Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Desak Made Bawa Indonesia Naik ke Peringkat 13 Asian Games 2026, Curi Emas dari Deng Lijuan

OlahragaDimas PratamaDimas PratamaSumber: CNN Olahraga
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Desak Made Bawa Indonesia Naik ke Peringkat 13 Asian Games 2026, Curi Emas dari Deng Lijuan
BAGIKAN:

Satu tembakan cepat dalam arena panjat tebing mengubah peta persaingan medali untuk Indonesia. Desak Made Rita Kusuma Dewi memastikan emasnya dengan catatan waktu 6,062 detik, sekaligus mengerek posisi kontingen Merah Putih ke peringkat 13 klasemen sementara Asian Games 2026. Kemenangan tipis 0,002 detik atas Deng Lijuan dari China ini terasa menentukan, bukan hanya karena gelar yang diraih, tetapi karena dampak langsungnya terhadap posisi Indonesia di atas Kuwait yang tertinggal satu emas.

Kedua atlet saling kejar di sepanjang dinding speed saat final berlangsung di Nagoya International Exhibition Hall, Nagoya, Rabu (30/9). Desak, atlet kelahiran Bali ini, menjaga fokusnya sampai detik terakhir. Di garis finis, namanya tertera di urutan pertama dengan margin yang sangat tipis, memaksa Deng Lijuan puas dengan perak. Periode penghitungan waktu di cabang ini memang tak pernah memberi ruang untuk kesalahan kecil, dan Desak membuktikan ketenangan mentalnya di depan ribuan penonton di Jepang.

Medali emas tersebut menjadi yang keempat bagi Indonesia di Asian Games 2026 ini, menambah koleksi total yang kini mencapai 31 medali dengan rincian 4 emas, 7 perak, dan 20 perunggu. Perolehan ini menempatkan Indonesia tepat di bawah Hong Kong, yang mengoleksi 5 emas, 12 perak, dan 18 perunggu di peringkat 12. Di atas keduanya, Malaysia menempati posisi ke-11 dengan raihan 6 emas, 5 perak, dan 12 perunggu. Jarak antara peringkat 11 hingga 13 ini sangat rapat, dan hanya selisih satu medali emas yang mengubah urutan klasemen secara drastis.

Puncak klasemen masih didominasi tim-tim raksasa Asia. China mengukuhkan dominasinya dengan mengoleksi 151 medali emas, diikuti Jepang di posisi kedua dengan 50 emas, dan Korea Selatan di peringkat ketiga dengan 24 emas. Uzbekistan, Thailand, dan Iran melengkapi lima besar. Untuk Indonesia, naik ke peringkat 13 adalah tonggak penting di fase tengah kejuaraan, menunjukkan bahwa kontribusi dari berbagai cabang olahraga mulai terlihat secara kumulatif.

Penampilan Desak Made di final speed putri menjadi satu dari sedikit momen yang memberikan harapan besar bagi publik di Indonesia. Dalam turnamen besar seperti ini, emas dari cabang yang dinamis seperti panjat tebing sering kali menjadi katalis moral bagi atlet-atlet Indonesia lainnya yang akan berlaga di cabang-cabang berat seperti karate atau renang. Data klasemen yang dirilis setelah pertandingan menunjukkan bahwa persaingan di papan tengah sangat ketat, dan setiap medali yang dihasilkan saat ini memiliki bobot strategis yang tinggi.

Analisis Redaksi

Selisih 0,002 detik antara Desak Made dan Deng Lijuan menyoroti betapa tipisnya margin kemenangan di cabang panjat tebing pada Asian Games kali ini. Kemenangan ini bukan sekadar soal kecepatan teknis, tetapi juga soal konsistensi performa di bawah tekanan arena internasional yang ketat. Bagi tim Indonesia, meraih emas dari cabang yang relatif baru masuk dalam perebutan medali utama menunjukkan perluasan potensi olahraga nasional yang kini mampu bersaing di level elite Asia.

Secara strategis, posisi Indonesia di peringkat 13 ini memberikan tekanan sekaligus motivasi. Dengan Kuwait dan Taiwan berada tepat di bawahnya di peringkat 14 dan 15, setiap medali emas yang diraih atlet Indonesia selanjutnya akan langsung menentukan apakah kita bisa menembus dua belas besar atau tidak. Fokus kini beralih ke cabang-cabang di mana Indonesia memiliki potensi merebut emas, mengingat perolehan perak dan perunggu yang sudah masuk dalam jumlah signifikan akan sulit dikompensasi jika emas gagal datang di sisa kompetisi.

Perlu diwaspadai bahwa konsentrasi atlet di cabang-cabang terakhir akan sangat tinggi. Manajemen beban pertandingan dan psikologi atlet harus tetap dijaga agar performa terbaik tidak melorot di fase penentuan. Tren perolehan medali yang stabil ini seharusnya menjadi modal kuat bagi komite olimpiade nasional untuk mengevaluasi program pembinaan jangka panjang, memastikan bahwa lonjakan di papan tengah klasemen ini bisa berlanjut hingga akhir kejuaraan dengan hasil yang lebih gemilang.

Meow! Tanya Nesi!
😸