Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Turki Bantah Tuduhan Netanyahu: Podium PBB Tidak Bisa Hapus Fakta Pembantaian Gaza

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Turki Bantah Tuduhan Netanyahu: Podium PBB Tidak Bisa Hapus Fakta Pembantaian Gaza
BAGIKAN:

Direktur Komunikasi Kepresidenan Turki, Burhanettin Duran, mengutuk keras pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai “tuduhan tanpa dasar.” Respons tegas ini dilontarkan melalui kantor berita Anadolu Agency pada Jumat (25/9), menegaskan bahwa penggunaan podium PBB untuk menyerang Ankara dan Presiden Recep Tayyip Erdogan justru mencederai prinsip dasar organisasi tersebut.

Duran menjelaskan bahwa retorika Netanyahu tidak sejalan dengan cita-cita perdamaian, hukum, dan dialog yang diembuskan PBB. Dalam pernyataan resminya, ia menekankan bahwa kata-kata Netanyahu tidak mampu menghapuskan fakta tentang pembantaian di Gaza, bencana kemanusiaan yang sedang berlangsung, serta proses hukum yang tengah berjalan berdasarkan hukum internasional. Penolakan ini bukan sekadar diplomasi verbal, melainkan penegasan posisi hukum dan moral Turki terhadap agresivitas Israel yang telah berlangsung sejak Oktober 2023.

Ketegangan ini bermula dari pidato Netanyahu di Sidang Umum PBB pada Kamis (24/9), di mana ia menyebut Erdogan sebagai “diktator” dan menuduh Turki menampung para pemimpin kelompok militan Hamas, penguasa Jalur Gaza. Netanyahu bahkan melontarkan komentar kontroversial: “Negara terbaru yang menjadi penyebar super kebohongan antisemit adalah Turki.” Tuduhan ini memicu reaksi keras dan memperlihatkan sisi gelap dari hubungan diplomatik kedua negara yang kian merenggang akibat konflik Gaza.

Pidato berapi-api tersebut langsung memicu keributan di ruang sidang PBB. Puluhan utusan dari berbagai negara meninggalkan ruangan, sebagian mencemooh dan meneriakkan ejekan, sementara delegasi Netanyahu sendiri berdiri dan bertepuk tangan. Pimpinan sidang bahkan harus beberapa kali meminta ketertiban agar sidang dapat dilanjutkan. Insiden ini menyoroti betapa dalamnya jurang yang memisahkan perspektif komunitas internasional terhadap krisis humaniter di Palestina, dengan Turki berada di garda depan dalam menuntut pengakuan negara Palestina dan tekanan terhadap Israel.

Hubungan Netanyahu dan Erdogan memang terus memanas belakangan ini, terutama sejak Israel melancarkan agresi brutal ke Jalur Gaza. Erdogan telah berulang kali mendesak para pemimpin dunia untuk memberikan tekanan lebih besar kepada Israel dan menyerukan pengakuan Palestina sebagai negara merdeka. Sikap Ankara yang vokal menjadikan mereka target kritik Israel, menciptakan dinamika ketegangan yang tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral, tetapi juga memengaruhi aliansi strategis di kawasan Timur Tengah dan Eropa.

Analisis Redaksi

Tuduhan Netanyahu yang menyebut Erdogan sebagai “diktator” dan Turki sebagai penyebar kebohongan antisemit merupakan manuver politik yang bertujuan mengisolasi Ankara di panggung internasional. Namun, respons cepat dan tajam dari Istana Presiden Turki menunjukkan bahwa Ankara tidak akan membiarkan citranya diredupkan di forum multilateral seperti PBB. Dengan menegaskan bahwa fakta pembantaian di Gaza tidak dapat dihapus oleh retorika serangan, Turki sedang mengunci narasi moralnya dalam konflik ini, memposisikan diri sebagai pembela hukum internasional yang konsisten.

Yang perlu diwaspadai adalah eskalasi retorika ini bisa menjadi sinyal pergeseran dinamika geopolitik yang lebih dalam. Jika Turki terus menekan isu pengakuan Palestina di forum-forum internasional, kemungkinan besar Israel akan meningkatkan tekanan diplomatik atau menggunakan pengaruhnya di Amerika Serikat untuk membalas. Ketegangan ini berisiko mengubah persaingan regional menjadi konfrontasi diplomatik yang sistematis, di mana setiap pidato di PBB menjadi arena adu pengaruh, bukan lagi sekadar forum diskusi. Publik internasional perlu memperhatikan apakah dinamika ini akan mengarah pada konsolidasi blok anti-Israel atau justru fragmentasi lebih jauh dalam komunitas global.

Meow! Tanya Nesi!
😸