⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Guruh Soekarnoputra, Anak Bung Karno yang Jadi Legenda Musik dan Politisi, Wafat di Usia 73

SelebritiNadia PutriNadia PutriSumber: CNN Selebriti
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Guruh Soekarnoputra, Anak Bung Karno yang Jadi Legenda Musik dan Politisi, Wafat di Usia 73
BAGIKAN:

Satu ikon kanvas seni dan panggung musik Indonesia, Guruh Soekarnoputra, menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (26/9). Pria yang akrab disapa Guruh ini meninggal dunia dalam usia 73 tahun setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta. Berita duka ini pertama kali diumumkan oleh Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, melalui keterangan tertulis resmi. "Inna lilahi wa inna ilaihi raji'un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu. Telah berpulang ke Rahmatullah Almarhum Bapak MOHAMMAD GURUH IRIANTO SUKARNOPUTRA BIN SUKARNO pada usia 73 tahun," kata Hasto.

Garuh bukan sekadar seniman; ia adalah putra bungsu Presiden pertama RI, Soekarno, dari pernikahan dengan Fatmawati. Lahir pada 13 Januari 1953, Guruh menempuh perjalanan pendidikan yang unik. Ia menghabiskan masa remajanya di Perguruan Cikini, melanjutkan ke SMA Negeri 25 Jakarta, dan kemudian terbang ke Belanda untuk mempelajari Arkeologi di University of Amsterdam hingga 1974. Karir akademiknya tidak berhenti di situ; pada 2005-2008, ia meraih gelar Sarjana Administrasi Publik dari STIAMI, dan tiga tahun kemudian, pada 2010, menyandang gelar Magister Manajemen Konsentrasi Manajemen SDM.

Warisan seni Guruh sama besar dengan silsilahnya. Sejak muda, ia mendedikasikan hidupnya pada musik dan tari, mendirikan grup kesenian Swara Mahardika dan GSP Production. Bersama musikus legendaris seperti Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye, ia membentuk Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan. Dari era itu, lahir lagu-lagu yang kini menjadi milik sejarah musik nasional, seperti Kala Sang Surya Tenggelam, Melati Suci, Zamrud Khatulistiwa, Lenggang Puspita, Mahadaya Cinta, dan Galih dan Ratna. Koleksi nada dan syair ini membuktikan kedalaman artistik seorang anak presiden yang memilih jalur kreatif.

Di arena politik, Guruh memegang kendali selama puluhan tahun. Ia bergabung dengan PDI sejak 1982 dan berlanjutan ke PDIP sejak 1999 hingga akhir hayatnya. Kesetiaannya pada partai ini membawanya ke kursi legislator. Ia menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari daerah pemilihan Jawa Timur selama masa jabatan 1999-2024. Karir politiknya yang panjang menunjukkan bagaimana seni dan negara seringkali saling bertaut dalam hidup seorang Soekarnoputra. Kehidupannya pribadi juga mencatat percakapan singkat; ia menikah dengan Guseynova Sabina Padmavati asal Uzbekistan pada 2002, namun mereka bercerai pada 2009.

Kematian Guruh menyisakan kekosongan di dua meja: panggung hiburan dan ruang sidang DPR. Sebagai salah satu penyanyi senior terakhir dari generasi transisi era Orde Baru ke Reformasi, kepergiannya menandai berakhirnya satu bab dari sejarah musik pop Indonesia. Sederhana dalam gaya, namun mendalam dalam pengaruh, Guruh meninggalkan lebih dari lirik; ia meninggalkan jembatan antara dinamisme politik keluarga Soekarno dan eksistensi seni modern Indonesia.

Analisis Redaksi

Kepergian Guruh Soekarnoputra bukan hanya kehilangan bagi industri musik, tetapi juga simbolisme politik. Ia mewakili generasi anak-anak Soekarno yang mencoba menyeimbangkan warisan revolusioner dengan profesi sipil, dalam hal ini, seni dan administrasi publik. Kehadirannya di DPR selama 25 tahun menandakan bahwa pengaruh simbolik keluarga Soekarno masih menjadi modal politik yang valid bagi PDIP. Namun, dengan matinya figur-figur karismatik seperti Guruh, partai harus mulai menggenjot mesin kaderisasi berbasis kompetensi, bukan sekadar warisan darah.

Secara kultural, hilangnya Guruh berarti memutus rantai nostalgia kolektif tentang era kejayaan musik Indonesia yang lebih organik dan ideologis. Lagu-lagu seperti Zamrud Khatulistiwa bukan sekadar hiburan, melainkan medium propaganda lunak identitas nasional yang kuat. Dunia hiburan kini harus mengisi vacuum kekosongan tersebut dengan figur-fuger yang memiliki bobot substansi, bukan hanya popularitas algoritma.

Langkah selanjutnya secara logis, institusi seni dan PDIP harus segera mengonsolidasikan memori kolektif tentang Guruh melalui arsip, pameran, atau pementasan ulang karya-karyanya. Tanpa upaya ini, warisan artistik dan politiknya akan perlahan tergerus oleh lupa masa, menyisakan hanya nama yang melekat pada silsilah, bukan pada karya.

Meow! Tanya Nesi!
😸