Tembakau Jadi Penyelamat Lahan Kering Wonogiri, Dua Petani Buktikan Ekonomi Naik Berkat Kemitraan
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Keterbatasan pasokan air saat musim kemarau di Wonogiri, Jawa Tengah, tidak lagi memaksa petani menganggurkan lahan setelah dua warga setempat membuktikan budidaya tembakau mampu mendongkrak pendapatan secara nyata melalui kemitraan dengan PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna). Katino (46), warga Eromoko, dan Purwanto (34) kini mengelola ribuan meter persegi lahan yang sebelumnya hanya bisa menunggu hujan turun, sekaligus menjadi bagian dari lebih 22.500 petani tembakau dan cengkih yang didampingi perusahaan tersebut.
Keputusan Katino menekuni budidaya tembakau bermula pada 2019. Saat itu ia masih bekerja sebagai sopir truk. Momen sederhana mengubah arah hidupnya ketika melihat seorang petani berusia sekitar 70 tahun selesai menjual hasil panen tembakau di sebuah gudang. Pemandangan itu meyakinkannya bahwa kerja keras di sektor pertanian membuka peluang kehidupan yang lebih baik. Ia belajar dari petani lain sebelum mendapat pendampingan langsung dari Sampoerna melalui salah satu perusahaan pemasoknya.
Pendampingan teknis mengubah total cara kerja Katino di lapangan. "Dari awal tanam itu kan ada proses pembibitan, saya dikasih tahu cara penyebaran benihnya, cara ngerawat bibitnya harus berapa hari atau berapa jam. Terus diajarin juga cara nyebar yang benar gimana, cara pemupukan pupuk dasarnya gimana, sampai proses penyiramannya pun semua dikasih tahu. Dengan adanya pendamping lapangan, kita yang awalnya dari awal gak tahu apa-apa, sekarang jadi tahu," tutur Katino. Ketekunan itu membuahkan hasil konkret sejak 2023. Pendapatan meningkat. Ia membeli sebidang lahan sawah baru. Kini Katino mengelola sekitar 9.000 meter persegi lahan di tiga lokasi ditambah satu lahan sewa, serta mempekerjakan beberapa buruh tani untuk mendukung pola tanam bergantian.
Cerita berbeda datang dari Purwanto. Pemuda 34 tahun ini sempat merantau ke Jakarta dan bekerja di perusahaan swasta. Ia memilih pulang untuk menemani kedua orangtuanya sekaligus mengolah lahan warisan keluarga. "Saya pulang ketika musim kemarau. Tetangga-tetangga tanam tembakau. Saya mulai belajar ikut menanam. Awalnya tidak banyak, hanya untuk belajar," kenang Purwanto. Ia kemudian menjalin kemitraan dengan Sampoerna. Pendampingan mencakup seluruh tahapan. "Kita dapat penyuluhan, bimbingan teknis, dan pendampingan untuk penanamannya. Mulai dari pembibitan, penanaman, bahkan sampai pascapanen pun kita masih didampingi oleh petugas lapangan," ujarnya.
Dampak ekonomi dari panen tembakau merembet ke berbagai sisi kehidupan warga desa. Rumah orangtua Purwanto yang semula berdinding kayu seadanya kini berdiri sebagai rumah tembok yang layak huni. Perputaran uang dari hasil panen menggerakkan roda ekonomi pedesaan secara luas. "Setelah panen tembakau, ada yang beli mobil keluarga buat disewain. Ada juga yang beli mobil jasa angkut barang," imbuh Purwanto. Fenomena ini menahan laju urbanisasi karena lebih banyak warga memilih tinggal dan mengembangkan usaha di kampung halaman.
Sampoerna menopang transformasi ini melalui kerangka Praktik Pertanian yang Baik (Good Agricultural Practices/GAP) dan Kode Praktik Pekerja Pertanian (Agricultural Labor Practices/ALP). Program GAP membimbing petani memahami teknik budidaya yang benar mulai dari pembibitan, pengelolaan lahan, pemupukan tepat, penggunaan air efisien, hingga penanganan pascapanen. Modernisasi peralatan turut berjalan, termasuk distribusi alat panen padi yang berfungsi ganda untuk memotong padi sekaligus menggemburkan tanah sebagai persiapan tanam komoditas lain. Di sisi ketenagakerjaan, ALP memastikan praktik kerja yang bertanggung jawab di tingkat usaha tani, mencakup aspek kesehatan dan keselamatan kerja, pencegahan pekerja anak, serta penghormatan terhadap hak-hak pekerja pertanian.
Analisis Redaksi
Kisah Katino dan Purwanto membongkar mitos lama bahwa musim kemarau di wilayah kering seperti Wonogiri identik dengan kematian aktivitas ekonomi pertanian. Tembakau, dengan karakternya yang minim kebutuhan air, terbukti bukan sekadar tanaman pelarian. Komoditas ini menjadi instrumen stabilisasi pendapatan yang terukur. Fakta bahwa lebih dari 22.500 petani telah masuk dalam jaringan pendampingan Sampoerna menunjukkan skala intervensi yang sistematis, bukan sekadar bantuan karitatif sesaat. Ketika petani berhenti mengandalkan insting turun-temurun dan beralih pada standar GAP, lonjakan produktivitas adalah konsekuensi logis yang tak terhindarkan.
Yang patut diwaspadai dari model kemitraan semacam ini adalah posisi tawar petani di hadapan rantai pasok industri besar. Ketergantungan pada satu komoditas dan satu mitra pembeli berpotensi menciptakan kerentanan baru jika harga beli anjlok atau kebijakan perusahaan berubah. Namun, penerapan ALP yang mengatur perlindungan pekerja dan larangan pekerja anak menjadi katup pengaman penting. Standar ini memaksa praktik pertanian lokal naik kelas, sejajar dengan tuntutan rantai pasok global yang semakin ketat soal keberlanjutan dan etika kerja.
Langkah selanjutnya yang paling logis bagi pemerintah daerah Wonogiri adalah mereplikasi struktur pendampingan ini ke komoditas alternatif lain yang tahan kekeringan. Membangun infrastruktur pengolahan pascapanen milik kelompok tani akan memperkuat posisi mereka agar tidak sepenuhnya bergantung pada fasilitas gudang mitra. Jika perputaran uang dari panen tembakau sudah mampu memicu pembelian kendaraan komersial oleh warga desa, berarti fondasi ekonomi lokal sedang terbentuk. Tugas negara selanjutnya adalah memastikan fondasi itu tidak rapuh saat iklim atau pasar berubah arah.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

JB Syariah Klarifikasi Dugaan Hilangnya 2,2 Kg Emas Nasabah: Tak Ada Fasilitas Deposito, Sempat Gadai Lunas Sejak 2013

Direktur Utama Blue Bird Borong 675.800 Saham BIRD Senilai Hampir Rp1 Miliar untuk Perkuat Pengendalian

Emtek Resmikan Penjualan Saham Indopay Merchant Services, Fokus Optimalisasi Portofolio Investasi
