⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Dewan Pers Tetapkan Lima Jurnalis Hilang di Anak Krakatau Sebagai Pahlawan Pers

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Dewan Pers Tetapkan Lima Jurnalis Hilang di Anak Krakatau Sebagai Pahlawan Pers
BAGIKAN:

Lima jurnalis yang hilang saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau resmi disebut sebagai pahlawan pers oleh Dewan Pers. Penetapan itu disampaikan Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat usai memimpin doa bersama untuk kelima jurnalis tersebut di Jakarta, Senin (21/9). Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat keras bagi seluruh perusahaan media tentang pentingnya koordinasi dengan pemerintah dan petugas setempat sebelum menerjunkan wartawan ke daerah berbahaya.

Komarudin menegaskan bahwa kelima jurnalis itu berjuang menyajikan foto-foto terbaik untuk publik. "Biasanya kita itu menikmati potret gambar, tapi kadang melupakan bagaimana perjuangan mereka untuk mendapatkannya. Nah, ketika ini terjadi musibah, kita baru tersadar betapa mahalnya, beratnya untuk mencari, mendapatkan gambar terbaik," kata Komarudin. Pernyataan itu ia sampaikan langsung di hadapan para jurnalis dan keluarga korban yang hadir dalam acara doa bersama tersebut.

Musibah ini tidak hanya menelan korban dari kalangan wartawan. Tiga awak kapal turut hilang dalam insiden yang sama. Ketua Pewarta Foto Indonesia Dwi Pambudo menyatakan duka mendalam atas hilangnya lima jurnalis dan tiga awak kapal itu. Ia memastikan organisasinya tidak tinggal diam. "Jadi saat ini pewarta foto Indonesia masih kuat, masih bersatu dengan masyarakat melakukan pencarian mandiri," kata Dwi di lokasi yang sama.

Dwi menilai dedikasi para pewarta yang hilang merupakan bentuk perjuangan untuk bangsa sesuai Undang-Undang. Karya-karya mereka selama ini menjadi ujung tombak yang mengungkap fakta dan peristiwa terkini kepada masyarakat. Ia berharap kejadian serupa tidak terulang di masa depan. "Harapannya teman-teman bisa kembali bersama keluarga dan karya-karya teman-teman bisa abadi," ujarnya.

Respons cepat dari pimpinan redaksi menjadi sorotan utama Dewan Pers. Komarudin meminta pihak pimpinan media memperhatikan betul prosedur pelepasan wartawan ke lapangan. "Sebab kalau ada musibah seperti ini tentunya kawan-kawan perusahaan, pimpinannya, hendaknya memberikan perhatian spesial pada keluarga yang ditinggal," tegasnya. Ia juga mengapresiasi seluruh pihak terkait yang terus berusaha mencari kelima jurnalis itu sambil menyampaikan belasungkawa resmi melalui acara doa bersama dan refleksi dari rekan-rekan seprofesi.

Pencarian mandiri yang digerakkan oleh Pewarta Foto Indonesia bersama masyarakat menunjukkan soliditas komunitas pers di tengah keterbatasan. Langkah ini membuktikan bahwa solidaritas kewartawanan tidak berhenti pada ruang redaksi. "Tentu doa kami semoga mereka kembali," pungkas Komarudin menutup sesi refleksi hari itu.

Analisis Redaksi

Hilangnya lima jurnalis dan tiga awak kapal di perairan Gunung Anak Krakatau membuka tabir risiko kerja jurnalistik lapangan yang kerap luput dari perhatian publik. Selama ini pembaca hanya menikmati hasil akhir berupa foto atau laporan tanpa pernah menghitung nyawa yang dipertaruhkan di baliknya. Pernyataan Komarudin Hidayat soal mahalnya harga sebuah gambar terbaik bukan sekadar retorika duka, melainkan tamparan nyata bagi industri media yang kadang terjebak mengejar kecepatan tanpa memperhitungkan keselamatan kru.

Peringatan Dewan Pers agar media berkoordinasi dengan petugas setempat harus diterjemahkan menjadi standar operasional yang mengikat, bukan sekadar imbauan lisan setelah jatuhnya korban. Perusahaan media wajib mengevaluasi ulang protokol peliputan di zona bencana alam. Tanggung jawab pimpinan redaksi tidak berhenti pada penugasan, tetapi mencakup jaminan keselamatan dan perlindungan penuh bagi keluarga wartawan jika risiko terburuk benar-benar terjadi.

Pencarian mandiri oleh Pewarta Foto Indonesia patut diapresiasi sebagai bentuk solidaritas organik. Namun secara logis, langkah selanjutnya harus mengarah pada pembentukan protokol keselamatan nasional bagi jurnalis yang bertugas di area vulkanik aktif. Tanpa perubahan sistemik pada tata kelola peliputan, tragedi Anak Krakatau hanya akan menjadi catatan duka yang berulang setiap kali gunung api lain menggeliat.

Meow! Tanya Nesi!
😸