Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Panduan Aman Meredakan Cegukan pada Bayi dan Mitos Berbahaya yang Wajib Dihindari Orang Tua

SelebritiRio DewantaraRio DewantaraSumber: KapanLagi
Rio Dewantara
Rio Dewantara
Kritikus Film

Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Panduan Aman Meredakan Cegukan pada Bayi dan Mitos Berbahaya yang Wajib Dihindari Orang Tua
BAGIKAN:

Cegukan pada bayi hampir selalu merupakan kondisi fisiologis normal yang dipicu oleh kontraksi tiba-tiba otot diafragma di bawah paru-paru, sehingga pita suara menutup dan menghasilkan bunyi khas "hik". Cara paling mendasar untuk meredakannya adalah menghentikan sesi menyusu sejenak selama lima hingga sepuluh menit, lalu membantu bayi bersendawa guna mengeluarkan gas berlebih dari perutnya. Dilansir dari Healthline, bayi berusia di bawah satu tahun akan cukup sering mengalami cegukan, dan umumnya kondisi ini berhenti sendiri dalam 5 sampai 10 menit tanpa memerlukan intervensi medis khusus.

Sebagian besar cegukan muncul karena udara yang tertelan atau perut yang terlalu penuh ketika menyusu. Kylie Liermann, dokter anak yang dikutip dari Cleveland Clinic, menegaskan fakta tersebut secara lugas: "Cegukan bayi sangat umum terjadi dan biasanya bukan sebuah masalah." Karena itu, penyesuaian proses menyusu menjadi langkah pertama yang wajib dilakukan orang tua. Menyendawakan bayi dengan usapan atau tepukan lembut di punggung—bukan pukulan keras—membantu menghilangkan pemicu utama cegukan tersebut.

Teknik pemberian susu menuntut perhatian lebih detail agar efektif mencegah cegukan berulang. Bayi bisa cegukan karena menyusu terlalu cepat, sehingga teknik paced bottle-feeding perlu diterapkan bagi pengguna botol untuk memperlambat aliran susu. Posisikan botol pada kemiringan sekitar 45 derajat agar udara tidak ikut tertelan, dan beri jeda untuk menyendawakan bayi setiap 15-20 ml susu. Ameera Nauman, dokter anak sebagaimana dikutip dari OSF HealthCare, menjelaskan mekanismenya: "Saat bayi berhenti menyusu dan rileks, cegukannya akan berhenti." Pastikan pula bayi dalam keadaan tenang sebelum mulai menyusu; jangan menunggu ia sangat lapar sampai kesal dan menangis.

Selain penyesuaian pola minum susu, sentuhan fisik dan posisi tubuh memainkan peran krusial. Kirkilas, sebagaimana dikutip dari WebMD, menyatakan bahwa menggendong bayi dengan aman dalam posisi tegak "akan membantu mencegah gumoh dan memudahkan bayi bersendawa", idealnya selama 20-30 menit setelah menyusu. Memberikan empeng juga terbukti membantu merilekskan diafragma saat bayi mulai cegukan di luar waktu makan. Pijatan lembut dengan gerakan melingkar dari tulang belikat menuju punggung bawah menggunakan minyak bayi, tekanan ringan pada dada, serta alunan white noise berupa senandung atau suara "sst" menjadi opsi tambahan yang menenangkan. Terkait hal ini, seorang dokter anak bernama Forgenie, sebagaimana dikutip The Bump, menyampaikan bahwa "hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menunggu dan yakin cegukan akan reda dengan sendirinya".

Banyak mitos beredar luas di masyarakat yang justru berisiko membahayakan keselamatan bayi. Para ahli mengingatkan agar orang tua tidak pernah mengejutkan, menakut-nakuti, menarik lidah, menekan ubun-ubun, maupun menutup hidung bayi. Meletakkan kain basah di dahi sama sekali tidak bekerja. Pemberian gripe water atau ramuan tradisional tidak disarankan dokter anak karena ketiadaan bukti ilmiah, sementara memberi air putih pada bayi di bawah enam bulan berpotensi memicu ketidakseimbangan elektrolit. Aktivitas berlebihan seperti mengguncang bayi tepat setelah menyusu harus dihindari setidaknya selama 30 menit.

Hillary Sismondo, dokter anak kepada TODAY, merangkum realitas di lapangan dengan tepat: "Cegukan cenderung lebih mengganggu orang tua daripada bayinya." Selama bayi tetap mau menyusu, aktif, dan tampak nyaman, kepanikan tidak diperlukan. American Academy of Pediatrics merekomendasikan panduan sederhana bila cegukan muncul saat menyusu: ubah posisi bayi, coba buat ia bersendawa atau bantu ia rileks, lalu tunggu sampai cegukan hilang sebelum melanjutkan pemberian susu. Pemahaman tentang posisi menyusui yang benar sejak awal turut mendukung tumbuh kembang bayi di bulan-bulan pertama kehidupannya.

Analisis Redaksi

Panduan penanganan cegukan bayi ini memperlihatkan jurang pemisah yang tajam antara pengetahuan medis berbasis bukti dan praktik turun-temurun yang masih mengakar kuat di masyarakat. Metode-metode berbahaya seperti menarik lidah atau menutup hidung bayi menunjukkan betapa rentannya kelompok usia ini terhadap intervensi orang dewasa yang keliru. Fakta bahwa sebagian besar cegukan berhenti sendiri dalam 5 sampai 10 menit seharusnya menjadi pengingat bagi para orang tua untuk menahan diri dari tindakan reaktif yang justru memperburuk kondisi fisiologis bayi.

Yang patut diwaspadai adalah kecenderungan mengabaikan tanda bahaya ketika cegukan bertransformasi dari refleks normal menjadi gejala gangguan kesehatan lain. Cegukan yang muncul hampir setiap kali selesai menyusu, disertai batuk, gumoh berlebih, berat badan sulit naik, atau muntahan berwarna hijau, mengarah pada indikasi refluks asam lambung yang membutuhkan evaluasi klinis. Lebih serius lagi, bibir kebiruan yang menandakan kadar oksigen rendah atau masalah bernapas mengharuskan orang tua segera mencari bantuan medis tanpa kompromi.

Langkah selanjutnya secara logis menuntut edukasi kesehatan preventif yang lebih masif dan terstruktur, terutama menyasar ibu baru dan pengasuh utama. Tenaga kesehatan di tingkat puskesmas maupun rumah sakit perlu menjadikan materi ini sebagai bagian standar dari konseling pasca-persalinan. Mengganti kebiasaan lama dengan pemahaman anatomi dasar—seperti fungsi diafragma dan risiko elektrolit pada bayi di bawah enam bulan—akan menekan angka kejadian tersedak akibat penanganan cegukan yang salah kaprah.

Meow! Tanya Nesi!
😸