Penurunan Energi dan Fokus di Sore Hari, Ini Kiat Mengatasinya Menurut Pakar
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Penurunan energi yang diikuti dengan munculnya rasa lesu dan berkurangnya fokus sering terjadi di sore hari pada banyak orang. Kondisi ini bukan sekadar mitos atau alasan untuk bermalas-malasan, melainkan respons biologis tubuh yang nyata dan dialami secara luas oleh pekerja maupun pelajar setelah beraktivitas sepanjang hari.
Rasa kantuk mendadak kerap menyerang tepat ketika tumpukan pekerjaan belum selesai diselesaikan. Mata terasa berat. Konsentrasi buyar seketika. Banyak orang langsung meraih cangkir kopi ketiga atau keempat sebagai jalan pintas, padahal langkah tersebut justru berpotensi mengganggu kualitas tidur di malam harinya.
Fenomena merosotnya stamina di paruh kedua hari kerja memiliki akar fisiologis yang kuat. Jam sirkadian manusia secara alami mengalami sedikit penurunan suhu inti tubuh pada rentang waktu antara pukul dua hingga empat sore. Penurunan suhu ini mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh membutuhkan istirahat, persis seperti mekanisme yang memicu rasa kantuk saat kita bersiap tidur di malam hari.
Kiat mengatasi kondisi ini sebenarnya tidak memerlukan intervensi medis yang rumit. Langkah pertama yang paling mendasar adalah mengevaluasi asupan makan siang. Konsumsi karbohidrat olahan dalam porsi besar memicu lonjakan gula darah yang cepat, disusul anjloknya kadar glukosa secara drastis beberapa jam kemudian. Anjloknya gula darah inilah yang membuat tubuh terasa lemas dan pikiran menjadi kabur.
Selain mengatur komposisi piring makan siang, pergerakan fisik singkat terbukti efektif mengembalikan kewaspadaan. Berjalan kaki selama sepuluh menit di luar ruangan memberikan paparan cahaya alami sekaligus memompa aliran darah ke seluruh jaringan otot dan otak. Hidrasi juga memegang peranan krusial. Kekurangan cairan ringan saja sudah cukup untuk menurunkan fungsi kognitif dan memperparah kelelahan.
Teknik manajemen waktu turut menentukan seberapa parah dampak penurunan energi ini terhadap produktivitas harian. Menjadwalkan tugas-tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi pada pagi hari merupakan strategi logis. Simpan pekerjaan administratif yang bersifat rutin dan repetitif untuk slot waktu sore hari ketika kapasitas mental sedang berada di titik terendah.
Analisis Redaksi
Merosotnya performa kerja di sore hari sering kali disalahartikan sebagai kemalasan semata. Padahal, memaksakan diri bekerja melampaui batas biologis tanpa strategi yang tepat hanya akan menghasilkan output berkualitas rendah. Pemahaman dasar tentang ritme sirkadian seharusnya menjadi bekal wajib bagi setiap individu yang ingin menjaga kesehatan jangka panjang sekaligus mempertahankan produktivitas.
Yang perlu diwaspadai adalah kebiasaan menutupi kelelahan dengan stimulan berlebih. Ketergantungan pada kafein dosis tinggi atau minuman berenergi kemasan hanya menunda masalah. Tubuh akan menuntut pelunasan utang tidur tersebut dengan bunga yang jauh lebih mahal berupa gangguan metabolik atau insomnia kronis jika dibiarkan terus-menerus.
Secara logis, perusahaan dan institusi pendidikan perlu mulai mempertimbangkan penyesuaian jadwal kerja yang lebih selaras dengan ritme alami manusia. Menyediakan ruang istirahat singkat atau mendorong jeda aktif di sore hari bukanlah bentuk kemurahan hati, melainkan investasi rasional untuk menjaga agar roda organisasi tetap berputar efisien tanpa mengorbankan kesejahteraan pekerjanya.


