⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Inggris dan Prancis Turun Tangan Bantu Saudi Hadapi Houthi Setelah Trump Tolak Permintaan Yaman

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Inggris dan Prancis Turun Tangan Bantu Saudi Hadapi Houthi Setelah Trump Tolak Permintaan Yaman
BAGIKAN:

Inggris dan Prancis bergerak cepat menyediakan dukungan militer defensif bagi Arab Saudi untuk menghadapi gempuran milisi Houthi, tepat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak menjanjikan bantuan serupa kepada pemerintah Yaman. Langkah dua negara Eropa ini mengubah kalkulasi pertahanan di Timur Tengah secara signifikan.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyetujui pemberian dukungan militer tersebut saat dalam perjalanan menuju Sidang Umum PBB di New York. "Pesawat-pesawat Inggris akan menyediakan layanan pengisian bahan bakar di udara yang bersifat 'defensif' bagi jet-jet Saudi," kata PM Burnham kepada wartawan. Kantor berita PA melaporkan misi ini terbatas pada perlindungan pesawat Saudi dari serangan pesawat nirawak dan rudal, bukan mendukung operasi ofensif terhadap Houthi.

Penggunaan pesawat tanker Voyager diperkirakan dimulai dalam beberapa hari mendatang. Para pejabat mengindikasikan durasi misi hanya berlangsung beberapa minggu. Dukungan udara ini melengkapi sistem pertahanan udara Sky Sabre milik Inggris yang sudah lebih dulu dikerahkan di wilayah Arab Saudi. Burnham menegaskan langkah itu krusial karena "Arab Saudi telah mengalami serangan dan menghadapi potensi gangguan lebih lanjut".

Prancis mengambil posisi senada. Seorang sumber diplomatik Prancis menyatakan negaranya siap berkontribusi mengamankan infrastruktur energi Saudi di Yanbu dan sepanjang East-West Pipeline. Pendekatan Paris murni bersifat defensif dan sama sekali tidak melibatkan partisipasi dalam konflik melawan Houthi. Kesiapan Eropa ini muncul setelah fasilitas perusahaan minyak raksasa Aramco di kota pelabuhan Yanbu diserang. Jalur pipa minyak East-West Pipeline juga terpaksa ditutup menyusul serangan drone yang diluncurkan dari Irak.

Keterlibatan London dan Paris menjadi satu-satunya opsi tersisa bagi Riyadh. Sebelumnya, Kepala Badan Pemerintahan Yaman Rashad Al Alimi melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Donald Trump pada Minggu (20/9). Percakapan itu dimaksudkan sebagai bentuk solidaritas setelah Houthi menguasai seluruh pesisir Laut Merah. Namun menurut sumber dari kantor Alimi, Trump tidak menjanjikan dukungan militer untuk Yaman. Penolakan Washington terjadi pasca-serangan Houthi ke ibu kota Riyadh pada Sabtu (19/9).

Bagi publik global, eskalasi ini membawa ancaman langsung terhadap stabilitas pasokan energi. Penutupan East-West Pipeline dan serangan di Yanbu memukul jantung logistik minyak dunia. Ketika jalur perdagangan utama terganggu, fluktuasi harga bahan bakar akan segera terasa hingga ke pompa bensin di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Analisis Redaksi

Penolakan Trump meninggalkan lubang besar dalam arsitektur keamanan tradisional Timur Tengah. Selama puluhan tahun, doktrin pertahanan kawasan ini bertumpu pada payung keamanan Amerika Serikat. Ketika Washington menarik diri dari komitmen itu, Inggris dan Prancis terpaksa mengisi kekosongan. Manuver Burnham dan pernyataan diplomatik Paris bukan sekadar aksi solidaritas. Keduanya adalah upaya pragmatis mencegah kolapsnya rute perdagangan vital yang menopang ekonomi Eropa sendiri.

Batas antara operasi defensif dan ofensif di medan perang modern sangat tipis. Pengisian bahan bakar di udara oleh pesawat tanker Voyager memang diklaim bersifat melindungi wilayah Saudi. Tetapi tanpa logistik udara itu, kemampuan tempur jet-jet Arab Saudi akan lumpuh total. Secara taktis, London sedang memberikan napas panjang bagi mesin perang Riyadh tanpa harus mengirimkan pasukan darat atau mengklaim keterlibatan langsung dalam konflik.

Penguasaan seluruh pesisir Laut Merah oleh Houthi adalah fakta strategis yang paling mengkhawatirkan. Milisi ini kini memegang kunci salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Jika tekanan militer Eropa gagal memaksa Houthi mundur dari garis pantai, blokade maritim berskala penuh tinggal menunggu waktu. Langkah selanjutnya yang paling logis adalah pembentukan koalisi patroli laut gabungan Eropa-Arab untuk membuka kembali akses pelayaran, sebelum krisis energi berubah menjadi resesi global.

Meow! Tanya Nesi!
😸