NASA Temukan Kawah McGetchin Lebar 222 Meter, Tumbukan Terbesar di Bulan Abad Ini

Teknologi
Fitriani NingsihFitriani Ningsih
Sumber: CNN Teknologi
Fitriani Ningsih
Fitriani Ningsih
Jurnalis Siber

Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

NASA Temukan Kawah McGetchin Lebar 222 Meter, Tumbukan Terbesar di Bulan Abad Ini
BAGIKAN:

Satelit pengorbit milik NASA mengonfirmasi terbentuknya kawah baru selebar 222 meter di permukaan Bulan akibat tumbukan asteroid atau pecahan komet antara 11 April hingga 22 Mei 2024. Lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut menyatakan ini sebagai temuan kawah baru terbesar yang pernah ditemukan di tata surya, sebuah peristiwa langka yang diperkirakan hanya terjadi sekali setiap abad di satelit alami Bumi itu.

Kawah yang diberi nama McGetchin ini memiliki kedalaman mencapai 43 meter. Para peneliti pertama kali mendeteksi keberadaannya pada tahun 2025 ketika membandingkan citra permukaan bulan dari instrumen Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO). Metode perbandingan sebelum dan sesudah inilah yang memungkinkan mereka menyempitkan rentang waktu pembentukan kawah secara presisi.

Dua studi mengenai temuan ini diterbitkan bersamaan di jurnal Science Advances pada 16 September. Satu studi berfokus pada identifikasi kawah, sementara studi lainnya meneliti dampak dari tumbukan tersebut. "Kawah McGetchin luar biasa karena merupakan kawah tumbukan baru terbesar yang telah diidentifikasi hingga saat ini," kata Tyler Powell, penulis utama salah satu studi tersebut, dikutip dari Space.com pada Jumat (18/9).

Publikasi ganda itu mengungkapkan bahwa McGetchin tidak sekadar meninggalkan lubang berdiameter 222 meter. Kamera Lunar Reconnaissance Orbiter Camera (LROC) menangkap adanya lapisan material lontaran di sekeliling kawah. Lebih mengejutkan lagi, Diviner Lunar Radiometer LRO menunjukkan anomali termal dengan cakupan yang jauh lebih luas. Data Diviner merekam titik dingin selebar kira-kira 7 kilometer di sekitar kawah dengan selisih 14-16 Fahrenheit (9-10 derajat Celsius) jika dibandingkan dengan permukaan sekitarnya selama malam.

Powell menjelaskan perbedaan suhu drastis tersebut disebabkan oleh perubahan pada lapisan atas tanah Bulan. Benturan keras mengurangi kepadatan regolit sehingga permukaannya menjadi kurang mampu menahan panas. "Pembentukan kawah akibat tumbukan adalah salah satu proses yang paling umum dan penting di tata surya. Memahami bagaimana tumbukan memodifikasi permukaan dan sekitarnya penting untuk menafsirkan geologi dan sejarah Bulan," ujar Powell. Ia menambahkan bahwa pemahaman ini akan sangat berguna untuk eksplorasi Bulan dan misi pendaratan di masa depan.

Bulan memang dipenuhi kawah tumbukan. Namun sebagian besar sudah kuno dan telah mengalami perubahan akibat tumbukan berikutnya serta efek pelapukan ruang angkasa. Kondisi kawah McGetchin yang masih alami memberikan titik acuan berharga bagi ilmuwan untuk memahami bagaimana kawah terbentuk dan berevolusi. Lokasinya pun strategis, membentang di sepanjang perbatasan antara dataran rendah Bulan yang lebih gelap dan tertutup basal serta dataran tinggi yang lebih terang. Posisi ini menawarkan kesempatan langka untuk mempelajari bagaimana dampak tumbukan memengaruhi dua lingkungan geologis yang berbeda sekaligus.

Powell berpendapat wahana jelajah (rover) atau misi berawak dapat membawa penelitian tersebut selangkah lebih maju dengan memeriksa fitur-fitur yang tidak dapat diamati secara penuh dari orbit. "Pengamatan dari permukaan akan sangat berharga karena memungkinkan kita untuk menghubungkan apa yang kita lihat dan petakan dari orbit dengan perubahan skala kecil pada tekstur permukaan, distribusi material yang terlontar, dan sifat-sifat lain yang hanya dapat dipelajari secara detail dari permukaan," kata Powell. Pemahaman tentang bagaimana benturan mengubah sifat fisik regolit juga akan membantu para ilmuwan mengantisipasi interaksi rover, wahana pendarat, dan peralatan lainnya dengan permukaan bulan di masa mendatang.

Analisis Redaksi

Penemuan kawah McGetchin bukan sekadar catatan tambahan dalam katalog geologi tata surya. Fakta bahwa tumbukan sebesar ini hanya terjadi sekali setiap abad di Bulan menjadikannya momentum ilmiah yang tidak boleh disia-siakan. Selama puluhan tahun, komunitas sains hanya bisa mempelajari kawah purba yang strukturnya sudah terdegradasi oleh pelapukan ruang angkasa. Kini, mereka memiliki laboratorium alam yang benar-benar segar untuk mengukur secara pasti seberapa jauh dan seberapa dalam sebuah hantaman mengubah karakter fisik tanah Bulan.

Yang patut diwaspadai dari temuan ini adalah implikasinya terhadap keselamatan misi Artemis maupun program pendaratan negara-negara lain yang sedang berlomba kembali ke Bulan. Anomali termal selebar 7 kilometer membuktikan bahwa efek tumbukan tidak berhenti di bibir kawah. Perubahan kepadatan regolit di area yang begitu luas berarti daya dukung tanah untuk menopang berat wahana pendarat atau habitat astronaut bisa sangat berbeda dari perkiraan awal. Tanpa pemetaan ulang yang memperhitungkan data semacam ini, risiko pendaratan di zona yang看似 stabil namun rapuh secara struktural akan meningkat tajam.

Secara logis, langkah selanjutnya yang paling mendesak adalah mengarahkan misi robotik terdekat untuk mengambil sampel langsung dari material lontaran McGetchin. Argumen Powell soal keterbatasan observasi orbit sangat beralasan. Kamera satelit tidak bisa menggantikan analisis mekanika tanah di lapangan. Jika badan antariksa global serius membangun pangkalan permanen di Bulan, data empiris dari kawah segar ini harus menjadi standar baru dalam merancang kaki pendarat dan roda penjelajah masa depan.

Meow! Tanya Nesi!
😸