Identitas ABK Kapal Jurnalis Terungkap Lewat DNA, Jenazah Surakman Ditemukan di Enggano

Jasad Surakman (60), anak buah kapal KM Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis dan tenggelam di Selat Sunda, akhirnya teridentifikasi melalui pencocokan DNA. Penemuan ini terjadi pada hari kelima operasi SAR, Sabtu (12/9), di perairan Pulau Enggano, Bengkulu Utara.
Kapolda Banten Irjen Hengki menjelaskan bahwa jenazah tersebut awalnya ditemukan sebagai Mr X oleh warga setempat. Identifikasi positif dilakukan setelah tim DVI membandingkan data antemortem dari delapan anggota keluarga korban dengan hasil pemeriksaan posmortem di RS Bhayangkara Polda Bengkulu. Proses verifikasi forensik ini memakan waktu setidaknya satu pekan sejak evakuasi.
Peristiwa nahas bermula saat speedboat Arupadhatu 1 hilang kontak pada Senin (7/9) setelah bertolak dari dermaga Carita, Pandeglang. Kapal itu ditumpangi tiga awak kapal—kapten Warta (55), ABK Surakman (60), dan pemandu Heriyanto (49)—serta lima jurnalis: Bagus Khoirunnas (Antara), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudhistiro (iNews.id), Firman (Anadolu Agency), dan Donal (freelance). Mereka tengah meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Operasi pencarian besar-besaran melibatkan Basarnas wilayah Banten, Lampung, hingga Bengkulu selama sepuluh hari. Namun, tidak ada temuan fisik baik berupa badan kapal maupun penumpang lainnya sepanjang masa pencarian intensif tersebut. Operasi SAR resmi dihentikan pada Kamis (17/9) karena ketiadaan tanda-tanda keberadaan korban lain.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir, keluarga para korban melaksanakan prosesi tabur bunga di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau pada Jumat (18/9). Kini, fokus beralih pada pemulangan jenazah Surakman. Menurut rencana, peti mati akan diterbangkan dari Bengkulu menuju Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis (24/9) untuk disambut Gubernur Banten Andra Soni dan Kepala Basarnas Banten Al Amrad sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.
Analisis Redaksi
Penemuan tunggal ini menegaskan betapa sulitnya medan pencarian di Selat Sunda, khususnya di area rawan bencana vulkanik seperti sekitar Gunung Anak Krakatau. Fakta bahwa hanya satu tubuh yang berhasil ditemukan dan diidentifikasi dalam rentang waktu singkat menunjukkan kekuatan arus laut dan faktor lingkungan ekstrem yang mungkin telah menghamburkan sisa-sisa kecelakaan ke arah selatan menjauhi titik awal hilangnya kontak.
Penting bagi publik untuk memahami bahwa identifikasi berbasis DNA adalah standar emas dalam kasus mass casualty atau kondisi tubuh yang sudah terdekomposisi. Keberhasilan proses ini memberikan kepastian hukum dan emosional bagi keluarga Surakman, meski duka mendalam tetap menyelimuti tujuh nyawa lainnya yang nasibnya masih menjadi misteri. Langkah selanjutnya harus mencakup evaluasi ketat terhadap protokol keselamatan pelayaran di zona merah bencana alam.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Ditlantas Polda Metro Buka Dua Gerai SIM Keliling di Jakarta pada Minggu

Polda Metro Siagakan Lima Kantong Parkir Besar untuk Jaga Ketertiban Apel Akbar Palestina di Monas

Kapolda Metro Tekankan Penataan Lingkungan sebagai Kunci Akar Permasalahan Narkoba di Kampung Muara Bahari
