Tanoto Foundation Terapkan Lesson Study RME di Dumai, Siswa Temukan Rumus Matematika Lewat Membungkus Kado
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Tanoto Foundation meluncurkan inovasi pembelajaran literasi dan numerasi berbasis konteks lokal di Kota Dumai melalui program Fasda Perubahan, dengan uji coba nyata di SMPN 14 Dumai yang memadukan metode Lesson Study dan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME).
Dalam praktik pembelajaran matematika hari ini, guru mengajak siswa memahami konsep luas permukaan balok bukan melalui hafalan rumus, melainkan aktivitas membungkus kado. "Dari permasalahan itu, anak-anak mengukur dan melakukan aktivitas sendiri. Dari situ mereka menemukan rumus luas permukaan balok, kemudian menghitung berapa kertas kado yang dibutuhkan," ujar Kepala SMPN 14 Dumai, Rudi Candra, saat mengamati tahap do di kelas.
Proses ini tidak instan. Sebelumnya, pelatihan sudah dilaksanakan bagi guru perwakilan sekolah-sekolah di Kota Dumai yang kemudian wajib mendiseminaskan pengetahuan ke rekan sejawat di masing-masing unit pendidikan. Rudi menjelaskan, lesson study berjalan dalam tiga tahap berturut-turut: plan (perencanaan kolaboratif), do (praktik pembelajaran), dan see (refleksi menilai keberhasilan dan kekurangan).
Project Management Unit Tanoto Foundation, Yusriwiati Yose, menegaskan Fasda Perubahan dirancang sebagai ruang gerak bagi fasilitator daerah menjadi agen perubahan. "Fasda Perubahan merupakan kesempatan untuk mengatasi tantangan literasi dan numerasi di daerah. Melalui proyek ini, Fasda didorong menjadi agen perubahan yang mampu melahirkan inovasi peningkatan literasi dan numerasi berbasis konteks lokal," kata Yusriwiati.
Untuk wilayah Riau, program tahun 2026 menyasar tiga daerah: Kota Dumai, Kota Pekanbaru, dan Kabupaten Bengkalis. Di Dumai saja terdapat tiga proyek unggulan, yakni Gemilang yang memanfaatkan potensi wisata lokal, EduCore Numeracy melalui kolaborasi Lesson Study RME, serta Anre Beraksi dengan Gerakan Literasi Terbimbing (GLITTER).
Analisis Redaksi
Pemilihan RME yang berlandaskan kehidupan sehari-hari โ seperti membungkus kado โ adalah langkah tepat untuk memecahkan stigma matematika sebagai mata pelajaran abstrak dan menakutkan. Namun, keberhasilan model cascade (pelatihan bertingkat) sangat bergantung pada kualitas diseminasi guru inti ke guru lain; seringkali nuansa pedagogis hilang di tengah perjalanan. Tanpa sistem monitoring ketat dari dinas pendidikan setempat, inovasi ini berisiko terjebak sebagai proyek ceremonial yang mati saat dana habis.
Langkah logis selanjutnya bukan sekadar replikasi ke sekolah lain, tapi institutionalisasi. Dinas Pendidikan Kota Dumai harus mengadopsi pola lesson study ini ke dalam program pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) guru, complete dengan alokasi anggaran APBD. Jika hanya mengandalkan dana yayasan, keberlanjutan inovasi ini akan rapuh. Bukti nyata diperlukan: apakah nilai numerasi siswa benar-benar naik di asesmen nasional tahun depan, atau hanya suasana kelas yang jadi lebih rame?
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Jelang HUT Marinir, 450 Personel Gabungan Bersihkan Pantai Kalibaru untuk Jaga Ekosistem Pesisir Jakarta

Dorong Beralih ke Air Pipaan, Jakpus dan PAM Jaya Sosialisasikan Denda Minimum 10 Meter Kubik per Bulan

Respons Tegas Jaktim: Patroli Gabungan Digelar di Hutan Kota Cawang Pasca Viral Video Dugaan Aktivitas Asusila
