IHSG Melemah, Asing Catat Net Sell Rp3,5 Triliun, Sekuritas Saran Reksa Saham MDKA & BBCA
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat (25/9) dengan penurunan 56,71 poin atau minus 0,90 persen di level 6.241. Tekanan pasar diperkuat oleh aksi jual investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp559,16 miliar pada hari tersebut, melanjutkan tren negatif sepanjang tahun 2026.
Secara mingguan, kinerja bursa domestik tercatat lesu. Elsierra Putri Yosita, Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), mengungkapkan bahwa selama periode 21-25 September 2026, kapitalisasi pasar bursa menyusut 3,20 persen dari Rp11.266 triliun menjadi Rp10.905 triliun. Di sisi lain, rata-rata nilai transaksi harian anjlok 21,32 persen dari Rp15,22 triliun menjadi Rp11,98 triliun, sementara frekuensi transaksi harian turun 3,95 persen menjadi 1,82 juta kali.
Kepanikan pasar ini dipicu oleh faktor eksternal dan domestik yang saling bertautan. VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menilai kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun ke level 5,17 persen sebagai pemicu utama keluarnya dana asing. "Sepekan lalu, asing mencatat net sell mencapai Rp3,5 triliun di seluruh perdagangan," tegas Audi. Dari dalam negeri, pemberlakuan kebijakan floor price Rp1 oleh BEI dikhawatirkan meningkatkan volatilitas pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti GOTO, BBKP, dan KPIG.
Meski sentimen pasar cenderung negatif, dua analis sekuritas besar tetap memberikan panduan teknikal untuk pekan depan. Oktavianus Audi memproyeksikan IHSG bergerak mixed dengan support 6.160 dan resistance 6.360. Ia merekomendasikan koleksinya MDKA dengan target 3.400, BBCA dengan target 6.650, dan PSAB dengan target 600. Senada, Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas memprediksi koreksi lanjutan dengan support 6.029 dan resistance 6.551, merekomendasikan COIN, INDF, dan HMSP sebagai pilihan spekulatif jangka pendek.
Investor kini memegang beban ganda: mengawasi rilis data tenaga kerja dan personal income Amerika Serikat yang bisa memicu kebijakan hawkish dari The Fed, serta memantau dampak struktural perubahan batas harga minimum saham di pasar domestik. Ketidakpastian ini membuat keputusan investasi menjadi lebih presisi, di mana pemilihan emiten dengan fundamental kuat menjadi benteng pertahanan dari volatilitas pasar.
Analisis Redaksi
Adopsi kebijakan floor price Rp1 merupakan perubahan struktural yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar modal Indonesia. Ini bukan sekadar penyesuaian teknis, melainkan sinyal bahwa regulator berupaya memangkas saham-saham zombie yang menggerus efisiensi pasar. Namun, volatilitas yang diwaspadai audi pada saham seperti GOTO dan KPIG mengindikasikan adanya potensi manipulasi harga atau likuiditas yang mendadak menguap saat batas bawah ini diterapkan.
Tren net sell asing yang mencapai Rp77,52 triliun sepanjang 2026 menegaskan rotasi aset global yang menjauhi emerging markets. Kenaikan US Treasury ke 5,17% membuat obligasi AS lebih menarik dibandingkan saham berisiko tinggi. Investor domestik perlu bersiap bahwa tekanan jual ini bisa berlanjut jika data ekonomi AS terus menunjukkan ketahanan, sehingga posisi defensive stock atau portofolio tunai masih lebih rasional dibandingkan mengejar target harga teknikal jangka pendek.
Masa depan pasar kini tergantung pada dua variabel yang sulit dikendalikan: kebijakan moneter global dan respons psikologis pelaku pasar terhadap aturan baru BEI. Kemungkinan langkah selanjutnya adalah stabilisasi volatilitas melalui campur tangan market maker atau penyesuaian ulang strategi perdagangan algoritmik. Investor ritel disarankan untuk tidak terjebak pada rekomendasi target harga spekulatif, melainkan fokus pada manajemen risiko dan diversifikasi aset non-ekuitas.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BEI Catat 23 UKM Siap IPO di 2027 Setelah Ikuti Program Pendampingan

Rapat Koordinasi Kemenko Perekonomian Bahas Percepatan Implementasi Kredit Perempuan Prasejahtera dan Penurunan Bunga Pinjaman

BEI Resmi Keluarkan Saham HSC dari IHSG, Pasar Diprediksi Stabil Tanpa Gejolak
