Prabowo Rakus Kepala BNN hingga Wamenkes Bahas Dampak Vape Berbahaya di Istana
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan jajaran kementerian strategis di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (29/9), untuk membedah data riset terbaru mengenai pemberantasan narkotika, termasuk ancaman rokok elektrik yang berisi zat berbahaya. Pertemuan darurat ini menjadi sorotan karena melibatkan langsung Kepala Badan Narkotika Nasional dan beberapa anggota Kabinet Merah Putih lainnya.
Turut hadir dalam rapat tertutup tersebut, Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto, Mendiktisaintek Brian Yuliarto, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono, dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria. Kehadiran pejabat tinggi lintas sektor ini menandakan bahwa pendekatan negara kini lebih komprehensif, menggabungkan aspek keamanan dengan sains.
"Pengentasan permasalahan narkoba, ya. Jadi tadi saya juga diminta membawa salah satu peneliti, dosen UI, kaitannya dengan narkoba, ketergantungan, dan seterusnya," kata Brian. Ia menegaskan bahwa temuan akademik dari kampus akan disinergikan langsung dengan kebutuhan lapangan di BNN dan Kementerian Kesehatan.
Brian merinci bahwa diskusi mencakup teknologi deteksi, metode penyembuhan, hingga pemanfaatan barang bukti yang disita. Isu rokok elektrik atau vape yang mengandung narkotika menjadi salah satu poin utama bahasan. "Nanti saya laporkan setelah ini," tambahnya, merujuk pada hasil akhir rapat tersebut.
Selain keempat menteri dan pejabat sebelumnya, Presiden juga memanggil Menteri Hukum Supratman Andi Agtas. Supratman enggan merinci isi diskusi di depan publik, hanya menyatakan bahwa ia akan menyampaikan laporan langsung ke Presiden setelah keluar ruangan. Ketatnya protokol keamanan membuat detail substansi rapat masih menjadi misteri bagi publik umum.
Analisis Redaksi
Langkah Presiden untuk menyatukan kepala lembaga keamanan dan riset sains dalam satu meja menunjukkan pergeseran paradigma penanganan narkotika. Dulu, fokus utama hanya pada penegakan hukum. Kini, aspek medis dan teknologi deteksi menjadi prioritas, terutama dalam menghadapi modus baru seperti vape yang terkontaminasi narkoba.
Perlu diwaspadai bahwa tantangan terbesar bukanlah hanya pada penindakan, melainkan pada inovasi barang haram. Jika riset dari universitas tidak bisa diterjemahkan cepat menjadi kebijakan lapangan, maka upaya pengentasan ini akan tersendat. Sinergi antara BRIN, BNN, dan Kemenkes adalah kunci apakah negara mampu memblokir jalur distribusi zat berbahaya tersebut atau tidak.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Herdiansyah Hamzah Desak DPR Segera Proses Pemakzulan Wapres Gibran Usai Putusan MA

Kemensos Salurkan 5.000 Paket Sembako di Sulsel Peringatan Setahun Sekolah Rakyat

Kemensos Hadirkan Layanan Rehabilitasi Gratis di Peringatan 1 Tahun Sekolah Rakyat
