Scaloni Resmi Tunjuk Cristian Romero Jadi Kapten Argentina Pasca-Pensiunnya Messi
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Cristian Romero resmi mengemas ban kapten tim nasional Argentina, sebuah mandat baru yang diberikan oleh pelatih Lionel Scaloni menyusul keputusan Lionel Messi untuk gantung sepatu dari kompetisi internasional. Pengumuman ini menegaskan transisi kepemimpinan di lini serang dan pertahanan La Albiceleste yang kini dipuntir ke pundak bek berusia 28 tahun tersebut. Keputusan tersebut dikonfirmasi langsung oleh Scaloni, yang menyebut Romero sebagai penerus peran pemimpin lapangan setelah era Messi berakhir.
"Kaptennya adalah Cuti (Cristian Romero). Dia sudah menjadi kapten ketiga setelah Leo dan Ota (Nicolas Otamendi)," ujar Scaloni, sebagaimana dilansir Tribuna pada Jumat (25/9) waktu Argentina. Dalam pernyataan tersebut, Scaloni mengakui adanya alternatif di skuad, seperti Emiliano Martinez atau Rodrigo De Paul yang absen dalam dua laga mendatang, namun tetap memilih Romero sebagai figur utama. Bagi publik sepak bola, pergantian ini bukan sekadar simbolis, melainkan penunjukan struktural dari manajer tim yang menginginkan kesatuan taktis di lapangan.
Sebelum menjadi kapten reguler, Romero telah beberapa kali mengenakan ban kapten. Kesempatan pertamanya hadir saat Argentina meraih kemenangan 1-0 atas Chile dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2025. Bek Atletico Madrid itu kemudian dipercaya memimpin tim ketika menghadapi Venezuela dalam laga persahabatan pada Oktober 2025, serta saat timnas menang atas Mauritania. Rekam jejak ini memberikan dasar kuat bagi Scaloni untuk mempercayakan peran tersebut secara permanen, bukan sekadar darurat saat ketiadaan Messi atau Otamendi.
Untuk periode kalender internasional September-Oktober ini, Argentina dijadwalkan menghadapi serangkaian uji coba melawan Bolivia, Burkina Faso, dan Benin. Jadwal padat ini menjadi panggung awal bagi Romero untuk membiasakan diri dengan tanggung jawab kepemimpinan penuh. Tanggung jawab ini mencakup manajemen pemain, komunikasi dengan wasit, dan menjadi jembatan emosional di tengah tekanan atmosfer stadion. Pengalaman Romero di level klub Eropa menjadi modal penting yang kini diproyeksikan ke panggung internasional.
Pilihan Scaloni ini merupakan penegasan kepercayaan penuh terhadap Romero di sektor pertahanan. Namun, terdapat catatan teknis: status Romero sebagai kapten tetap bergantung pada keberadaan Scaloni di kursi pelatih. Jika Scaloni memutuskan untuk tidak menangani Argentina, mandat kepemimpinan ini bisa saja berubah atau direvisi. Dinamika ini menunjukkan bahwa kepemimpinan di timnas Argentina sangat terikat pada visi pelatih, di mana Romero adalah instrumen utama dari strategi Scaloni saat ini.
Analisis Redaksi
Pemindahan peran kapten dari Lionel Messi, ikon abadi sepak bola dunia, ke Cristian Romero menandai babak baru yang krusial bagi Argentina. Ini bukan sekadar pergantian nama di ban lengan, melainkan perubahan paradigma kepemimpinan lapangan. Messi memimpin dengan karisma dan visi instan, sementara Romero diharapkan memimpin melalui disiplin struktural dan keteguhan mental. Tantangan utamanya adalah menjaga semangat kolektif La Albiceleste tanpa figur sentral yang selama 20 tahun terakhir menjadi pengikat emosional bagi seluruh skuad.
Secara logis, Scaloni telah menyiapkan transisi ini dengan memberikan kesempatan kepada Romero berulang kali, termasuk dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2025 dan uji coba terhadap Venezuela serta Mauritania. Langkah ini menunjukkan rencana matang, bukan keputusan dadakan. Yang perlu diwaspadai publik adalah konsistensi performa Romero saat memimpin di bawah tekanan tinggi. Apakah ia mampu menenangkan tim saat skor belum aman? Kemampuan ini akan diuji dalam laga-laga persahabatan melawan Bolivia, Burkina Faso, dan Benin dalam waktu dekat.
Keberlanjutan posisi ini juga terikat pada masa depan karier Scaloni. Jika pelatih tersebut mengundurkan diri, arsitektur kepemimpinan yang dibangun saat ini berisiko terbuka kembali untuk negosiasi atau perubahan. Untuk saat ini, Romero adalah pilihan paling rasional yang tersedia. Publik sepak bola Indonesia dapat menarik benang merah dari sini: transisi kepemimpinan besar di timnas mana pun membutuhkan waktu bagi figur baru untuk menemukan suara dan otoritasnya sendiri. Romero sedang dalam fase pembuktian itu.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Janice Tjen Diproyeksi Ulangi Kejayaan sebagai Unggulan Pertama Chennai Open 2026

Jokowi dan Shin Tae Yong Saksi Ijab Bahagia Pernikahan Asnawi & Yuriska

Toraja Academy Turunkan 100 Atlet untuk Tembus Prestasi di CNN Indonesia Taekwondo Championship
