Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gianni Infantino Buka Ruang Dialog untuk Reformasi Tata Kelola dan Proses di FIFA

OlahragaEka SaputraEka SaputraSumber: Antara News
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Gianni Infantino Buka Ruang Dialog untuk Reformasi Tata Kelola dan Proses di FIFA
BAGIKAN:

Presiden FIFA Gianni Infantino secara resmi menyatakan keterbukaannya untuk berdialog mengenai reformasi tata kelola dan proses di tubuh organisasi sepak bola dunia tersebut. Pernyataan ini menandai satu langkah penting dari pucuk pimpinan tertinggi sepak bola global yang selama bertahun-tahun kerap dikritik karena gaya kepemimpinannya yang dinilai terlalu sentralistis.

Kesediaan Infantino membuka ruang diskusi itu disampaikan langsung oleh sang presiden federasi. Ia menegaskan bahwa pintu dialog tidak tertutup bagi pihak-pihak yang ingin membicarakan arah baru tata kelola maupun pembenahan proses internal lembaga yang berkantor pusat di Zurich, Swiss, tersebut. Kalimat pendeknya jelas: ia siap mendengarkan.

Sikap terbuka ini tentu tidak lahir dari ruang hampa. Sepanjang dua dekade terakhir, FIFA berulang kali tersandung skandal korupsi berskala masif yang menyeret sejumlah pejabat tingginya ke jeruji besi. Tekanan dari berbagai asosiasi anggota, sponsor utama, hingga komunitas sepak bola akar rumput terus menuntut transparansi yang lebih nyata, bukan sekadar janji manis di atas kertas kongres tahunan.

Reformasi tata kelola sejatinya pernah dijanjikan Infantino sejak pertama kali terpilih memimpin FIFA pada 2016 silam. Kala itu, ia mengusung visi pembersihan total pasca-skandal penyuapan yang menumbangkan pendahulunya, Sepp Blatter. Namun, para pengamat dan kritikus menilai banyak janji pembenahan struktur kekuasaan tersebut berjalan lambat atau bahkan mandek di tengah jalan.

Bagi publik pencinta sepak bola di seluruh dunia, wacana dialog ini membawa dampak langsung terhadap kepercayaan mereka terhadap integritas turnamen internasional. Tanpa tata kelola yang sehat dan akuntabel, alokasi dana pengembangan sepak bola di negara-negara berkembang rawan diselewengkan. Ujung-ujungnya, kualitas kompetisi dan kesejahteraan pemain lapis bawah yang menjadi korban.

Analisis Redaksi

Keterbukaan Gianni Infantino untuk berdialog soal reformasi adalah sinyal politik yang menarik, tetapi belum tentu jaminan perubahan substansial. Dalam pengalaman saya meliput dinamika organisasi olahraga selama dua puluh tahun, pernyataan semacam ini sering kali muncul ketika tekanan eksternal sudah mencapai titik yang sulit diabaikan. Kita perlu melihat apakah dialog ini akan melibatkan pihak independen atau hanya menjadi forum internal yang hasilnya bisa direkayasa sesuai keinginan petinggi.

Yang patut diwaspadai adalah potensi dialog ini hanya menjadi manuver taktis menjelang siklus pemilihan presiden FIFA berikutnya. Sejarah membuktikan bahwa janji reformasi kerap menguap begitu posisi kekuasaan kembali aman. Publik harus menuntut kerangka waktu yang terukur dan indikator keberhasilan yang jelas, bukan sekadar notulensi rapat panjang tanpa tindak lanjut konkret.

Langkah logis selanjutnya adalah membentuk komite transisi independen yang memiliki wewenang penuh untuk membedah struktur keuangan dan mekanisme pengambilan keputusan di FIFA. Jika Infantino benar-benar serius, ia harus rela menyerahkan sebagian otoritasnya kepada badan pengawas eksternal. Tanpa keberanian mengambil risiko politik semacam itu, kata 'reformasi' hanya akan tetap menjadi slogan usang di lorong-lorong kantor pusat FIFA.

Meow! Tanya Nesi!
😸