Komdigi Sambut Hari Bhakti Postel ke-81 di Bandung, Peringati Pengambilalihan Jawatan PTT 1945

Teknologi
Fitriani NingsihFitriani Ningsih
Sumber: CNN Nasional
Fitriani Ningsih
Fitriani Ningsih
Jurnalis Siber

Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Komdigi Sambut Hari Bhakti Postel ke-81 di Bandung, Peringati Pengambilalihan Jawatan PTT 1945
BAGIKAN:

Peringatan Hari Bhakti Pos dan Telekomunikasi (Postel) ke-81 tahun 2026 dijadwalkan digelar pada Minggu (27/9), dipusatkan di Kantor Pusat PT Pos Indonesia di Kota Bandung, Jawa Barat. Acara ini menjadi momen krusial bagi Kementerian Komunikasi Digital untuk memetakan arah sektor komunikasi nasional di tengah dinamika teknologi yang cepat.

Kegiatan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diisi dengan berbagai agenda substantif, mulai dari pemberian tali asih untuk veteran pos dan telekomunikasi hingga penyerahan penghargaan kepada industri dan asosiasi terkait. Rangkaian acara ini menegaskan kembali komitmen negara terhadap para pelaku sejarah dan penggerak industri masa kini.

Pilihan tanggal 27 September memiliki akar sejarah yang kuat, merujuk pada peristiwa tahun 1945 ketika Angkatan Muda PTT (Post, Telegraph dan Telephone) mengambil alih Jawatan PPT dari militer Jepang di Bandung. Pengambilalihan ini terjadi karena lebih dari sebulan setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, jawatan strategis tersebut belum juga diserahkan oleh Jepang. Saat itu, peran pos, telekomunikasi, dan telegraf sangat vital bagi negara.

Gedung Kantor Pusat PT Pos Indonesia di Bandung inilah yang menjadi saksi bisu peristiwa perjuangan bangsa tersebut. Di sinilah Angkatan Muda PTT merebut kendali atas infrastruktur komunikasi yang pada dasarnya menjadi urat nadi pertahanan dan administrasi negara baru. Peristiwa itulah yang kemudian diabadikan sebagai sejarah Hari Bhakti Postel, menghubungkan masa lalu revolusioner dengan masa kini.

Menggandeng tema 'T3' yakni Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga, Kementerian Komunikasi Digital menyatakan peringatan ini menjadi ruang untuk melihat adaptasi sektor komunikasi Indonesia. Unsur 'Terhubung' merujuk pada upaya memperkokoh konektivitas dan relasi antarpemangku kepentingan, sementara 'Tumbuh' menggambarkan semangat inovasi demi sumbangsih nyata bagi pembangunan. Adapun 'Terjaga' menitikberatkan pada perawatan keberlangsungan ekosistem digital, mencakup aspek kesehatan, mutu kehidupan, dan hubungan antarsesama manusia di era digital.

"Peringatan Hari Bhakti Postel tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang sejarah perjuangan insan pos dan telekomunikasi, tetapi juga menjadi ruang untuk melihat perkembangan sektor komunikasi Indonesia yang terus beradaptasi dengan kemajuan teknologi," demikian keterangan tertulis Komdigi. Ketiga unsur dalam tema tersebut membentuk satu kesatuan yang tak terpisahkan, di mana konektivitas menjadi fondasi bagi pertumbuhan dan menjamin keberlangsungan ekosistem komunikasi di Tanah Air.

Analisis Redaksi

Tema 'T3' yang diusung Komdigi bukan sekadar retorika, melainkan respons strategis terhadap pergeseran peran pos dan telekomunikasi dari sekadar layanan utilitas menjadi infrastruktur sosial-ekonomi yang sensitif. Dengan menekankan aspek 'Terjaga', pemerintah secara implisit mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi pada ketersediaan infrastruktur, melainkan pada ketahanan ekosistem digital dari sisi sosial dan regulasi. Wartawan senior melihat ini sebagai upaya mengkalibrasi ulang fokus industri dari kuantitas jaringan ke kualitas interaksi manusia di dalamnya.

Secara strategis, penyelenggaraan acara di Bandung memiliki pesan simbolik yang kuat. Mengaitkan hari bhakti dengan sejarah pengambilalihan PTT 1945 di kota yang sama mengingatkan publik bahwa kedaulatan teknologi selalu berakar pada kedaulatan politik dan perjuangan rakyat. Bagi industri, ini adalah pengingat bahwa pengembangan konektivitas harus tetap berpihak pada kepentingan negara dan masyarakat, bukan hanya dinamisasi modal asing.

Ke depan, implementasi tema 'Tumbuh' dan 'Terjaga' akan menjadi batu uji nyata. Masyarakat dan pengawas perlu mewaspadai apakah komitmen 'menjaga' ekosistem digital ini akan diwujudkan dalam regulasi yang melindungi data dan privasi warga, atau tetap sebatas slogan. Kolaborasi antar-pemangku kepentingan yang disebut dalam unsur 'Terhubung' harus diwujudkan dalam kebijakan konkret yang mengurangi kesenjangan digital, bukan hanya mempercepat jaringan di kota-kota besar.

Meow! Tanya Nesi!
😸