoroti pentingnya regulasi yang stabil agar pelaku usaha dapat menyusun perencanaan secara matang tanpa dibayang-bayangi perubahan aturan yang mendadak, seperti halnya intensif perpajakan. "Sebenarnya dibutuhkan dari industri adalah sebenarnya kepastian kebijakan ini dari pemerintah. Jadi bagaimana kebijakan ini bisa dibuat dalam jangka panjang, yang enggak setiap setahun berubah, dua tahun berubah, karena ini akan berpengaruh dari sisi investasi," ujarnya. Ketidakpastian adalah musuh terbesar bagi investor jangka panjang.

Dorongan lokal tidak hanya soal harga, tapi soal kedalaman industri. Rofiqi menambahkan bahwa regulasi seperti tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sangat berpotensi mendorong penciptaan lapangan kerja baru dan memperdalam lokalisasi industri di Indonesia. Di sisi infrastruktur, Periklindo menekankan pentingnya pemerataan fasilitas pendukung seperti charging station yang saat ini telah mencapai hampir 5.000 unit per Maret 2026. Tantangannya jelas: pengembangan ini tidak boleh hanya berpusat di Pulau Jawa.

Konteks diskusi ini makin relevan karena digelar di forum bertema "Powering Indonesia's Future: Green Cars. Blue Skies". Forum ini dibuka oleh Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza. Sesi pertama menghadirkan narasumber seperti Patia J Monangdo dari Kementerian Perindustrian, Handojo K Setyadi dari Pollux Hotels Group Tbk, Suzanty Sitorus dari ViriyaENB, dan Sim Budiman Setiawan dari PKET. Sesi kedua mengeksplorasi koneksi antara pengembangan energi, inovasi teknologi, kesiapan industri, dan kebijakan untuk membangun ekosistem mobilitas rendah emisi.

Analisis Redaksi

Lonjakan 141 persen penjualan bukan sekadar kemenangan komersial, melainkan validasi bahwa preferensi konsumen Indonesia mulai selaras dengan agenda iklim global. Namun, kecepatan permintaan ini menciptakan celah kebijakan yang harus diisi segera. Jika aturan fluktuatif, seperti perubahan insentif pajak yang tidak terprediksi, hal itu akan menghukum para produsen yang sedang menancapkan modal mereka. Stabilitas regulasi menjadi prasyarat mutlak untuk mengubah "tren" menjadi "industri".

Langkah logis berikutnya adalah sinkronisasi antara target TKDN dan infrastruktur fisik. Angka 5.000 unit charging station saat ini masih terlalu kecil untuk skala permintaan 103 ribu unit, terutama jika didistribusi secara merata. Tanpa percepatan pembangunan di luar Jawa, potensi ekonomi akan tetap terkonsentrasi, dan manfaat lokalisasi industri tidak akan terdistribusi secara nasional. Pemerintah perlu memastikan bahwa peta jalan infrastruktur berjalan secepat peta jalan industri, atau sebaliknya, industri akan terhambat oleh keterbatasan aksesibilitas.

Meow! Tanya Nesi!
😸