Guru Besar Unpuri Soroti Tantangan Distribusi Biodiesel Higroskopis dalam Implementasi B50
Membawa perspektif segar dalam dunia otomotif roda dua dari kacamata perempuan.

Indonesia dinilai sudah siap secara teknis kendaraan untuk menerapkan biodiesel B50, namun kendali kualitas bahan bakar dari hulu hingga mesin masih menjadi kerikil utama yang harus diatasi. Guru Besar Universitas Pertamina, Iman Kartolaksono Reksowardojo, menegaskan bahwa kesiapan teknologi mesin sudah terbukti melalui uji coba Kementerian ESDM, tetapi infrastruktur distribusi belum mampu menopang sifat unik biodiesel. Pernyataan ini ia sampaikan di forum Evolution Forum bertajuk 'Powering Indonesia Future: Green Cars. Blue Skies' pada Rabu (30/9), menggarisbawahi bahwa meningkatnya persentase campuran biodiesel justru memperbesar risiko teknis jika penanganan logistik tidak diperbaiki.
Isu krusial menurut Iman adalah sifat higroskopis yang dimiliki biodiesel, yang membuatnya mudah menyerap kelembapan air dari udara dibandingkan solar fosil murni. Sifat ini membawa konsekuensi ganda: satu sisi, biodiesel bersifat biodegradable sehingga aman bagi lingkungan karena dapat terurai menjadi elemen yang tidak merusak; sisi lain, sensitivitas terhadap air ini membuat kualitas bahan bakar sangat rentan turun jika rantai distribusi dan penyimpanannya tidak dikelola dengan standar tinggi. Bagi sektor energi, ini bukan sekadar teori, melainkan ancaman nyata terhadap performa kendaraan di lapangan.
Lebih jauh, Iman menyoroti fakta bahwa sekitar 90 persen kendaraan di Indonesia dirancang berdasarkan standar Jepang yang secara utama ditujukan untuk bahan bakar fosil. Kendaraan-kendaraan ini tidak didesain secara khusus untuk menampung campuran B50, yang menciptakan dinamika tarik-tarikan antara pembuat mesin, konsumen, dan produsen bahan bakar dalam mencari kompromi teknis melalui komisi standar. Namun, ia tetap optimis bahwa Indonesia kini jauh lebih siap dibandingkan sebelumnya berkat pengalaman panjang dalam transisi energi, meskipun diakui bahwa dunia internasional belum memiliki rujukan baku untuk B50 karena Indonesia merupakan pemain pertama.
Kesulitan teknis ini memerlukan pendekatan kolaboratif yang ketat. Iman menekankan bahwa jika masalah distribusi dari hulu ke mesin bisa diselesaikan secara tuntas, implementasi B50 akan berjalan lebih lancar dan efektif. Tanpa perbaikan sistem rantai pasok, potensi peningkatan penggunaan biodiesel justru berisiko menurunkan kualitas bahan bakar yang sampai ke konsumen, sehingga tujuan transisi energi hijau bisa terganjal oleh masalah teknis yang sebenarnya solutif. Kesiapan infrastruktur ini menjadi penentu utama keberhasilan kebijakan energi nasional ke depan.
Dampaknya bagi publik tidak hanya terbatas pada aspek lingkungan, tetapi juga pada keterjangkauan dan keandalan kendaraan. Warga diharapkan akan merasakan manfaat dari bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, yaitu biodiesel yang tidak merusak ekosistem laut jika terjadi tumpahan. Namun, kepercayaan publik terhadap performa kendaraan akan teruji di jalan raya, di mana ketahanan mesin terhadap bahan bakar dengan kadar biodiesel tinggi menjadi parameter utama keberhasilan program B50 dalam jangka panjang.
Analisis Redaksi
Pernyataan Iman Kartolaksono Reksowardojo menyoroti celah kritis antara kesiapan teknologi kendaraan dan kesiapan infrastruktur pendukung. Fakta bahwa Indonesia menjadi negara pertama yang mengimplementasikan B50 tanpa rujukan global menciptakan risiko teknis yang signifikan. Kemampuan biodiesel untuk menyerap air (higroskopis) bukan lagi sekadar variabel lingkungan, melainkan ancaman operasional serius yang bisa merugikan industri otomotif dan logistik jika rantai pasok tidak diperkuat dengan teknologi anti-kontaminasi.
Apa yang perlu diwaspadai adalah potensi degradasi kualitas bahan bakar yang dapat berdampak pada efisiensi mesin kendaraan, yang 90 persennya didesain untuk fosil. Jika kompromi standar antara produsen enjin dan pembuat bahan bakar tidak tercapai secara teknis, B50 bisa menjadi beban tambahan bagi kendaraan domestik. Diperlukan intervensi kebijakan yang tidak hanya fokus pada mandatori campuran, tetapi juga pada inspeksi ketat infrastruktur penyimpanan dan distribusi untuk memastikan integritas bahan bakar tetap terjaga.
Secara logis, langkah selanjutnya harus melibatkan penguatan standar teknis nasional yang adaptif terhadap karakter biodiesel. Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan pengalaman masa lalu; butuh inovasi dalam desain tangki, filter, dan sistem injeksi agar mampu 'survive' dalam ekosistem B50. Keberhasilan program ini akan bergantung pada seberapa cepat sektor swasta dan pemerintah menyelaraskan spesifikasi teknis untuk menutup gap antara desain kendaraan dan karakteristik bahan bakar baru.
BERITA TERKAIT (Otomotif)

Krisis Solar Subsidi: Perburuan Mobil Diesel Bekas Bergeser ke Ketersediaan Barcode

EICMA 2026 Dibanjiri Merek Motor China, CFMoto dan QJMotor Ungkap Inovasi Terkini

KPK Tetapkan Dedi Congor Tersangka Kasus Bea Cukai, Kekayaannya Terdata Rp8,2 Miliar
