Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Produksi Film Anjlok 50 Persen, Pekerja Hollywood Terjepit PHK, AI, dan Ancaman Mega-Merger

SelebritiNadia PutriNadia PutriSumber: CNN Selebriti
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Produksi Film Anjlok 50 Persen, Pekerja Hollywood Terjepit PHK, AI, dan Ancaman Mega-Merger
BAGIKAN:

Krisis produksi terparah dalam sejarah modern menghantam industri hiburan Hollywood pada 2026. Para pekerja film, kru teknis, hingga lini usaha pendukung kehilangan mata pencaharian akibat melambatnya aktivitas pembuatan film secara drastis dan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK). Tahun ini bahkan berada di jalur menjadi salah satu periode produksi terlesu yang pernah tercatat di Los Angeles.

Berdasarkan data Film LA yang bertanggung jawab soal izin pengambilan gambar di Los Angeles dan sebagian LA County, jumlah hari pengambilan gambar film layar lebar dan acara TV di lokasi pada musim semi ini anjlok sekitar 40 hingga 50 persen di bawah rata-rata dibandingkan periode yang sama dalam lima tahun terakhir. Penurunan tajam ini dikonfirmasi oleh laporan CNN. Anggota dewan Writers Guild of America (WGA) West Adam Conover, seperti diberitakan Politico pada Mei 2026, menilai situasi kelam tersebut sebagai bentuk pengerutan industri antargenerasi di Hollywood.

Pejabat Senior Motion Picture Association, Kathy Bañuelos, membeberkan akar masalah yang berlapis. Lesunya Hollywood disebabkan oleh rentetan guncangan beruntun dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari sisa dampak pandemi Covid-19, aksi mogok kerja massal, hingga fenomena eksodus proyek syuting ke luar California. Rangkaian pukulan itu membuat industri tak pernah benar-benar pulih sejak 2019.

Dampak nyata langsung meremukkan tulang punggung produksi. Jeremy Whalon, seorang kurir yang membawa materi produksi ke lokasi syuting, mengaku hanya bekerja tiga hari sepanjang tahun ini, termasuk pekan saat ia berbicara. Ia menegaskan tidak ingin mencari pekerjaan baru atau mencoba industri lain walau situasinya sangat sulit. Nasib serupa menimpa Corri Levelle, seorang florist yang sudah merasakan kesulitan sejak aksi mogok kerja penulis dan aktor Hollywood pada 2023. "Banyak dari kita yang membatalkan masa pensiun kita, segalanya, untuk mencoba mempertahankannya," kata Corri Levelle. Tekanan finansial itu membuatnya kurang tidur dan mempertimbangkan mencari orang untuk berbagi tempat tinggal.

Penderitaan para pekerja diperparah oleh ancaman mega-merger senilai US$110 miliar antara Paramount dan Warner Bros. Discovery. Laporan analisis Departemen Peluang Ekonomi Los Angeles County mengungkap penggabungan dua raksasa hiburan ini berpotensi mendepak lebih dari 10 ribu pekerjaan dan mengancam nilai output bisnis hingga US$4,06 miliar. Sekitar 4.500 posisi di sektor film dan televisi terancam lenyap dalam rentang tiga tahun, disusul ribuan pekerja di sektor usaha kecil pendukung serta industri lokal. Jaksa Agung Kalifornia Rob Bonta bersama 11 jaksa agung lainnya merespons dengan gugatan antimonopoli karena merger dinilai dapat mematikan persaingan usaha, menaikkan harga, dan memangkas volume konten. Di tengah desakan hukum itu, CEO Paramount David Ellison mengancam bakal memboyong studio produksi keluar dari California menuju negara bagian seperti Texas, Georgia, atau Tennessee. Seperti diberitakan New York Post pada 20 Agustus, langkah itu bertujuan memangkas biaya pajak hingga US$500 juta per tahun jika negosiasi damai tidak tercapai.

Ancaman terhadap lahan pekerjaan kru dan seniman tidak berhenti di meja perundingan korporat. Kecerdasan buatan (AI) yang kian agresif di studio-studio besar terbukti mengikis kebutuhan tenaga kerja manusia secara signifikan. Data ketenagakerjaan California mencatat sektor perfilman dan perekaman suara di LA County telah kehilangan 6.700 pekerjaan sepanjang tahun hingga Mei 2026. Penggunaan AI di industri animasi sanggup memangkas biaya produksi hingga 90 persen dengan mengotomatisasi berbagai tahapan kerja vital, mulai dari pembuatan storyboard, character rigging, hingga pembersihan pascaproduksi. Pergeseran ke arah otomatisasi ini tak lagi sekadar meningkatkan efisiensi, melainkan mulai menggantikan struktur pekerjaan tradisional yang selama ini menyerap ribuan tenaga kerja kreatif.

Analisis Redaksi

Angka penurunan produksi 40 hingga 50 persen bukan sekadar fluktuasi musiman. Ini adalah indikator keruntuhan struktural. Ketika seorang kurir hanya mendapat tiga hari kerja dalam setahun dan pemilik usaha kecil sampai membatalkan rencana pensiun, kita melihat kehancuran rantai pasok ekonomi kreatif yang menopang Los Angeles. Merger Paramount dan Warner Bros. Discovery senilai US$110 miliar akan mempercepat pendarahan ini. Potensi hilangnya 4.500 posisi di sektor film dan televisi dalam tiga tahun adalah lonceng kematian bagi kelas pekerja menengah di industri hiburan.

Ancaman David Ellison untuk memindahkan studio ke Texas, Georgia, atau Tennessee demi menghemat pajak US$500 juta per tahun memperlihatkan betapa rapuhnya posisi tawar pemerintah daerah. Jika eksekutif studio menggunakan relokasi sebagai senjata negosiasi melawan gugatan antimonopoli Rob Bonta dan 11 jaksa agung lainnya, regulasi lokal akan selalu kalah oleh mobilitas modal global. Ditambah penetrasi AI yang mampu menekan biaya animasi hingga 90 persen, studio memiliki sedikit alasan ekonomi untuk mempertahankan basis produksi konvensional mereka di California.

Langkah selanjutnya yang logis adalah eskalasi pertarungan hukum dan politik. Gugatan antimonopoli kemungkinan akan berlarut-larut sementara studio terus melakukan efisiensi melalui otomatisasi. Serikat pekerja seperti WGA West harus segera memperluas cakupan advokasi mereka, tidak hanya melindungi penulis skenario tetapi juga merangkul kru teknis dan pekerja pendukung yang kini paling rentan. Tanpa intervensi kebijakan federal yang mengikat insentif pajak dengan jaminan lapangan kerja manusia, pemulihan ke level pra-2019 hanyalah ilusi.

BERITA TERKAIT (Selebriti)

Meow! Tanya Nesi!
😸