Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Yield Treasury AS 30 Tahun Tembus 5,48%, Level Tertinggi Sejak 2004

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Yield Treasury AS 30 Tahun Tembus 5,48%, Level Tertinggi Sejak 2004
BAGIKAN:

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 30 tahun menembus angka 5,48 persen pada Kamis (24/9), mencatatkan level tertinggi dalam 22 tahun terakhir sejak 2004. Lonjakan ini memperpanjang aksi jual di pasar obligasi global, didorong oleh kekhawatiran inflasi yang tetap tinggi akibat kenaikan biaya energi, pertumbuhan ekonomi AS yang masih tangguh, serta peningkatan belanja pemerintah.

Data dari Reuters menunjukkan bahwa yield Treasury AS tenor 10 tahun juga naik signifikan mencapai 5,20 persen. Kenaikan imbal hasil secara teknis menandakan penurunan harga obligasi itu sendiri. Tekanan di pasar surat utang AS menjadi sorotan utama karena Treasury merupakan pasar surat utang pemerintah terbesar dan paling berpengaruh di dunia, sehingga setiap guncangan di sana cepat merambat ke aset berisiko lainnya.

Investor kini mulai mencermati level psikologis 6 persen untuk obligasi AS 10 tahun sebagai potensi ambang tekanan baru bagi pasar keuangan dan korporasi AS. Imbal hasil tersebut telah menembus angka 5 persen bulan ini, sebuah level yang dalam beberapa dekade terakhir hanya sempat dicapai dalam waktu singkat. Suku bunga hipotek AS tenor 30 tahun ikut terdampak, kini berada di kisaran 7 persen atau sekitar 1 poin persentase lebih tinggi dibandingkan sebelum perang Iran, sekaligus menjadi level tertinggi dalam dua tahun.

Kepala Strategi Suku Bunga AS di TD Securities, Gennadiy Goldberg, menjelaskan dalam catatan risetnya bahwa kenaikan besar yield sejak Maret sebagian besar didorong oleh meningkatnya ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Sisanya, menurut dia, berasal dari kombinasi ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan kenaikan harga minyak. Data aktivitas bisnis terbaru memang mengonfirmasi bahwa pertumbuhan ekonomi AS masih kuat, yang turut memperbesar peluang Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga acuan.

Berbeda dengan obligasi tenor pendek yang lebih banyak mencerminkan ekspektasi suku bunga jangka pendek, obligasi AS tenor 30 tahun merefleksikan kesediaan investor untuk membiayai kebutuhan utang pemerintah dalam jangka panjang. "Anda melihat penyesuaian harga atas beberapa hal - pertumbuhan ekonomi AS tetap tangguh, dan itu menjadi alasan yang lebih positif mengapa kita berada dalam lingkungan tingkat bebas risiko yang lebih tinggi," kata Zachary Griffiths, Kepala Strategi Investasi dan Makro di CreditSights.

Analisis Redaksi

Tekanan di pasar obligasi tidak lagi bersifat isolasi regional. Negara-negara dengan perekonomian terbesar dunia serentak menghadapi kenaikan biaya pembayaran bunga ketika kebutuhan belanja pemerintah meningkat. Badan Keuangan Jerman, misalnya, memperkirakan pinjaman pemerintah federal akan mencapai rekor 525,5 miliar euro (sekitar US$598 miliar) pada 2026, sementara imbal hasil obligasi Jerman tenor 10 tahun sempat menembus 3,6 persen—level tertinggi dalam 17 tahun. Di Jepang, bunga obligasi pemerintah tenor 10 tahun juga menyentuh level tertinggi sejak 1996. Fenomena ini menegaskan bahwa era uang murah benar-benar berakhir, dan biaya modal global sedang direstrukturisasi ulang.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah mengambil langkah defensif, termasuk intervensi membeli yen untuk mencegah pejabat Jepang menjual Treasury AS, serta mempertimbangkan perluasan pembelian kembali surat utang tenor 20 dan 30 tahun. Namun, upaya tersebut belum mampu membendung laju kenaikan yield. Dengan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengakui adanya "ketangguhan luar biasa" pada ekonomi AS, pertanyaan krusial sekarang bukan apakah resesi akan datang segera, melainkan seberapa tinggi yield harus naik untuk akhirnya mendinginkan permintaan kredit konsumen dan investasi bisnis secara efektif. Hank Calenti dari SMBC EMEA menyimpulkan inti dilema ini: Treasury bersaing dengan pasar lain untuk dibeli, dan batas atas harganya masih belum terlihat jelas.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸