Iran Samakan Taktik AS dengan Hitler Soal Krisis Bahan Bakar dan Penutupan Selat Hormuz
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, secara terbuka menyamakan taktik Amerika Serikat dalam merespons krisis harga bahan bakar domestik dengan strategi propaganda Adolf Hitler pada 1939. Pernyataan keras ini dilontarkan sebagai bantahan langsung terhadap para pejabat Washington yang menyalahkan Teheran atas melonjaknya biaya energi di negara mereka sendiri, menyusul pecahnya perang pada Februari lalu yang berujung pada penutupan Selat Hormuz.
Baghaei mengaku tidak habis pikir dengan narasi yang dibangun pihak AS. Menurutnya, Washington justru menjadi aktor utama yang menciptakan krisis tersebut ketika memulai perang pada Februari lalu. Konflik itu memicu efek domino yang fatal: penutupan Selat Hormuz dan terganggunya pelayaran komersial secara masif. Rantai pasokan global pun langsung terguncang.
Melalui akun X miliknya, Baghaei menuliskan kritik tajam tersebut tanpa tedeng aling-aling. "Para pejabat AS menyalahkan Iran atas kenaikan harga bahan bakar, seolah-olah ingatan publik begitu pendek hingga lupa siapa sebenarnya yang memulai perang agresi, dan tindakan yang memicu krisis hingga berujung pada penutupan Selat Hormuz serta terganggunya pelayaran komersial," tulisnya. Kalimat itu menjadi tamparan diplomatik yang ditujukan langsung ke wajah pemerintahan Donald Trump.
Analogi sejarah yang ditarik Baghaei bukan sekadar retorika murahan. Ia secara spesifik merujuk pada peristiwa tahun 1939 saat Hitler menginvasi Polandia. Sang diktator Nazi kala itu melabeli invasinya sebagai tindakan defensif untuk menutupi agresinya. "Namun, ini bukanlah taktik baru. Pada tahun 1939, Hitler melakukan hal serupa dengan melabeli invasinya ke Polandia sebagai tindakan defensif," tegas Baghaei. Penyebutan nama Hitler oleh seorang diplomat Iran jelas merupakan eskalasi verbal yang sangat jarang terjadi dalam hubungan kedua negara.
Kritik Baghaei tidak berhenti pada perbandingan historis semata. Ia membawa argumennya lebih jauh dengan mengutip karya Barbara W. Tuchman berjudul The March of Folly. Buku tersebut membedah paradoks kelam ketika sebuah pemerintah menjalankan kebijakan yang justru bertentangan dengan kepentingan mereka sendiri. Penggunaan referensi literatur sejarah ini menunjukkan upaya Teheran membingkai kebijakan luar negeri AS bukan hanya sebagai ancaman, melainkan juga sebagai kebodohan strategis.
"Ketika pihak yang memicu 'perang pilihan' yang melanggar hukum, justru menyalahkan korbannya atas dampak yang timbul, patutkah hal ini dipandang sebagai kecemerlangan strategis? Atau ini sekadar gejala klasik dari 'The March of Folly'," tulis Baghaei menutup serangannya. Bagi publik global yang bergantung pada jalur perdagangan laut, ketegangan di Selat Hormuz ini bukan sekadar perang kata-kata, melainkan ancaman nyata terhadap stabilitas ekonomi rumah tangga mereka akibat lonjakan harga energi.
Analisis Redaksi
Pilihan kata Baghaei yang menyeret nama Adolf Hitler dan buku The March of Folly memperlihatkan pergeseran strategi komunikasi diplomatik Iran. Teheran tidak lagi sekadar membela diri secara reaktif. Mereka kini mengambil posisi ofensif dengan menyerang logika dasar kebijakan Washington di hadapan komunitas internasional. Perang pada Februari lalu yang memicu penutupan Selat Hormuz telah mengubah kalkulasi geopolitik secara drastis, dan Iran memanfaatkan momen ini untuk mendiskreditkan narasi domestik pemerintahan Trump yang sedang menghadapi tekanan akibat inflasi harga bahan bakar.
Yang perlu diwaspadai dari eskalasi retorika ini adalah potensi matinya ruang dialog diplomatik. Ketika seorang juru bicara kementerian luar negeri sudah menggunakan analogi Nazi untuk menggambarkan kebijakan mitranya, batas kesopanan diplomatik praktis telah dilanggar. Publik harus menyadari bahwa perang narasi ini memiliki konsekuensi material yang nyata. Terganggunya pelayaran komersial di Selat Hormuz berarti tertundanya distribusi minyak dunia, yang ujung-ujungnya dibayar mahal oleh konsumen di pompa-pompa bensin seluruh dunia.
Secara logis, langkah selanjutnya yang mungkin diambil Teheran adalah memperluas kampanye diplomatik ini ke forum-forum multilateral. Mereka akan terus memposisikan diri sebagai korban dari apa yang disebut Baghaei sebagai "perang pilihan" yang melanggar hukum. Di sisi lain, pemerintahan Trump kemungkinan besar akan merespons dengan memperketat sanksi atau meningkatkan kehadiran militer di kawasan. Siklus provokasi dan pembalasan ini, jika tidak segera diredam, hanya akan membenarkan tesis Tuchman tentang kebodohan sebuah bangsa yang berjalan menuju kehancurannya sendiri.
