Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

BEI Bantah Aturan Harga Saham Rp1 Jadi Pemicu Anjloknya IHSG 1,51 Persen

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

BEI Bantah Aturan Harga Saham Rp1 Jadi Pemicu Anjloknya IHSG 1,51 Persen
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa penghapusan batas harga minimum Rp50 tidak memberikan tekanan berarti terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.
  • Respons pasar saat kebijakan baru ini diberlakukan justru terpantau positif, dan seluruh proses perdagangan berjalan dengan mekanisme normal tanpa gangguan teknis yang signifikan.
  • Jeffrey Hendrik menjelaskan secara detail bahwa bobot saham-saham yang sebelumnya tertahan di harga Rp50 memiliki pengaruh yang relatif kecil terhadap struktur IHSG.

Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi membantah klaim bahwa penerapan batas harga terendah saham menjadi Rp1 di pasar reguler dan pasar tunai menjadi penyebab merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (28/9). Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa penghapusan batas harga minimum Rp50 tidak memberikan tekanan berarti terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan. Respons pasar saat kebijakan baru ini diberlakukan justru terpantau positif, dan seluruh proses perdagangan berjalan dengan mekanisme normal tanpa gangguan teknis yang signifikan.

Jeffrey Hendrik menjelaskan secara detail bahwa bobot saham-saham yang sebelumnya tertahan di harga Rp50 memiliki pengaruh yang relatif kecil terhadap struktur IHSG. "Tentu bobot dari saham-saham yang sudah lama di harga Rp50 itu bobotnya terhadap IHSG juga tidak besar, ya. Jadi tidak semata-mata karena faktor penurunan di bawah harga Rp50 yang memberikan pressure kepada IHSG," ujar Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta Selatan, pada awal pekan ini. Pernyataan ini merujuk pada data bahwa pergerakan indeks lebih banyak didorong oleh faktor makro dan sentimen global lainnya, bukan semata-mata oleh koreksi harga saham gorengan.

Menurut Jeffrey, pergerakan saham-saham yang sebelumnya tertahan di level Rp50 merupakan bagian dari fase penyesuaian nilai wajar atau fair value. Banyak dari emiten tersebut telah "tidur" atau tidak bertransaksi selama bertahun-tahun, sehingga saat ini mereka tengah mencari titik keseimbangan harga baru melalui mekanisme auto rejection. "Artinya memang kesepakatan dari pelaku, dari investor, mungkin memang fair value-nya tidak di Rp50. Dan saat ini sedang mencari fair value-nya. Tentu membutuhkan waktu karena ada proses auto rejection di situ sampai nanti menemukan titik fair value-nya," tuturnya. Proses ini menandai transisi dari harga nominal yang telah usang menuju harga riil yang dicerminkan oleh mekanisme pasar.

Berdasarkan data resmi BEI per pukul 14.30 WIB, tercatat sebanyak 69 saham yang diperdagangkan di bawah level Rp50 di pasar reguler pada hari tersebut. Angka ini merupakan hasil gabungan dari sekitar 20 saham lama yang masih bertahan di harga Rp50 serta saham-saham dari papan pemantauan khusus yang mulai bertransaksi di bawah ambang batas itu. "Sekitar 14.30 (WIB) saya ter-update bahwa ada 69 saham yang diperdagangkan di bawah Rp50 di pasar reguler. Ada 20-an (saham), tetapi digabung dengan yang tadi dari papan pemantauan khusus yang bertransaksi di bawah Rp50 tadi siang ada 69 saham," pungkas Jeffrey. Jumlah ini menunjukkan bahwa koreksi harga masih terbatas pada segmen saham berkapitalisasi pasar kecil yang berisiko tinggi.

Di sisi lain, IHSG ditutup melemah di level 6.147 pada perdagangan Senin (28/9) sore. Indeks ini turun 94,03 poin atau setara dengan minus 1,51 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Mengutip data RTI Infokom, investor melakukan transaksi sebesar Rp12,56 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 37,24 miliar lembar. Pada penutupan kali ini, terdapat 180 saham yang menguat, 532 saham terkoreksi, dan 81 saham stagnan. Perbandingan jumlah saham yang turun jauh lebih besar daripada yang naik menunjukkan dominasi sentimen negatif yang tersebar luas di pasar, bukan hanya terkonsentrasi di saham-saham yang baru dikecualikan dari batas harga minimum.

Analisis Redaksi

Pernyataan tegas dari manajemen BEI ini penting untuk meluruskan narasi publik yang sering kali mengaitkan regulasi mikro dengan pergerakan makro secara langsung. Fakta bahwa hanya 69 saham yang jatuh ke harga di bawah Rp50 menegaskan bahwa koreksi IHSG sebesar 1,51 persen hari ini bukanlah anomali sistemik akibat perubahan aturan, melainkan lebih merupakan refleksi dari tekanan jual di pasar secara umum. Jika aturan harga Rp1 memang menjadi penentu utama anjloknya indeks, kita akan melihat dampak yang jauh lebih masif pada saham berkapitalisasi besar, yang nyatanya tidak terjadi. Pemisahan ini krusial agar investor ritel tidak salah kaprah dalam membaca arah pasar.

Dari sisi ke depan, fase pencarian fair value ini mungkin akan berlanjut dengan volatilitas harga yang tinggi di papan pemantauan khusus. Investor perlu waspada bahwa saham-saham yang "tertidur" bertahun-tahun kini menjadi objek spekulasi ulang, di mana harga bisa naik-turun drastis dalam hitungan detik melalui mekanisme auto rejection. Bagi investor jangka panjang, ini adalah momentum untuk memisahkan sinyal harga riil dari harga nominal usang. Waspadalah terhadap risiko di papan pemantauan khusus karena likuiditasnya tetap terbatas dibandingkan pasar reguler utama. Pengawasan terhadap 69 saham tersebut harus ketat agar tidak menjadi instrumen manipulasi harga yang baru di tengah koreksi IHSG yang sedang berlangsung.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ