Guru Besar Pertamina: Jangan Benturkan B50 dan EV, Indonesia Butuh Multipathway

Indonesia tidak perlu terjebak dalam polarisasi antara
Pemilihan biodiesel B50 justru menempatkan Indonesia dalam posisi istimewa di kancah internasional. "Kita harus bangga karena kita nomor satu di dunia, pelopor untuk industrinya, penelitiannya, dan aplikasinya. Karena di dunia itu, paling di Eropa, di Amerika itu 7 persen mandatorinya, Indonesia, jangan salah, 50," ujar Iman. Proporsi mandatori 50 persen ini menjadi bukti nyata di mana B50 bukan sekadar pelengkap, melainkan contoh global yang sudah terbukti manfaatnya bagi anggaran negara dan sektor pertanian.
Alur logis pengembangan energi di Indonesia, menurut Iman, adalah multipathway. "Jadi bukan 100 persen EV, tapi multipathway, bahasa kerennya. Masih ada yang pake ICE, yang efisien, kemudian ada hybrid, ada EV, ada biofuel, atau kombinasi itu," paparnya. Sebagai negara penghasil nikel, pemanfaatan sumber daya alam ini untuk menggerakkan roda industri Artikel TerkaitKimi Antonelli Ukir Sejarah F1 2026: Gelar Juara Dunia Termuda di Balik Regimen Latihan Otot Leher 40 Kilogram
Implikasi dari strategi multipathway ini adalah keberagaman teknologi yang tersedia bagi masyarakat. Publik tidak dipaksa memilih satu jenis kendaraan secara eksklusif berdasarkan lokasi atau kondisi infrastruktur setempat. Pemerintah dituntut untuk tidak meniru tekanan global secara membabi buta, melainkan merancang kebijakan yang mengakomodasi realitas demografis dan geografis Nusantara. Dengan menjaga keseimbangan, Indonesia dapat mengurangi emisi tanpa mengorbankan ketahanan energi lokal.
Analisis Redaksi
Pernyataan Iman Reksowardojo menggeser narasi dominasi kendaraan listrik yang selama ini mendominasi wacana energi bersih. Ini adalah argumentasi strategis bahwa superioritas B50 tidak boleh diabaikan hanya demi mengikuti tren global. Angka mandatori 50 persen menjadi kekuatan diplomasi energi Indonesia yang langka di dunia.
Apa yang perlu diwaspadai dari pendekatan ini adalah potensi ketergantungan pada satu jenis bahan baku nabati jika satu jalur ditinggalkan. Oleh karena itu, "multipathway" bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan teknis untuk mendiversifikasi portofolio energi transport. Langkah logis selanjutnya adalah memastikan kesiapan infrastruktur pengisian daya dan distribusi biofuel secara simultan, agar tidak ada kekosongan layanan energi bersih di daerah luar Jawa.
BERITA TERKAIT (Otomotif)

Bantah Keraguan, Yamaha GEAR ULTIMA Tuntaskan 2.740 Km Ekspedisi Lintas Alam Selebes

Kimi Antonelli Ukir Sejarah F1 2026: Gelar Juara Dunia Termuda di Balik Regimen Latihan Otot Leher 40 Kilogram

Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor di Jakarta Mulai 2 November 2026, Ini Persyaratan dan Cara Mengurusnya
