Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Memes & Reza Artamevia Ungkap Duka Mendalam di Sang Maestro

SelebritiNadia PutriNadia PutriSumber: CNN Selebriti
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Memes & Reza Artamevia Ungkap Duka Mendalam di Sang Maestro
BAGIKAN:

Kabar duka menyelimuti dunia seni dan politik Indonesia setelah Guruh Soekarnoputra mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu, 26 September 2024. Sang maestro, budayawan, dan komposer ini berpulang di usia 73 tahun. Berita tersebut dikonfirmasi langsung oleh politisi PDI Perjuangan, Cyril Raoul Hakim yang menyebut,"Benar (beliau meninggal)," saat dihubungi CNN Indonesia.

Peristiwa ini memicu gelombang belasungkawa dari berbagai kalangan, khususnya para seniman yang pernah berinteraksi langsung dengan almarhum. Penyanyi Memes menjadi salah satu yang paling terdampak secara emosional. Melalui akun Instagram pribadinya, dia mengenang masa-masa awal berkarya saat bergabung di Swara Maharddhika angkatan ke-9 saat usianya baru 15 tahun.

"Selamat jalan Mas Ruh... istirahat dengan damai seperti lagu Damai yang dirimu ciptakan," tulis Memes dalam unggahannya. Bagi Memes, Guruh bukan sekadar mentor seni, tetapi sosok disiplin yang mengajarkan kedalaman budaya, musik, dan tari Indonesia. Kenangan serupa juga diunggah oleh Reza Artamevia yang mengingat kehadiran Guruh di momen pernikahannya dulu.

Warisan musikal Guruh terus hidup melalui karya-karya legendaris seperti *Galih dan Ratna*, *Kala Sang Surya Tenggelam*, *Melati Suci*, *Zamrud Khatulistiwa*, *Lenggang Puspita*, serta *Mahadaya Cinta*. Reza Artamevia menegaskan bahwa warisan ini tidak akan lekang oleh waktu. "Suatu kebanggaan dan kenangan yang sangat berharga bagi kami semua yang pernah menjadi bagian kecil dari sejarah panjang kehidupan yang indah nan berwarna dari 'Sang Maestro'," tulis Reza. Musisi Melly Goeslaw dan presenter Raffi Ahmad turut membanjiri media sosial dengan doa serta apresiasi atas dedikasi almarhum bagi bangsa.

Di balik panggung hiburan, Guruh memiliki jejak politik yang panjang. Ia bergabung dengan PDI pada 1982 dan berlanjut ke PDIP pada 1999 hingga saat ini. Guruh sempat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat untuk masa jabatan 1999-2024 dari daerah pemilihan Jawa Timur. Lahir pada 13 Januari 1953, ia adalah anak bungsu Presiden Soekarno dari pernikahan dengan Fatmawati, sekaligus adik dari Presiden Megawati Soekarnoputri.

Riwayat pendidikannya sangat unik, mencerminkan perpaduan seni dan akademik yang ia tekuni. Guruh pernah menempuh pendidikan di Perguruan Cikini dan SMA Negeri 25 Jakarta. Ia melanjutkan studi di University of Amsterdam jurusan Arkeologi selama tiga tahun hingga 1974. Kemudian, ia meraih gelar Sarjana Administrasi Publik dari STIAMI pada 2005-2008, dan gelar Magister Manajemen Konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia pada 2010.

Guruh mendirikan beberapa grup kesenian dan musik, mulai dari Swara Mahardika, GSP Production, hingga Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan bersama Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye. Kehidupannya juga menyentuh ranah personal yang kompleks, seperti pernikahannya dengan perempuan asal Uzbekistan, Guseynova Sabina Padmavati, pada 2002 yang berakhir dengan perceraian pada 2009.

Analisis Redaksi

Kepergian Guruh Soekarnoputra menandai akhir dari sebuah era di mana seni dan politik Indonesia masih memiliki figur yang mampu menjembatani kedua dunia tersebut dengan gaya khas anak Soekarno. Dalam 20 tahun pengamatan, kita jarang melihat seorang seniman yang juga aktif di legislatif dengan durasi panjang seperti Guruh, yakni dari era reformasi hingga 2024. Ini menunjukkan bahwa bagi Guruh, seni dan politik adalah satu kesatuan ekspresi identitas nasional.

Dampak dari wafatnya figur ini akan terasa pada hilangnya satu referensi penting bagi generasi seniman muda yang belajar dari keadilan sosial di balik karya seni. Tanpa Guruh, ekosistem Swara Maharddhika dan GSP Production kehilangan punggungnya, padahal kedua lembaga ini adalah basis pembinaan talenta yang masif di Indonesia. Warisan musiknya mungkin abadi, namun proses pendidikannya kini harus ditopang oleh mekanismenya yang tersisa tanpa pendiri.

Langkah ke depan, institusi seni dan PDIP sebagai partai asal figur ini perlu segera menetapkan mekanisme suksesi kepemimpinan organisasi kesenian yang ia dirikan agar tidak terjadi vakum. Publik juga perlu melihat ini bukan hanya sebagai duka personal, tetapi sebagai momentum untuk merefleksikan peran budaya dalam ruang publik Indonesia pasca-kemerdekaan, di mana figur seperti Guruh adalah jembatan ideologis antara masa lalu dan masa kini.

Meow! Tanya Nesi!
😸