Lefundes Kecewa Laga Lawan Persija Dipindah ke Bali Tanpa Penonton
Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Pelatih Java United Fabio Lefundes menampung kekecewaan atas keputusan operator liga memindahkan laga pekan ketiga Super Lawan Persija Jakarta ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Sabtu (19/9) malam โ sebuah konsekuensi sanksi Komdis PSSI yang melarang Persija menggelar pertandingan kandang di wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.
Laga itu berlangsung tanpa penonton. Dalam jumpa pers Jumat (18/9) siang, mantan juru latih Borneo FC itu menegaskan ketidakhadiran suporter sama sekali tidak menguntungkan pihak manapun. "Saya pribadi tentu lebih memilih pertandingan ini digelar di kandang kami sendiri," ujar Lefundes dengan nada tegas, "namun, karena ini bukan keputusan kami, kami hanya bisa menunggu keputusan resmi."
Dia menilai pihak penjadwal semestinya sudah mengantisipasi potensi masalah sejak dini. "Sejujurnya, pihak yang menyusun jadwal semestinya sudah mengantisipasi potensi masalah pada tanggal tersebut," tambah pelatih berusia 54 tahun itu. Pilihan Bali memang dianggap memadai dari sisi fasilitas, namun bagi Lefundes, stadion tanpa tribune penuh hanyalah kerangka kosong.
I-League sendiri justru membuka peluang suporter tim tamu hadir asalkan rivalitas tidak tergolong keras โ ketentuan yang seharusnya memungkinkan atmosfer kompetitif tetap terjaga. Lefundes justru menginginkan suasana itu. "Pemain selalu menyukai atmosfer stadion yang ramai. Sayang sekali pada pertandingan besok melawan Persija, kami tidak dapat merasakan atmosfer tersebut," imbuhnya.
Bagi Java United yang baru memasuki kompetisi, kehilangan keuntungan kandang dan dukungan penonton di laga berat lawan Persija menjadi ujian mental sebelum bola berguling. Klub harus beradaptasi dengan jadwal yang dikendarai faktor luar, bukan kebutuhan sportif.
Analisis Redaksi
Pemindahan laga ke Bali mengungkap kelematan sistem penjadwalan liga yang bersifat reaktif, bukan proaktif. Sanksi Komdis terhadap Persija sudah pasti diketahui jauh sebelum jadwal pekan ketiga ditetapkan, namun operator liga tampak menunggu hingga terpaksa mencari lapangan cadangan di pulau lain. Hal ini menciptakan ketidakadilan sportif: Persija kehilangan keuntungan kandang, Java United kehilangan dukungan penonton, dan kualitas tayangan menurun tanpa atmosfer tribune.
Langkah logis selanjutnya adalah PSSI dan operator liga harus menyusun protokol penjadwalan yang terintegrasi dengan mekanisme disiplin. Setiap keputusan Komdis harus otomatis memicu penyesuaian jadwal minimal dua pekan sebelumnya, bukan menunggu H-1. Tanpa itu, musim depan akan terulang: klub jadi korban kebijakan yang tidak sinkron, dan sepak bola Indonesia kehilangan daya jual produknya sendiri.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Janice Tjen Diproyeksi Ulangi Kejayaan sebagai Unggulan Pertama Chennai Open 2026

Jokowi dan Shin Tae Yong Saksi Ijab Bahagia Pernikahan Asnawi & Yuriska

Toraja Academy Turunkan 100 Atlet untuk Tembus Prestasi di CNN Indonesia Taekwondo Championship
