Psikologi dan Islam Beda Pandang Soal Mimpi Orang yang Disukai, Ini Penjelasan Lengkapnya

Selebriti
Ayu LestariAyu Lestari
Sumber: KapanLagi
Ayu Lestari
Ayu Lestari
Wartawan Selebriti

Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Psikologi dan Islam Beda Pandang Soal Mimpi Orang yang Disukai, Ini Penjelasan Lengkapnya
BAGIKAN:

Bangun tidur dengan senyum karena baru saja memimpikan orang yang disukai ternyata bukan pertanda mistis. Fenomena ini murni cerminan pikiran serta perasaan yang mengendap di alam bawah sadar manusia. Mengacu pada Harvard Medical School, mimpi kerap membantu otak memproses emosi dan pengalaman sehingga sering diibaratkan sebagai terapi ringan di malam hari bagi pikiran kita. Sosok yang terus dipikirkan sepanjang siang memang cenderung hadir saat otak beristirahat.

Mimpi tentang orang yang kita sukai bisa berbentuk apa saja. Mulai dari sekadar berpapasan, mengobrol santai, hingga skenario yang sangat emosional. Dr. Naomi Torres-Mackie, psikolog klinis, dikutip dari Seventeen, menjelaskan, "Secara umum, jika kamu memimpikan seseorang, itu berarti orang tersebut memiliki arti penting bagimu." Tingkat kepentingan itu sendiri bisa bernilai positif, negatif, atau bahkan campuran keduanya. Konteks dan emosi saat bermimpi jauh lebih menentukan makna ketimbang satu simbol tunggal.

Pandangan para ahli soal bunga tidur ini tidak seragam. Sigmund Freud menyebutnya sebagai bentuk pemenuhan keinginan atau wish fulfillment, yakni saluran aman bagi hasrat yang sulit diwujudkan saat terjaga. Carl Jung menawarkan sudut pandang berbeda. Ia melihat setiap tokoh dalam mimpi sebagai cerminan bagian dari diri kita sendiri. Orang yang ditaksir bisa mewakili sifat yang diam-diam ingin kita kembangkan, seperti keberanian atau kepercayaan diri.

Dr. Alex Dimitriu, dokter spesialis tidur sekaligus psikiater, dikutip dari HowStuffWorks, menegaskan, "Karena begitu banyak proses emosional dan psikologis yang terjadi saat tidur, keliru rasanya bila kita mengabaikan isi mimpi atau menganggapnya sekadar acak." Sementara itu, Courtney Boyer, pelatih kehidupan bersertifikat, dikutip dari Stylecraze, mengatakan, "Mimpi adalah gerbang yang kuat menuju alam bawah sadar kita." Semakin sering memikirkan seseorang, semakin besar peluang ia muncul dalam tidur.

Lauri Loewenberg, analis mimpi bersertifikat, dikutip dari Bustle, menuturkan, "Memimpikan orang yang kamu taksir benar-benar normal dan sering menjadi cara pikiran bawah sadar menjelajahi berbagai kemungkinan." Ia membaginya menjadi mimpi ikatan yang mempererat seperti kencan, serta mimpi pengkhianatan yang menyakitkan seperti penolakan. Di sisi lain, ahli saraf Patrick McNamara, dikutip dari Sleep Matters Club, menjelaskan, "Sebaliknya, mimpi tampak membahas hal-hal dan sosok lain yang tidak bisa kita tangkap sepenuhnya lewat gambaran dari kehidupan sehari-hari." Temuan menunjukkan sekitar setengah sosok dalam mimpi justru orang yang tidak kita kenal. Sebagaimana dilaporkan mindbodygreen, memimpikan seseorang juga tidak serta-merta berarti orang itu sedang memikirkan kita.

Dalam perspektif agama, Islam memahami mimpi tidak seluruhnya bermakna khusus. Dilansir dari NU Online, Rasulullah SAW menyebut mimpi terbagi menjadi tiga: mimpi baik sebagai kabar gembira dari Allah, mimpi karena bawaan pikiran ketika terjaga, serta mimpi menyedihkan yang datang dari setan. Mimpi tentang orang yang disukai paling sering tergolong jenis kedua. Dalam buku Tafsir Mimpi Islami, Mahmud Asy Syafrowi menjelaskan, dengan merujuk pendapat Ibnu Hajar dan al-Hakim, bahwa Allah menugaskan malaikat untuk mengurus persoalan mimpi sesuai kondisi manusia, lalu menyusunnya menjadi kabar gembira, peringatan, atau teguran. Tradisi Jawa lewat primbon memang kerap mengaitkannya dengan pertanda jodoh, tetapi tafsir tersebut bersifat kepercayaan tanpa dasar ilmiah.

Analisis Redaksi

Fakta bahwa psikologi modern dan teologi Islam sama-sama menempatkan pikiran sehari-hari sebagai pemicu utama mimpi patut dicermati serius. Keduanya menolak gagasan bahwa mimpi adalah ramalan masa depan. Harvard Medical School menyebutnya sebagai mekanisme otak memproses emosi, sementara hadis Nabi Muhammad SAW secara tegas mengelompokkan mimpi akibat bawaan pikiran sebagai kategori tersendiri yang terpisah dari wahyu maupun gangguan setan. Keselarasan ini membuktikan bahwa kegelisahan publik selama ini sering kali lahir dari ketidaktahuan, bukan dari anomali spiritual.

Yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan masyarakat kita untuk menjadikan mimpi sebagai landasan mengambil keputusan besar dalam hubungan asmara. Menganggap mimpi berulang sebagai bukti takdir atau kecocokan adalah lompatan logika yang berbahaya. Frekuensi mimpi hanya menandakan adanya urusan emosional yang belum selesai dipahami oleh otak, bukan indikator kepastian jodoh. Membiarkan tafsir berlebihan mendikte tindakan nyata justru berpotensi merusak dinamika hubungan yang sedang dibangun di dunia sadar.

Langkah paling logis setelah memahami penjelasan para pakar ini adalah mengubah cara kita merespons mimpi. Alih-alih terjebak mencari makna tersembunyi di balik bunga tidur, energi harus diarahkan pada komunikasi langsung dengan orang yang bersangkutan. Menulis jurnal mimpi bisa menjadi alat bantu introspeksi yang sehat untuk mengenali perasaan sesungguhnya. Jika intensitas mimpi sudah mengganggu kualitas istirahat dan memicu kecemasan kronis, berkonsultasi dengan psikolog adalah jalan keluar yang rasional, bukan mendatangi peramal.

Meow! Tanya Nesi!
😸