Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Mimpi Setan Bukan Ramalan: Penjelasan Psikologi, Sains Tidur REM, dan Pandangan Islam

SelebritiAyu LestariAyu LestariSumber: KapanLagi
Ayu Lestari
Ayu Lestari
Wartawan Selebriti

Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Mimpi Setan Bukan Ramalan: Penjelasan Psikologi, Sains Tidur REM, dan Pandangan Islam
BAGIKAN:

Terbangun tengah malam dengan jantung berdebar setelah melihat sosok jahat dalam tidur ternyata lebih mencerminkan kondisi batin ketimbang ramalan nasib. Kajian psikologi, sains tidur, hingga pandangan Islam sepakat bahwa mimpi setan adalah sinyal dari alam bawah sadar atau ujian spiritual yang menuntut respons tenang, bukan kepanikan.

Mimpi setan didefinisikan sebagai pengalaman tidur ketika seseorang melihat, dikejar, atau berinteraksi dengan sosok menakutkan seperti iblis maupun hantu. Rasa takut yang ditinggalkannya kerap terasa sangat nyata. Namun, merujuk beragam kajian psikologi tidur, fenomena ini umumnya dikaitkan dengan ketakutan, stres, atau konflik batin yang belum terselesaikan. Sosok menyeramkan itu jarang berkaitan dengan kehadiran makhluk gaib sungguhan, melainkan bahasa simbol yang dipakai alam bawah sadar untuk menyampaikan pesan tertentu kepada individu yang mengalaminya.

Dalam kacamata psikologi, banyak ahli memaknai sosok setan sebagai bayangan diri atau shadow self. Konsep ini diperkenalkan oleh psikiater Carl Jung. Menurut Jung, emosi seperti amarah, rasa bersalah, atau ketakutan yang selama ini ditekan, ditolak, atau enggan diakui justru kerap muncul kembali lewat mimpi. Dengan kata lain, setan dalam tidur bisa menjadi representasi dari aspek-aspek diri yang belum terintegrasi dan persoalan hidup yang belum tuntas diselesaikan.

Sains tidur memberikan penjelasan biologis yang tak kalah konkret. Mimpi paling intens, termasuk yang menakutkan, umumnya terjadi pada fase tidur REM saat aktivitas otak melonjak menyerupai kondisi terjaga. Deirdre Barrett, psikolog Harvard Medical School dan penulis buku The Committee of Sleep, dikutip dari Scholastic Science World, menuturkan, "Saat tidur, area otak yang berkaitan dengan imajinasi, emosi, dan penceritaan bekerja sangat aktif, sementara logika kita menurun drastis." Lonjakan aktivitas otak pada fase REM inilah yang juga memicu fenomena lain seperti mimpi di dalam mimpi yang terasa berlapis-lapis.

Pandangan Islam membagi mimpi secara tegas menjadi tiga kategori. Pertama, ru'ya atau mimpi baik sebagai kabar gembira dari Allah SWT. Kedua, hulm atau mimpi buruk yang berasal dari setan. Ketiga, hadits an-nafs yang lahir dari lintasan pikiran sehari-hari. Rasulullah SAW bersabda, "Ar-ru'yaa ash-shaalihah minallaah, wal-hulmu minasy-syaithaan", yang artinya, "Mimpi yang baik berasal dari Allah, sedangkan mimpi buruk berasal dari setan" (HR. Bukhari). Merujuk keterangan NU Online, ahli tafsir mimpi Ibnu Sirin dalam kitab Tafsir al-Ahlam menjelaskan bahwa setan dalam mimpi digambarkan sebagai musuh licik penuh tipu daya dalam urusan agama maupun dunia, yang terkadang berupa penguasa atau bahkan pihak keluarga. Adapun sosok jin lebih melambangkan orang-orang licik dan godaan duniawi yang menyesatkan. Islam mengajarkan langkah praktis menyikapinya: membaca ta'awudz, meludah kecil ke kiri tiga kali, mengubah posisi tidur, tidak menceritakan mimpi buruk kepada sembarang orang, serta membiasakan berwudhu dan membaca doa sebelum tidur seperti Ayat Kursi, Surat Al-Falaq, dan An-Nas.

Kabar baiknya, frekuensi mimpi menakutkan ini bisa dikelola. Mengacu pada ulasan Psychology Today, Imagery Rehearsal Therapy (IRT) menjadi terapi perilaku standar untuk gangguan mimpi buruk. Teknik ini dilakukan dengan menulis ulang jalan cerita mimpi sesuai keinginan, lalu melatih versi baru itu selama 10 hingga 20 menit saat terjaga. Alih-alih pertanda malapetaka, mimpi ini justru bisa menjadi pintu masuk untuk berdamai dengan diri sendiri. Banyak orang merasakan mimpi menakutkan berangsur mereda ketika mereka berani menghadapi akar persoalannya secara langsung.

Analisis Redaksi

Pertemuan antara penjelasan psikologi Carl Jung tentang shadow self, temuan sains Deirdre Barrett soal fase REM, dan klasifikasi mimpi dalam hadis riwayat Bukhari menunjukkan satu benang merah yang kuat. Ketiganya menolak anggapan bahwa mimpi setan adalah vonis nasib. Sebaliknya, ketiga perspektif tersebut menempatkan mimpi buruk sebagai mekanisme peringatan. Otak yang kehilangan kendali logika saat tidur memproses beban emosional yang diabaikan sepanjang hari, sementara tradisi Islam menyediakan kerangka spiritual agar pemrosesan itu tidak berujung pada keputusasaan.

Yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan masyarakat memperlakukan mimpi buruk semata-mata sebagai urusan mistis tanpa mencari akar masalah psikologisnya. Jika seseorang terus-menerus mengalami mimpi dikejar setan namun hanya mengandalkan penangkal tanpa mengevaluasi tingkat stres atau trauma yang sedang dihadapi, siklus ketakutan itu akan berulang. Pendekatan komprehensif yang menggabungkan relaksasi fisik, evaluasi mental, dan praktik keagamaan jauh lebih efektif memutus rantai tersebut.

Secara logis, langkah selanjutnya bagi mereka yang kerap mengalami gangguan tidur semacam ini adalah menerapkan disiplin kebersihan tidur. Membatasi konsumsi konten horor sebelum istirahat, menjaga jadwal tidur tetap konsisten, dan mempraktikkan teknik IRT yang direkomendasikan kajian psikologi modern dapat menurunkan intensitas mimpi buruk secara signifikan. Apabila upaya mandiri ini gagal dan mimpi terus mengganggu aktivitas harian, konsultasi dengan psikolog atau dokter bukanlah pilihan terakhir, melainkan langkah rasional yang sejalan dengan anjuran menjaga kesehatan jiwa dan raga.

BERITA TERKAIT (Selebriti)

Meow! Tanya Nesi!
😸