Israel Tuding Dugaan Terorisme di Balik Insiden Nyaris Bajak Pesawat Flydubai di Ben Gurion
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Pejabat Israel meyakini bahwa insiden nyaris pembajakan pesawat Flydubai yang dialami pilotnya sendiri merupakan percobaan serangan teroris, sebuah kesimpulan yang sedang berkembang meski belum bisa dipastikan secara final. Kanal berita Channel 12 dan Ynet melaporkan adanya penilaian internal yang mengarah pada motif teror dalam kejadian menegangkan tersebut, di mana pesawat hampir dihantamkan ke tanah oleh salah satu awaknya.
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, dengan tegas mengaitkan aksi tersebut dengan niat jahat seorang "teroris" yang bercita-cita membunuh warga Israel. "Gagasan naif bahwa musuh kita menghargai nyawa dan bahwa kita harus mengasihani mereka, mendapat pengingat lain pagi ini dalam bentuk seorang teroris yang berencana menabrakkan pesawat dan membunuh 180 warga Israel di dalamnya," ujar Ben Gvir dalam pernyataan yang dikutip AFP. Narasi ini menempatkan insiden teknis menjadi ancaman keamanan negara yang serius.
Peristiwa bermula pada Rabu (30/9) ketika pesawat Flydubai nomor penerbangan FZ1073 mengirim sinyal pembajakan dan kehilangan kontak. Jadwal pendaratan di Bandara Ben Gurion yang awalnya ditetapkan pukul 09.30 pagi waktu setempat tersebut mendadak berubah menjadi operasi darurat. Otoritas Israel segera menggelar rapat darurat dan menerjunkan dua jet tempur untuk memantau pergerakan pesawat yang membawa 174 penumpang, termasuk 27 anak, dari Dubai, Uni Emirat Arab.
Data teknis dan kesaksian penumpang mengungkap dramatisasi yang terjadi di kokpit. Menurut FlightRadar24, pesawat terdeteksi menukik tajam dari ketinggian 34.000 kaki menjadi 17.000 kaki dalam waktu kurang dari satu menit, bahkan melakukan U-turn di langit Yordania menuju Arab Saudi. Kesaksian penumpang mencatat adanya perkelahian fisik yang melibatkan senjata tajam di antara pilot. Pilot yang berkewarganegaraan Oman dilaporkan hendak menjatuhkan pesawat, namun usahanya berhasil dihalangi oleh rekan setimnya dari Uni Emirat Arab.
Hingga berita ini diturunkan, pesawat berhasil mendarat dengan selamat di bandara Tabuk, Arab Saudi. Otoritas Israel bersama Saudi kini memimpin investigasi terhadap para pilot tersebut. Penyelidik sedang meninjau dugaan percobaan bunuh diri maupun terorisme. Laporan media Ibrani menegaskan identitas kewarganegaraan kedua pilot yang terlibat, sementara keempat negara terkait—Arab Saudi, Israel, UEA, dan Oman—belum mengeluarkan pernyataan resmi untuk mengonfirmasi hasil awal dari penyelidikan ini.
Analisis Redaksi
Penolakan resmi dari berbagai pihak terkait, khususnya dari UEA dan Oman, menambah lapisan misteri pada insiden ini. Mengingat salah satu pilot berasal dari Oman, negara yang biasanya menjaga hubungan diplomatik stabil, potensi motif politik atau sabotase negara menjadi skenario yang tidak bisa diabaikan. Dugaan bahwa ini adalah "serangan teroris" yang disampaikan oleh Menteri Ben Gvir menggeser narasi dari sekadar kegagalan sistem keamanan kabin menjadi ancaman eksistensial terhadap penerbangan sipil.
Yang perlu diwaspadai adalah potensi eskalasi keamanan di seluruh bandara kawasan. Jika hipotesis serangan teroris terkonfirmasi, standar protokol keamanan penerbang, khususnya pada maskapai yang mengoperasikan rute regional, akan diperketat secara drastis. Ketiadaan pernyataan resmi dari otoritas Arab Saudi juga mengindikasikan adanya proses diplomasi siluman untuk mendamaikan fakta teknis dengan klaim keamanan negara, yang bisa berujung pada kebijakan imigrasi atau hukum yang lebih restriktif bagi awak pesawat di masa mendatang.
Langkah logis selanjutnya adalah transparansi data telemetry dan investigasi independen. Tanpa data forensik yang valid, spekulasi media Israel akan tetap mendominasi. Publik perlu menyadari bahwa insiden seperti ini memicu kepanikn massal terhadap keselamatan penerbangan. Keberhasilan pilot kedua dalam menguji dan mengawal pesawat ke landasan aman menjadi faktor penentu utama dalam penyelamatan nyawa, sementara konsekuensi hukum bagi pilot yang melakukan sabotase berpotensi menjadi preseden hukum internasional baru dalam penerbangan sipil.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Hasil Pemilu Israel: Survei Ditolak, Partai Arab Dipertanyakan Asing

Suhu Politik Global Memanas: Iran Siaga, Sorotan Dampak Pemilu Israel-AS dan Isu Elektoral India

Politikus Demokrat Dukung Kandidat Republik, Perebutan Kursi Senat AS Semakin Sengit
