Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Dinsos Jaksel Latih Keluarga Miskin Jadi Pengusaha Kuliner Kekinian di Jagakarsa

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Dinsos Jaksel Latih Keluarga Miskin Jadi Pengusaha Kuliner Kekinian di Jagakarsa
BAGIKAN:

Dinas Sosial Jakarta Selatan menggelar pelatihan Usaha Ekonomi Produktif bagi keluarga miskin untuk mendorong kemandirian ekonomi melalui sektor kuliner kekinian. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Sasana Krida Karang Taruna Jagakarsa, Jakarta, sebagai langkah konkret pemerintah daerah memutus rantai kemiskinan lewat keterampilan langsung.

Program ini menyasar kelompok masyarakat yang selama ini bergantung pada bantuan sosial. Mereka dilatih mengelola usaha kuliner kekinian agar bisa bersaing di pasar yang terus bergerak cepat. Pendekatan semacam ini mengubah paradigma penanganan kemiskinan dari sekadar memberi ikan menjadi memberikan kail sekaligus mengajarkan cara memancing di kolam yang tepat.

Pelatihan Usaha Ekonomi Produktif bukan program sembarangan. Dinas Sosial Jakarta Selatan merancang kurikulum ini agar peserta memahami dasar-dasar bisnis makanan modern. Mulai dari pemilihan bahan baku, teknik pengolahan, hingga strategi pengemasan yang menarik minat konsumen muda. Semua materi dikemas secara praktis agar mudah diterapkan oleh warga dengan latar belakang pendidikan beragam.

Lokasi pelaksanaan di Gedung Sasana Krida Karang Taruna Jagakarsa juga membawa pesan tersendiri. Pemanfaatan fasilitas milik organisasi kepemudaan ini menunjukkan kolaborasi lintas elemen masyarakat dalam mengentaskan kemiskinan. Ruang publik yang biasanya digunakan untuk kegiatan pemuda kini berubah fungsi menjadi inkubator bisnis kecil bagi keluarga prasejahtera.

Bagi peserta yang hadir, pelatihan ini membuka pintu harapan baru. Sektor kuliner kekinian menawarkan margin keuntungan yang relatif lebih besar dibandingkan jualan makanan konvensional. Warga tidak lagi hanya menjual gorengan pinggir jalan, tetapi produk yang punya nilai tambah dan daya saing di platform penjualan digital maupun bazar-bazar lokal.

Kehadiran program ini menegaskan bahwa intervensi negara terhadap warga miskin harus bersifat transformatif. Bantuan tunai memang penting untuk bertahan hidup hari ini. Namun, keterampilan berwirausaha adalah tiket untuk bertahan hidup tahun depan dan seterusnya tanpa harus terus-menerus mengantre di loket penyaluran bansos.

Analisis Redaksi

Pelatihan Usaha Ekonomi Produktif oleh Dinas Sosial Jakarta Selatan di Jagakarsa ini merupakan sinyal pergeseran kebijakan sosial yang patut diapresiasi. Mengarahkan keluarga miskin masuk ke ekosistem kuliner kekinian berarti pemerintah menyadari bahwa pasar telah berubah. Orang-orang yang selama ini terpinggirkan secara ekonomi kini dituntut memahami selera pasar yang dinamis. Ini langkah maju dari pola pelatihan menjahit atau membuat kerajinan tangan yang kerap kali berujung pada produk menumpuk di lemari karena tidak ada pembelinya.

Namun, kewaspadaan tetap diperlukan. Memasuki industri kuliner kekinian membutuhkan modal kerja yang tidak kecil dan pemahaman tentang tren yang usianya sangat pendek. Dinas Sosial Jakarta Selatan harus memastikan pelatihan ini tidak berhenti di ruang kelas. Pendampingan pascapelatihan menjadi kunci. Tanpa akses ke modal awal, sertifikasi laik higiene, dan jaringan pemasaran, keterampilan yang diajarkan di Gedung Sasana Krida Karang Taruna hanya akan menjadi catatan di buku latihan yang tak pernah dipraktikkan.

Langkah logis selanjutnya yang harus ditempuh pemerintah daerah adalah membangun jejaring antara lulusan pelatihan ini dengan pelaku usaha mapan atau platform e-commerce lokal. Inkubasi bisnis selama tiga hingga enam bulan pascapelatihan akan menentukan apakah program ini benar-benar melahirkan pengusaha baru atau sekadar menghabiskan anggaran dinas. Keberhasilan satu atau dua peserta yang mampu mandiri secara finansial akan menjadi bukti paling otentik bahwa pengentasan kemiskinan lewat jalur wirausaha bukanlah utopia belaka.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸