Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Asap Karhutla Turunkan Jarak Pandang Bandara SMB II Palembang hingga 500 Meter

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Asap Karhutla Turunkan Jarak Pandang Bandara SMB II Palembang hingga 500 Meter
BAGIKAN:

Jarak pandang di Bandara Internasional S. K. (Sulastri M. Bakri) Palembang, atau yang dikenal dengan nama SMB II, anjlok drastis menjadi hanya 500 meter pada pagi hari. Penurunan visibilitas ini dipicu langsung oleh kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini mengganggu operasional penerbangan serta menimbulkan potensi bahaya keselamatan bagi aktivitas aviasi di ibu kota Sumatera Selatan tersebut.

Para calon penumpang dan kru maskapai yang tiba di bandara pada dini hari hingga pagi merasakan dampak nyata dari pekatnya asap tersebut. Kabut karhutla bukan sekadar fenomena cuaca alam biasa, melainkan hasil dari aktivitas pembakaran lahan yang masih terjadi di sekitar wilayah Sumatera Selatan. Asap tebal tersebut mengaburkan pandangan pilot saat tahap take-off dan landing, yang merupakan fase kritis dalam operasi penerbangan.

Data jarak pandang 500 meter ini menandakan status cuaca sedang kritis bagi standar keamanan penerbangan komersial. Biasanya, bandara dapat beroperasi normal dengan jarak pandang ribuan meter. Kini, angka 500 meter mendekati batas minimum operasional untuk beberapa jenis pesawat, memaksa pihak otoritas bandara dan maskapai untuk meningkatkan kewaspadaan. Pengumuman perubahan jadwal atau keterlambatan berpotensi meningkat signifikan jika kondisi tidak membaik dalam beberapa jam ke depan.

Masyarakat dan pelaku industri transportasi udara harus mewaspadai dampak berantai dari kondisi ini. Selain gangguan penerbangan, paparan asap karhutla juga mengancam kualitas udara yang dihirup oleh warga sekitar bandara dan para pemudik. Kualitas udara yang buruk karena partikel halus dari asap menjadi isu kesehatan publik yang serius di tengah musim kemarau yang berkepanjangan ini.

Situasi ini menuntut respons cepat dari pemadam kebakaran daerah dan koordinasi lintas sektoral untuk membasmi titik-titik api sumber asap tersebut. Tanpa intervensi aktif untuk memadamkan kebakaran lahan, siklus polusi udara ini akan terus berulang dan mengganggu mobilitas warga setiap harinya. Pengawasan ketat terhadap pelaku pembakaran ilegal menjadi kunci utama untuk mengembalikan kondisi bandara dan udara di Palembang ke keadaan normal.

Analisis Redaksi

Penurunan jarak pandang hingga 500 meter di Bandara SMB II bukanlah insiden pertama yang terjadi selama musim kemarau, namun menandakan kegagalan sistemik dalam pencegahan karhutla. Fakta bahwa asap masih begitu pekat untuk mengganggu visibilitas udara menunjukkan bahwa upaya pengendalian api di darat belum membuahkan hasil signifikan. Ini adalah alarm bahaya bagi seluruh infrastruktur logistik dan mobilitas di wilayah Sumsel.

Yang perlu diwaspadai adalah potensi konflik kepentingan antara kepentingan ekonomi agraria dan keselamatan publik. Jika karhutla disebabkan oleh pembukaan lahan secara ilegal oleh korporasi atau masyarakat kecil yang tidak paham regulasi, maka penegakan hukum harus dipercepat. Jangan sampai keselamatan penumpang pesawat menjadi taruhan semata karena kelalaian dalam pengelolaan lahan.

Langkah logis berikutnya adalah transparansi data real-time terkait kualitas udara dan jarak pandang dari otoritas bandara. Publik berhak mengetahui kapan mereka bisa bepergian dengan aman. Media dan pemerintah daerah perlu menggaatkan kembali bahaya jangka panjang karhutla, bukan hanya sebagai gangguan cuaca, tetapi sebagai bencana lingkungan yang mengancam kesehatan generasi mendatang.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸