Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

RI Produsen Ikan Tangkap Terbesar Kedua Dunia, Nilai Ekonomi Masih Rendah

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

RI Produsen Ikan Tangkap Terbesar Kedua Dunia, Nilai Ekonomi Masih Rendah
BAGIKAN:

Indonesia mengukuhkan posisinya sebagai raksasa perikanan tangkap global dengan kontribusi sebesar 9,1 persen terhadap produksi dunia. Data resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan total produksi perikanan nasional pada Kuartal II-2026 menembus angka 6,78 juta ton. Dari jumlah masif tersebut, sektor perikanan tangkap menyumbang 1,79 juta ton, menempatkan Indonesia di peringkat kedua setelah China.

Pencapaian volume ini bukan sekadar angka statistik belaka, melainkan cerminan potensi maritim yang belum sepenuhnya terkonversi menjadi kesejahteraan nyata. Meski volumenya besar, struktur ekonomi sektor ini masih menghadapi tantangan fundamental terkait nilai tambah. Produksi yang melimpah tidak serta merta berbanding lurus dengan pendapatan nelayan jika hilirisasi industri tidak berjalan optimal.

Salma Laiqa, ESG Analyst dari CNBC Indonesia Research, menyoroti paradoks ini dalam diskusi Squawk Box, CNBC Indonesia pada Rabu, 16 September 2026. Ia menegaskan bahwa posisi Indonesia sebagai produsen terbesar kedua dunia harus dibarengi dengan strategi peningkatan nilai ekonomi. Tanpa intervensi struktural, dominasi volume hanya akan menjadi prestasi semu bagi para pelaku usaha kecil di garis pantai.

Hilirisasi menjadi kata kunci untuk memecah kebuntuan nilai rendah tersebut. Proses pengolahan hasil tangkapan menjadi produk jadi atau setengah jadi dapat melipatgandakan margin keuntungan sebelum ikan sampai ke tangan konsumen akhir. Langkah ini juga membuka lapangan kerja baru di luar aktivitas penangkapan langsung, menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih tahan guncangan harga komoditas mentah.

Selain aspek ekonomi, keberlanjutan sumber daya dan penegakan hukum menjadi pilar krusial. Upaya memberantas illegal fishing tidak hanya soal kedaulatan wilayah, tetapi juga menjaga stok ikan agar tetap tersedia untuk generasi mendatang. Keseimbangan antara eksploitasi ekonomis dan konservasi ekologis adalah syarat mutlak untuk meningkatkan keekonomian sektor perikanan secara jangka panjang.

Analisis Redaksi

Kesenjangan antara volume produksi tinggi dan nilai ekonomi rendah menandakan adanya inefisiensi rantai pasok yang kronis. Nelayan lokal sering terjebak dalam posisi tawar lemah karena menjual hasil tangkapan dalam kondisi segar tanpa proses pengolahan. Pemerintah perlu mendorong investasi di fasilitas cold chain dan pabrik pengolahan di daerah pesisir agar nilai tambah tetap berada di tangan masyarakat lokal, bukan hanya tengkulak.

Keberhasilan program hilirisasi perikanan sangat bergantung pada konsistensi pengawasan terhadap praktik penangkapan ilegal. Jika stok ikan terus terkikis oleh aktivitas ilegal, upaya peningkatan kesejahteraan nelayan akan sia-sia karena basis sumber dayanya sendiri runtuh. Integrasi antara penegakan hukum laut dan pengembangan industri hilir adalah satu-satunya jalan logis untuk mengubah potensi maritim menjadi kemakmuran riil.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ