Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

FIFA Sinyal 'Ketagihan' Gelar ASEAN Cup, Tatap Proyek 4 Tahun

OlahragaDimas PratamaDimas PratamaSumber: CNN Olahraga
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

FIFA Sinyal 'Ketagihan' Gelar ASEAN Cup, Tatap Proyek 4 Tahun
BAGIKAN:

Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstörm, secara terbuka mengisyaratkan ketertarikan kuat badan sepak bola dunia untuk memperpanjang siklus turnamen FIFA ASEAN Cup. Pernyataan itu dilontarkan saat ia menghadiri seremoni pembukaan edisi perdana pada Jumat (25/9) malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, sekaligus menyaksikan laga pembuka antara Timnas Indonesia dan Singapura.

Dalam pidatonya, Mattias tidak hanya memastikan fokus penuh pada kesuksesan edisi perdana ini, tetapi juga melontarkan visi jangka panjang. "Saya percaya semoga acara ini sukses dan kami menatap ajang potensial serupa untuk edisi berikutnya dalam kurun empat tahun mendatang," ujarnya. Ia mengakui bahwa realisasi rencana ini memerlukan sinergi waktu yang tepat antara FIFA, Asosiasi Sepak Bola Kontinental (AFC), serta asosiasi anggota di Asia Tenggara.

Pengakuan tersebut menjadi sinyal penting bahwa FIFA memandang pasar Asia Tenggara sebagai ladang ekspansi strategis baru. Mewakili Presiden FIFA Gianni Infantino, Mattias menyampaikan apresiasi tinggi terhadap upaya Indonesia menjadi tuan rumah. "Kami sangat antusias berada di sini untuk menyaksikan momen bersejarah ini. Ini adalah FIFA ASEAN Cup pertama dan saya sangat senang bisa berada di sini bersama teman baik saya, Erick Thohir," katanya, seraya menyebut penyelenggaraan ini sebagai legitimasi kehadiran FIFA di wilayah tersebut.

Kehadiran elite global ini bukan tanpa alasan. Momen ini turut dimantapkan oleh rencana strategis PSSI. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengungkapkan bahwa pertandingan penutupan pada 5 Oktober mendatang akan menjadi panggung diplomasi olahraga berskala tinggi. "Rencana Presiden [FIFA] Gianni [Infantino] akan bertemu bapak Presiden RI, Prabowo Subianto tanggal 4 [Oktober] dan tanggal 5 [Oktober] akan menonton pertandingan di sini," jelas Erick. Selain dua kepala negara itu, PSSI juga telah mengundang para pemimpin negara peserta dari kawasan Asia Tenggara dan Asia lainnya.

Skala undangan ini menandakan bahwa turnamen ini telah melampaui sekadar kompetisi sepak bola, menjelma menjadi instrumen soft power negara tuan rumah. Bagi Erick Thohir dan PSSI, kehadiran para pemimpin negara pada final adalah bukti nyata bahwa sepak bola di kawasan ini kini berada di bawah radar perhatian tertinggi dunia internasional.

Analisis Redaksi

Penyampaian rencana "proyek 4 tahun" oleh Sekjen FIFA bukan sekadar basa-basi diplomatik, melainkan indikasi nyata bahwa FIFA sedang mencari model bisnis baru pasca-putusnya dominasi pasar Eropa dan Amerika Utara. Asia Tenggara, dengan basis penggemar yang masif dan antusiasme penonton yang terbukti di SUGBK, menjadi magnet yang sulit diabaikan. Siklus empat tahun kemungkinan besar dipilih untuk menyelaraskan kalendar dengan turnamen besar lain, menghindari kelelahan kompetisi pemain, sekaligus memberi ruang bagi pembinaan jangka panjang di tingkat asosiasi.

Perlu diwaspadai bahwa rencana pertemuan Presiden FIFA Gianni Infantino dengan Presiden Prabowo Subianto pada 4 Oktober adalah langkah diplomasi yang sangat krusial. Ini bukan hanya tentang menonton sepak bola, tetapi juga upaya FIFA menjaga eksistensi dan relevansinya di mata elite politik global. Bagi Indonesia, ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan kapabilitas infrastruktur dan keamanan kelas dunia. Keberhasilan edisi perdana ini akan menjadi penentu apakah janji "projek 4 tahun" tersebut akan terwujud menjadi agenda tetap FIFA atau sekadar wacana yang hilang di tengah padatnya kalender sepak bola internasional.

Meow! Tanya Nesi!
😸