Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Korban Tewas KM Virgo Tembus 78, 57 Nama Masih Hilang dan Disisir Darat

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Korban Tewas KM Virgo Tembus 78, 57 Nama Masih Hilang dan Disisir Darat
BAGIKAN:

Angka korban jiwa kecelakaan KM Virgo Transport 8 kembali membengkak menjadi 78 orang setelah tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi empat korban terakhir di jalur darat Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Dengan penemuan terbaru ini, total jumlah korban yang ditemukan naik menjadi 186 orang, rincinya 108 orang selamat dan 78 orang meninggal dunia. Dari total 243 penumpang dan awak, tersisa 57 orang yang hingga saat ini masih dinyatakan hilang dan menjadi target pencarian intensif.

Keberhasilan pencarian di wilayah hulu sungai ini terjadi dalam kurun waktu beberapa jam pada dini hari hingga siang hari. Tim SAR menemukan satu korban di Pantai Lunci, Kabupaten Sukamara, yang dievakuasi ke RSUD setempat pada pukul 01.07 WIB. Sejam kemudian, tepatnya pukul 12.57 WITA, sebuah life craft dilaporkan hanyut dan masuk ke wilayah Natai Kuini, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, berjarak sekitar 7 mil laut dari Sukamara. Pencarian dilanjutkan di Sungai Teruntum, Kecamatan Sungai Hilir, Kabupaten Seruyan, tempat tiga korban lainnya ditemukan dan dievakuasi pada pukul 13.30 WIB.

Paralel dengan pencarian di darat, tim penyelam gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI AL, dan potensi SAR masih melakukan penyisiran menyelam di dalam badan kapal yang terbalik di perairan Masalembo, Laut Jawa. Namun, operasi di kedalaman air pada hari itu tidak membuahkan hasil baru atau nihil. Sejak Selasa (29/9), pencarian diperluas ke jalur darat menyusuri aliran Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan, sebagai upaya strategis untuk menjangkau area yang tidak bisa dijangkau tim laut.

Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, Kepala Basarnas, menegaskan bahwa pergeseran fokus pencarian ke jalur darat merupakan langkah logis untuk memperluas jangkauan. "Langkah ini dilakukan untuk memperluas cakupan pencarian dan menindaklanjuti setiap kemungkinan lokasi keberadaan korban," ujarnya. Ia menambahkan bahwa seluruh unsur SAR berkoordinasi ketat berdasarkan evaluasi lapangan dan mengutamakan keselamatan personel. "Kami mengoptimalkan seluruh unsur dan sarana yang tersedia," tegasnya.

Dampak insiden ini tidak hanya terbatas pada pencarian fisik, tetapi juga proses identifikasi forensik yang panjang. Data dari Senin (28/9) menunjukkan Tim Disaster Victim Identification (DVI) telah mengidentifikasi 16 jenazah, sehingga total jenazah teridentifikasi mencapai 41 dari 70 jenazah yang diterima di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Kombes dr Much Sofwan, Kabid Dokkes Polda Kalsel, menjelaskan bahwa 25 jenazah di antaranya sudah diserahkan kepada keluarga. "Yang belum teridentifikasi sebanyak 29 orang dari seluruh jenazah yang diterima," kata Sofwan. Proses ini menjadi ujian psikologis dan logistik bagi para keluarga korban yang menunggu kepastian atas nasib orang terdekat mereka.

Latar belakang tragedi ini bermula pada Minggu (13/9) pukul 02.00 Wita, saat KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa. Kapal yang berangkat dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9) itu dihantam cuaca buruk dan ditemukan terbalik di hari yang sama di perairan Masalembo. Kejadian tersebut memicu operasi pencarian berskala besar yang melibatkan berbagai lintas sektoral dari Jawa hingga Kalimantan.

Analisis Redaksi

Fokus pencarian yang beralih dari laut ke jalur darat, khususnya sungai, menandai fase kritis dalam operasi SAR ini. Fakta bahwa korban ditemukan di hulu seperti Pantai Lunci dan Sungai Teruntum mengindikasikan adanya pola hanyut yang membawa puing-puing atau korban ke area pedalaman. Bagi publik, ini seharusnya menjadi peringatan bahwa wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah memiliki konektivitas air yang luas dan tersembunyi, sehingga potensi korban masih tersisa di segmen-segmen sungai yang belum tersisir maksimal. Ketelitian dalam melacak setiap kemungkinan lokasi adalah kunci, bukan sekadar harapan.

Sekalipun ada temuan baru, stagnasi di dalam badan kapal yang nihil menjadi sinyal bahwa peluang menemukan korban hidup dengan kondisi utuh di lokasi utama (kapal) semakin menipis. Perhatian kini beralih pada 57 nama yang masih hilang. Bagi para keluarga, setiap update kecil menjadi harapan besar, namun profesionalisme data forensik harus tetap dijaga agar tidak menimbulkan kebingungan di lapangan. Proses identifikasi 29 jenazah yang masih tertahan di RS Bhayangkara adalah hambatan birokrasi dan emosional yang harus dikejar, karena kejelasan identitas adalah hak dasar korban dan duka yang layak diterima masyarakat. Operasi ini bukan hanya tentang menyelamatkan nyawa, tetapi juga tentang memberikan kepastian hukum dan rasa aman bagi mereka yang ditinggalkan.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸