Selasa, 3 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen, Awasi Lonjakan Harga Minyak Global

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen, Awasi Lonjakan Harga Minyak Global
BAGIKAN:

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memperingatkan bahwa penguatan dolar AS terhadap mata uang global masih menjadi tantangan berat bagi perekonomian domestik, dipicu oleh tren suku bunga tinggi The Federal Reserve dan inflasi global yang meroket.

Tekanan ini teramati sejak The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 3,75-4 persen. BI memperkirakan bank sentral AS tersebut akan kembali menaikkan suku bunga sekali lagi pada kuartal IV 2026. Situasi ini mendorong penguatan dolar ke mata uang kuat lainnya, dengan indeks DXY mencapai 101,11 dan indeks Asia 96,26.

"Belum lama ini The Fed juga menaikkan suku bunga 25 bps dan kami masih perkirakan satu kali lagi di kuartal IV. Ini mendorong penguatan pada dolar ke mata uang kuat lainnya, DXY capai 101,11, di Asia 96,26," ujar Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (28/9). Menurut Destry, kenaikan suku bunga global tersebut tidak terlepas dari inflasi dunia yang masih meningkat, tercatat 4,6 persen sehingga mendorong bank sentral di berbagai negara memperketat kebijakan moneternya.

Tekanan inflasi tersebut turut dipengaruhi kenaikan harga komoditas energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Destry mencatat harga minyak mentah pada 24 September 2026 melonjak drastis menjadi US$125,53 per barel, jauh di atas rata-rata Agustus 2026 yang hanya US$90,88 per barel. "Harga minyak yang terus meningkat di mana posisi 24 September mencapai US$125,53 per barel dan ini lebih tinggi dibanding rata-rata Agustus 2026 yang kisaran US$90,88 per barel," tegasnya.

Menyikapi fenomena higher for longer ini, BI memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen pada September 2026. Kebijakan moneter akan lebih berorientasi pada stabilitas, sementara instrumen lainnya diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. "Ini akan memengaruhi kinerja neraca pembayaran Indonesia, termasuk stabilisasi nilai tukar kami. Jadi kesimpulannya di global kita akan hadapi situasi atau fenomena higher for longer," ujar Destry.

Destry menjelaskan bahwa inflasi masih menjadi jangkar utama dalam menentukan arah kebijakan moneter. Saat ini, BI menilai kondisi inflasi masih terkendali dengan inflasi inti berada di sekitar 2 persen, sementara inflasi umum tercatat 3,19 persen. Penahanan suku bunga ini didasarkan pada assessment dan stress analysis dampak terhadap pertumbuhan ekonomi. "Kenapa BI tidak menaikkan suku bunga? Karena anchor kami adalah inflasi. Saat ini kami masih merasa nyaman dengan kondisi inflasi," paparnya.

Pengendalian inflasi yang masih dominan didorong komponen harga pangan bergejolak atau volatile food menuntut koordinasi lintas lembaga yang ketat. "BI tidak bisa sendirian. Ini mengapa ke depan koordinasi itu is a must," ujar Destry. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI juga akan memperkuat pengawasan lalu lintas devisa serta kecukupan likuiditas melalui operasi moneter repo untuk surat berharga non-SBN.

Operasi moneter melalui repo tersebut telah dipersiapkan dan akan dilakukan bersama PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) mulai Oktober 2026. Selain itu, BI akan memperkuat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing, termasuk mendorong diversifikasi penggunaan mata uang dalam transaksi internasional. "Kita perlu melakukan diversifikasi dari mata uang valas lainnya dalam rangka mendukung kegiatan ekspor ataupun investasi Indonesia," ucapnya.

Menurut Destry, transaksi menggunakan Local Currency Transaction (LCT) terus menunjukkan pertumbuhan. Namun, peningkatan volume tersebut masih perlu diikuti dengan penguatan likuiditas mata uang terkait di pasar uang dan valuta asing. Langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.

Analisis Redaksi

Pilihan BI untuk menahan BI Rate di 5,75 persen di tengah sentimen hawkish The Fed merupakan taruhannya besar. Strategi ini mengasumsikan tekanan inflasi lokal masih didorong oleh faktor pasokan (volatile food dan energi), bukan permintaan domestik yang overheat. Dengan memotong asumsi kenaikan bunga lanjutan, BI memberikan ruang napas bagi sektor riil untuk tetap tumbuh, meskipun dengan risiko volatilitas nilai tukar yang lebih tinggi di pasar moneter.

Langkah penguatan operasi moneter repo non-SBN dengan SMF dan ekspansi LCT mengindikasikan bahwa BI sedang merelokasi instrumen pasar uang untuk mengelola likuiditas devisa secara lebih efisien. Ini bukan sekadar langkah teknis, melainkan strategi defensif untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar spot tanpa harus bergantung sepenuhnya pada intervensi langsung di pasar valas yang dapat menguras cadangan devisa negara.

Kekuatan fundamental dalam memitigasi risiko "higher for longer" terletak pada koordinasi fiskal-moneter yang solid. Jika harga energi global tetap melampaui rata-rata 40 persen seperti tren saat ini, tekanan terhadap neraca pembayaran akan menguji ketahanan rupiah secara lebih dalam. Keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada efektivitas koordinasi lintas lembaga dalam menekan harga pangan bergejolak, yang saat ini menjadi determinan utama arah inflasi umum di 3,19 persen.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ