Jejak Majelis Sayur: Jaringan Petani Kota Jagakarsa Bangkit dari Lahan Sempit
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Lima pemuda-pemudi di kawasan kreatif Gudskul, Jagakarsa, Jakarta Selatan, memicu lahirnya forum informal bernama Majelis Sayur yang kini menjadi wadah jejaring bagi para petani kota di wilayah perbatasan Jakarta-Depok tersebut. Berawal dari pertukaran ide mengenai pemanfaatan sumber makanan budi daya lokal oleh Julian Riezky (40) dan rekan-rekannya di Selarasa Foodlab sekitar 2021, gerakan ini berkembang menjadi kolaborasi lintas individu untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas.
Julian atau akrab disapa Juli menegaskan bahwa Majelis Sayur bukan entitas kepemilikan tunggal milik Selarasa, melainkan sebuah ekosistem setara tanpa struktur hierarki ketua. "Majelis Sayur ini konsepnya bertetangga... Enggak ada ketuanya, ketuanya ya sama-sama nih," ujar Juli kepada CNNIndonesia.com pada Jumat (11/9). Forum ini berfungsi sebagai ruang komunikasi dan saling menguatkan antarwarga yang memiliki minat tinggi terhadap pertanian, terlepas dari skala lahan yang mereka garap, mulai dari halaman rumah hingga atap gedung.
Karakteristik unik jagakarsa sebagai pusat urban agriculture terlihat jelas dari latar belakang anggotanya yang beragam namun terikat oleh sejarah agraris setempat. Latif (36), warga Cipedak yang menggarap lahan di bantaran kali melalui akun Pojok Aselih, menjelaskan bahwa sebelum adanya Majelis Sayur, anggota telah memiliki kelompok tani mandiri seperti Kelompok Tani Hutan (KTH). Kini, mereka berkolaborasi merintis Sekolah Tani Kota bersama pihak Gudskul dan berencana membangun 'Pasar Bersama' agar hasil panen lokal tidak kalah bersaing dengan suplai dari Bogor.
Ahmad Fahrizal (38) alias Ijal, alumni SMKN 63—satu-satunya sekolah kejuruan pertanian di Jakarta yang terletak di Jalan Aselih, Cipedak—menyoroti adaptasi cerdas para petani kota menghadapi keterbatasan ruang. Ijal yang membudidayakan Alpukat Miki varietas Cipedak di Kelurahan Ciganjur menyatakan bahwa sempitnya lahan justru membentuk karakter khas masing-masing anggota. Ada yang memanfaatkan vertikal space, gang sempit, atau bahkan rooftop seperti Lily Almasih (50) dengan Kebun Emeng-nya, membuktikan bahwa bertani tetap viable di tengah kepadatan metropolitan.
Dinamika internal dalam jaringan ini lebih menonjolkan nilai berbagi pengetahuan daripada transaksi komersial murni. Sophia Louretta dari Tani Alit berkontribusi lewat keahlian pembuatan kompos, sementara Ibnuh fokus pada hidroponik di Youngsayur. Ijal mengakui bahwa meskipun setiap anggota memiliki metode penjualan sendiri, keberadaan Majelis Sayur memberikan energi baru berupa dukungan emosional dan teknis. "Kita butuh nongkrong, butuh komunikasi. Enggak asyik juga kalau terlalu [fokus] di bisnis 100 persen kan?" tutur Ijal, menekankan aspek sosial dari kolektivitas ini.
Analisis Redaksi
Fenomena Majelis Sayur merepresentasikan pergeseran paradigma dari sekadar hobi bercocok tanam menuju pembangunan kedaulatan pangan mikro di perkotaan. Dengan menolak struktur birokratis kaku dan memilih pendekatan horizontal, inisiatif ini berhasil mengakomodasi keragaman kapasitas produksi warganya. Langkah strategis rencana pembentukan 'Pasar Bersama' di tingkat kecamatan menunjukkan kesadaran kritis bahwa akses pasar adalah bottleneck utama bagi petani kota; jika berhasil, model ini dapat direplikasi di area padat penduduk lain yang selama ini dianggap mustahil untuk agrikultur produktif.
Penting diwaspadai potensi fragmentasi ketika skala organisasi membesar dan masuk dalam ranah regulasi formal pemerintah daerah. Keberhasilan Majelis Sayur sangat bergantung pada kemampuan menjaga kohesi sosial tanpa terjebak dalam politik identitas atau kepentingan elit tertentu. Ke depan, integrasi kurikulum Sekolah Tani Kota dengan kebijakan tata ruang Jakarta Selatan akan menjadi ujian sesungguhnya apakah gerakan akar rumput ini mampu bertahan sebagai institusi pengetahuan yang otonom, atau akhirnya terserap sepenuhnya ke dalam program-program bantuan sosial pemerintah yang sering kali bersifat top-down.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Siap-Siap, Warga Jawa dan Sumatra: BMKG Prediksi Hujan Ringan Landa Sebagian Besar Wilayah Hari Ini

Penambahan Daratan 32,8 Hektare di Sekitar Anak Krakatau Diverifikasi, Status 'Pulau Baru' Masih Menunggu Konfirmasi Lapangan

Fenomena Gerah di Indonesia: BMKG Jelaskan Penyebab Udara Lembap Meski Hujan Belum Rutin
