Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kelulusan SMA 2014 dari Natuna Tewas di Rusia, Keluarga Ungkap Diduga Direkrut sebagai Tentara Bayaran

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kelulusan SMA 2014 dari Natuna Tewas di Rusia, Keluarga Ungkap Diduga Direkrut sebagai Tentara Bayaran
BAGIKAN:

Seorang warga Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, dilaporkan tewas akibat serangan udara dalam konflik Rusia-Ukraina. Rendi, pria 30 tahun ini, diduga meninggal dunia pada 20 September 2026 saat menjadi tentara bayaran di sisi Rusia. Berita duka ini mengejutkan keluarga besar, karena Rendi sebelumnya bekerja sebagai teknisi listrik di Filipina.

Kematian Rendi dikonfirmasi oleh orang tuanya, Rustamal dan Eniyanti. Mereka menerima kabar pahit tersebut dari rekan putranya yang berada di zona konflik. Rustamal menjelaskan, Rendi tewas saat pesawat nirawak Ukraina menargetkan Moskow dan wilayah Rusia lainnya. Serangan tersebut terjadi bersamaan dengan pelaksanaan pemilu di negara tersebut.

"Iya, kan ada informasinya itu Rusia di serang drone dari Ukraina sewaktu Rusia mengadakan Pemilu, di situlah terjadinya serangan drone itu. Di situ anak saya tidak bisa menghindar lagi, karena banyaknya drone," kata Rustamal saat dihubungi via telepon, Senin (28/9). Pria tersebut menuturkan bahwa proses perekrutan Rendi ke dalam lingkaran militer Rusia bersifat tidak resmi melalui agen.

Sebelum menghilang dari radar keluarga, Rendi diketahui bekerja di Filipina. Ia hanya memberikan kabar singkat bahwa ia telah pindah ke Rusia. "Saya bilang, 'Kenapalah di sana. Di sana kan lagi perang'. 'Mudah-mudahan lah Pak aman, doa aja Pak'," kata Rustamal menirukan percakapan mereka terakhir kali. Rendi sendiri merupakan alumni SMA Negeri 1 Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, angkatan 2014-2015.

Harapan untuk memulangkan jenazah Rendi ke Indonesia kini menghadapi kendala berat. Temannya di Rusia menyatakan proses evakuasi sangat sulit karena kondisi lokasi kejadian masih gawat akibat perang. "Tidak bisa pak, karena di lokasi masih gawat dengan perang. Sekarang masih ada tulang-belulang yang belum dievakuasi," ucap Rustamal mengutip pesan dari rekannya. Pemerintah daerah hingga saat ini belum dapat mengambil langkah teknis karena data yang beredar masih berupa tangkapan layar status media sosial.

Pemkab Natuna mengakui belum mengetahui langkah konkret yang akan diambil. Bupati Natuna, Cen Sui Lan, hanya merespons singkat, "Belum update." Sekda Kabupaten Natuna, Boy Wijanarko Varianto, menambahkan bahwa pihaknya perlu mengklarifikasi informasi tersebut lebih dahulu kepada intelijen TNI. "Baru tahu pula, kroscek yang buat ini. Mau ditanya ke intel TNI dulu," ujarnya.

Analisis Redaksi

Kasus Rendi menyoroti kerentanan warga negara Indonesia yang terjebak dalam jebakan perekrutan militer asing, khususnya di tengah konflik geopolitik global. Proses perekrutan yang tidak resmi dan jalur logistik militer menunjukkan adanya celah pengawasan terhadap tenaga kerja Indonesia di luar negeri, terutama di zona merah konflik. Fakta bahwa keluarga hanya tahu setelah kabar duka tiba, membuktikan minimnya transparansi informasi sejak awal keberangkatan Rendi.

Tantangan terbesar kini bukan sekadar pemakaman, melainkan pengembalian jasad Rendi. Kondisi perang yang masih memanas membuat operasi kemanusiaan dan evakuasi korban menjadi prioritas rendah bagi pihak militer di lapangan. Tanpa intervensi diplomatik atau mediasi yang kuat dari pemerintah pusat, jenazah Rendi berisiko tidak dapat dipulangkan dalam waktu dekat. Pemkab Natuna terganjal prosedur birokrasi yang menunggu verifikasi dari intelijen TNI, menunjukkan adanya kekosongan otoritas dalam menangani kasus warganegara yang terbawa arus konflik asing.

Ke depan, peristiwa ini harus menjadi alarm bagi lembaga negara untuk memperketat pengawasan terhadap jalur perekrutan tenaga kerja informal ke negara berkonflik. Selain itu, perlu adanya jalur pelaporan khusus bagi keluarga WNI yang bekerja di zona perang agar dapat memantau keselamatan anggota keluarga mereka secara real-time. Tanpa sistem pengawasan yang solid, jumlah WNI yang menjadi korban dampak samping dari konflik negara besar diprediksi akan terus bertambah tanpa adanya penanganan preventif yang memadai.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸