Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kronologi Lengkap Rifad dan Rahmat Saling Pukul Berujung Kartu Merah di Laga Borneo FC vs Bali United

OlahragaEka SaputraEka SaputraSumber: CNN Olahraga
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Kronologi Lengkap Rifad dan Rahmat Saling Pukul Berujung Kartu Merah di Laga Borneo FC vs Bali United
BAGIKAN:

Rifad Marasabessy dan Rahmat Arjuna sama-sama diusir wasit melalui kartu merah langsung setelah terlibat aksi saling pukul pada laga pekan ketiga Super League 2026/2027 antara Borneo FC melawan Bali United di Stadion Segiri, Minggu (20/9). Insiden yang berlangsung cepat itu mengubah arah pertandingan secara drastis sebelum tuan rumah akhirnya menang tipis 1-0.

Pertandingan ini berjalan sengit sejak menit pertama. Borneo FC datang dengan misi mengakhiri hasil negatif, sementara sang tamu memburu konsistensi di awal musim. Ketegangan mulai terasa ketika Rifad masuk menggantikan Komang Teguh Trisnanda yang mengalami cedera pada menit ke-21. Masuknya pemain bernomor punggung 47 itu langsung mengubah komposisi pertahanan Pesut Etam, julukan Borneo FC.

Puncak masalah terjadi saat pertandingan memasuki menit ke-35. Bali United sedang menguasai jalannya laga ketika Rahmat dan Rifad berlari beriringan di lini tengah. Terjadi senggolan antara keduanya dalam situasi perebutan bola tersebut. Tangan Rifad kemudian terlihat mengenai bagian wajah Rahmat. Winger Serdadu Tridatu itu bereaksi refleks dengan melayangkan pukulan tepat ke tengkuk lawannya.

Mendapat pukulan tak terduga, Rifad langsung membalas. Ia menghantamkan bogem mentah ke tubuh Rahmat hingga pengguna nomor punggung 47 milik Bali United itu tumbang di atas rumput menahan sakit. Wasit Naufal Adya Fairuski seketika meniup peluit penghentian laga dan bergegas menghampiri lokasi perkara. Tanpa ragu, Naufal mengeluarkan kartu merah dari sakunya dan mengarahkannya kepada Rifad.

Pemain Borneo FC langsung melancarkan protes. Rifad berusaha menjelaskan duduk perkara kepada wasit menggunakan gerakan tangan, mengisyaratkan ada pukulan ke tengkuknya lebih dulu dari Rahmat. Setelah situasi sedikit tenang dan Rifad keluar lapangan, Naufal diminta wasit VAR untuk meninjau ulang insiden tersebut melalui layar monitor. Hasil peninjauan VAR membuat keputusan bertambah: kartu merah juga diberikan kepada Rahmat. Pemain Bali United itu saat itu sudah ditandu keluar lapangan untuk mendapat perawatan tim medis sehingga otomatis tidak bisa melanjutkan pertandingan. Pelatih Bali United, Jan Jansen, langsung melontarkan protes keras. Naufal kemudian mendatangi Jansen di pinggir lapangan. Tak sampai 30 detik memberikan penjelasan, Jansen tampak menerima keputusan yang diberikan kepada pemainnya.

Dampak insiden ini sangat terasa bagi jalannya laga. Bermain dengan keunggulan jumlah pemain setelah dua kartu merah tersebut, Borneo FC berhasil memecah kebuntuan. Juan Villa mencetak gol tunggal kemenangan tuan rumah melalui titik putih pada menit ke-54 setelah Tim Geypens melakukan pelanggaran di kotak terlarang. Tekanan fisik dan emosional terus berlanjut hingga pertengahan babak kedua. Tepatnya pada menit ke-71, Tim Charles Pieter Receveur harus menyusul rekan-rekannya ke luar lapangan setelah mendapat kartu merah akibat pelanggaran keras kepada pemain Borneo FC.

Analisis Redaksi

Insiden saling pukul antara Rifad Marasabessy dan Rahmat Arjuna memperlihatkan betapa rapuhnya kontrol emosi pemain ketika tensi pertandingan meninggi. Penggunaan teknologi VAR oleh wasit Naufal Adya Fairuski menjadi kunci krusial dalam memastikan keadilan. Tanpa peninjauan ulang tersebut, pukulan awal Rahmat ke tengkuk Rifad berpotensi luput dari sanksi berat, mengingat kartu merah pertama hanya ditujukan kepada Rifad. Keputusan memanggil wasit ke layar monitor menunjukkan protokol VAR di Super League musim ini berjalan sesuai fungsinya sebagai jaring pengaman terakhir.

Kehilangan tiga pemain karena kartu merah dalam satu laga—dua dari kubu Bali United dan satu lagi lewat Tim Charles Pieter Receveur—menjadi catatan buruk bagi disiplin kedua tim di awal kompetisi. Bagi Jan Jansen, kehilangan Rahmat Arjuna yang harus ditandu keluar bukan sekadar kerugian taktis, melainkan ancaman absen panjang yang bisa mengganggu rotasi skuad Serdadu Tridatu. Sementara itu, kemenangan 1-0 lewat gol penalti Juan Villa memberi napas lega bagi Borneo FC yang memang mendesak mengakhiri tren negatif mereka.

Komisi Disiplin liga hampir pasti akan membuka berkas tambahan terkait insiden kekerasan fisik ini. Aturan standar biasanya menjatuhkan larangan bertanding minimal tiga laga untuk tindakan kekerasan langsung, namun durasinya bisa bertambah jika rekaman VAR membuktikan adanya intensitas pukulan yang membahayakan keselamatan lawan. Kedua klub perlu segera mengevaluasi manajemen emosi pemainnya agar rentetan kartu merah di pekan ketiga ini tidak menjadi preseden buruk sepanjang musim.

Meow! Tanya Nesi!
😸