Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Jenazah Surakman, ABK Kapal Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda, Tiba di Soetta

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Jenazah Surakman, ABK Kapal Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda, Tiba di Soetta
BAGIKAN:

Jenazah Surakman (60), anak buah kapal KM Arupadhatu I yang membawa lima jurnalis hilang kontak di perairan Selat Sunda, tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (24/9). Kepulangan mendiang disambut tangis keluarga besar yang telah menunggu kabar selama berhari-hari penuh kecemasan. Prosesi penyerahan jenazah dilakukan secara resmi kepada pihak kerabat untuk dimakamkan sesuai adat istiadat setempat.

Kepergian Surakman menjadi titik balik dalam pencarian awak kapal naas tersebut. Sebelumnya, kontak dengan KM Arupadhatu I terputus saat melintasi jalur pelayaran padat menuju wilayah Banten. Insiden ini langsung memicu operasi SAR gabungan melibatkan Basarnas, TNI AL, dan Polri sejak laporan kehilangan diterima oleh otoritas pelabuhan.

Lima jurnalis yang berada di atas kapal merupakan bagian dari rombongan liputan khusus mengenai aktivitas perikanan di kawasan strategis nasional. Mereka berangkat bersama kru profesional lainnya dengan rencana perjalanan singkat namun berakhir tragis. Identitas para korban jiwa maupun selamat masih diverifikasi lebih lanjut melalui pemeriksaan DNA dan dokumen penumpang asli.

Kondisi cuaca ekstrem dilaporkan terjadi sesaat sebelum insiden hilangnya kontak. Gelombang tinggi disertai angin kencang menghantam lambung kapal sehingga mengganggu stabilitas navigasi. Meskipun demikian, penyebab pasti kecelakaan belum dapat dipastikan sepenuhnya hingga hasil investigasi menyeluruh dirilis oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Dampak psikologis bagi komunitas pers terasa signifikan pasca-tragedi ini. Banyak rekan seprofesi menyatakan duka cita mendalam seraya menuntut peningkatan standar keselamatan kerja bagi wartawan lapangan. Asosiasi media nasional juga mendorong pemerintah agar segera mengevaluasi regulasi transportasi laut komersial guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.

Analisis Redaksi

Tragedi KM Arupadhatu I membuka mata publik tentang rapuhnya sistem perlindungan bagi pekerja lepas termasuk jurnalis di sektor maritim. Fakta bahwa seorang ABK senior berusia 60 tahun turut menjadi korban menunjukkan adanya celah dalam prosedur rotasi tugas dan kesehatan fisik awak kapal. Pemerintah tidak bisa lagi menganggap remeh aspek keselamatan non-komersial pada kapal pendukung kegiatan jurnalistik atau riset.

Masyarakat perlu mewaspadai potensi kelalaian struktural dalam manajemen armada kecil yang sering beroperasi tanpa pengawasan ketat. Langkah logis berikutnya adalah audit total terhadap kelaikan kapal-kapal sejenis serta penerapan teknologi pemantauan posisi real-time yang lebih akurat. Tanpa reformasi kebijakan yang tegas, nyawa akan terus menjadi taruhan murah di lautan Indonesia.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸