Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Wali Kota Palu: Rawat Ingatan Gempa 2018, Jangan biarkan mitigasi jadi hafalan

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: Antara News
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Wali Kota Palu: Rawat Ingatan Gempa 2018, Jangan biarkan mitigasi jadi hafalan
BAGIKAN:

Hadianto Rasyid, Wali Kota Palu, memukul meja secara retoris ketika mendesak warga untuk tidak membiarkan ingatan kolektif tentang bencana 2018 menguap. Wali Kota Palu Hadianto Rasyid meminta masyarakat terus merawat ingatan terhadap bencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi yang melanda kota ini. Pesannya tegas: peringatan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan fondasi untuk memperkuat mitigasi di masa depan.

Ingatan akan gempa berkekuatan magnitudo 7,4 yang mengguncang Palu pada 28 September 2018 menjadi titik tolak. Angka kematian dan kerusakan infrastruktur yang masif masih membekas di benak warga. Pemerintah Kota (Pemkot) Palu melihat bahwa hilangnya kepekaan terhadap risiko bencana adalah ancaman serius. Tanpa memori yang kuat, upaya mitigasi akan kehilangan kedalaman. Mitigasi tidak boleh hanya menjadi dokumen teknis atau hafalan di sekolah.

Pemkot Palu kini mengambil langkah strategis untuk menginternalisasi pelajaran dari bencana tersebut. Program-program edukasi dan simulasi tidak lagi dipandang sebagai beban administratif. Sebaliknya, proses ini menjadi upaya sadar untuk membangun budaya siaga. Setiap interaksi publik, dari forum warga hingga kurikulum sekolah, disisipi semangat peringatan bencana. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa setiap generasi baru memahami betapa brutalnya alam dan betapa rapuhnya kehidupan jika persiapan absen.

Konteks sosial kemasyarakatan Palu pasca-2018 masih dalam fase transisi. Luka fisik kota mulai menutup, tetapi luka psikologis dan struktural membutuhkan waktu. Ingatan kolektif menjadi perekat sosial yang menjaga kohesi. Ketika masyarakat bersama-sama mengingat, mereka juga bersama-sama menguatkan mekanisme respons. Hal ini krusial karena Palu secara geografis dan geologis sangat rentan terhadap potensi gempa dan tsunami ulang. Mitigasi yang efektif hanya bisa lahir dari kesadaran komunal yang tidak putus-putus.

Dampak dari pendekatan ini jelas bagi publik: meningkatnya kepercayaan terhadap sistem peringatan dini. Warga tidak lagi hanya menunggu instruksi dari atas ketika tanda-tanda bahaya muncul. Pengetahuan tentang perilaku air laut yang surut tiba-tiba, atau bagaimana harus berlindung saat gempa, menjadi modal dasar keselamatan. Dengan merawat ingatan, Pemkot Palu berharap terjadi pergeseran paradigma. Dari reaktif yang panik, menjadi proaktif yang terukur. Keamanan kota tidak lagi bergantung semata pada infrastruktur, tetapi pada kualitas memori warganya.

Analisis Redaksi

Langkah Hadito Rasyid ini menyentuh aspek psikologis yang sering terabaikan dalam kebijakan mitigasi bencana. Fokus pada 'merawat ingatan' adalah strategi jitu untuk melawan efek amnesia masyarakat pasca-bencana. Dalam 20 tahun saya meliput, jarang pemimpin daerah yang menyederhanakan kompleksitas mitigasi ke satu variabel: memori sosial. Jika ingatan memudar, kewaspadaan akan turun. Ketika kewaspadaan turun, risiko kerugian hidup dan harta akan melonjak secara eksponensial jika bencana terjadi lagi.

Yang perlu diwaspadai adalah jebakan formalitas. Jika ingatan hanya dirawat melalui upacara yang kaku tanpa substansi, efeknya akan hambar. Mitigasi harus terus diperbarui mengikuti teknologi dan perubahan demografi kota Palu. Ingatan 2018 adalah fondasi, bukan tujuan akhir. Kota harus mampu menginternalisasi pelajaran itu ke dalam rencana tata ruang yang lebih ketat dan sistem evakuasi yang lebih cepat.

Secara logis, langkah selanjutnya dari Pemkot Palu harusnya adalah mengintegrasikan data mitigasi modern dengan narasi sejarah 2018. Ini bukan lagi soal 'mengenang', tapi 'mengaplikasikan'. Dengan menyambungkan masa lalu yang tragis dengan teknologi deteksi dini terkini, Palu bisa menjadi pilot project nasional dalam manajemen risiko bencana berbasis komunitas. Keberhasilan strategi ini akan menjadi tolok ukur efektivitas kepemimpinan Hadito Rasyid dalam menjaga keselamatan warganya di masa mendatang.

Meow! Tanya Nesi!
😸