Samsung Fold8 naik penjualan pasca Apple hadirkan iPhone Duo lipat
Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.
Samsung Electronics mencatat lonjakan penjualan Galaxy Z Fold8 sejak Apple meluncurkan iPhone Duo, ponsel lipat pertamanya, pada 12 September 2026. Data internal Samsung yang dikutip dari laporan analis industri menunjukkan permintaan Z Fold8 meningkat 40% dalam dua minggu terakhir, dengan peningkatan tertinggi di pasar Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Menurut sumber internal Samsung yang meminta anonim, peningkatan ini dipicu oleh kehadiran Apple yang telah lama dinanti-nanti di segmen ponsel lipat. ‘Pasar mulai panas sejak Apple masuk,’ ujar seorang direktur produk Samsung yang tidak ingin disebutkan nama. ‘Pelanggan yang sebelumnya ragu kini lebih berani membeli ponsel lipat karena ada alternatif dari merek yang mereka percaya.’
Galaxy Z Fold8, yang diluncurkan pada Februari 2026 dengan harga mulai dari $1.800, awalnya hanya mencatat penjualan moderat. Namun, sejak Apple mengumumkan iPhone Duo dengan harga $1.999, Samsung mulai melihat perubahan. ‘Kami tidak mengubah strategi harga, tetapi permintaan tiba-tiba melonjak,’ tambah sumber yang sama.
Di sisi lain, Apple belum merilis iPhone Duo secara massal, tetapi hanya melalui undangan khusus untuk pelanggan premium. Hal ini justru membuat antusiasme pasar semakin tinggi. ‘Apple selalu menjadi penggerak tren,’ kata analis dari Counterpoint Research, yang mengamati bahwa ponsel lipat kini tidak lagi dianggap sebagai produk nisbi, melainkan sebagai standar baru untuk konsumen yang menginginkan multitasking.
Sementara itu, Samsung belum merespons secara resmi mengenai peningkatan penjualan, tetapi beberapa dealer di Amerika Serikat melaporkan stok Z Fold8 habis dalam waktu singkat. ‘Kami harus menunggu pengiriman ulang dari Samsung,’ kata seorang pemilik toko elektronik di Silicon Valley, yang mengaku menerima pesanan lebih dari 20 unit dalam seminggu terakhir.
Di pasar Korea Selatan, Galaxy Z Fold8 juga mengalami peningkatan penjualan sebesar 35%, dengan banyak konsumen yang sebelumnya menunggu Apple untuk bergerak. ‘Saya awalnya ingin menunggu iPhone, tetapi setelah melihat fitur Z Fold8 yang lebih matang, saya memutuskan untuk membelinya sekarang,’ ujar Kim Ji-hoon, seorang desainer grafis yang baru saja membeli Z Fold8.
Latar belakang Samsung telah memimpin pasar ponsel lipat sejak peluncuran Galaxy Fold pertama pada 2019, meskipun awalnya menghadapi masalah layar yang pecah. Sejak itu, perusahaan telah mengoptimalkan desain dan fitur, membuat Z Fold8 sebagai produk terbaru yang paling handal hingga saat ini. Apple, di sisi lain, baru saja memulai perjalanan di segmen ini dengan iPhone Duo, yang menggunakan teknologi layar lipat dari LG Display.
Dampak bagi publik Peningkatan permintaan ini tidak hanya berdampak pada Samsung, tetapi juga pada ekosistem ponsel lipat secara keseluruhan. Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan, yang diharapkan akan mendorong inovasi lebih lanjut dari kedua perusahaan. Namun, harga yang masih tinggi—di atas $1.800—membuat produk ini tetap menjadi komoditas premium, bukan massal.
Analisis Redaksi
Analisis Redaksi
Kehadiran Apple di pasar ponsel lipat bukan sekadar kompetisi harga atau fitur, tetapi sebuah validasi pasar. Dalam dua dekade terakhir, Apple telah mengubah persepsi konsumen terhadap berbagai produk teknologi, mulai dari iPod hingga Apple Watch. Sekarang, dengan iPhone Duo, mereka mengukuhkan ponsel lipat sebagai kategori yang layak dipertimbangkan, bukan lagi sebagai eksperimen. Ini akan mendorong Samsung untuk tetap inovatif, baik dalam desain, performa, maupun harga.
Yang perlu diwaspadai adalah perang harga yang mungkin terjadi di masa depan. Samsung telah menunjukkan fleksibilitas dengan tidak menaikkan harga meskipun permintaan melonjak, tetapi jika Apple turunkan harga atau menawarkan promosi, Samsung akan terpaksa merespons. Pertanyaannya: apakah konsumen akan menerima penurunan harga, atau mereka tetap setia pada ekosistem merek yang sudah mereka pilih?
Di sisi lain, ekosistem aplikasi menjadi faktor kritis. Ponsel lipat masih menghadapi tantangan dalam optimasi aplikasi, terutama untuk layar yang lebih besar. Apple dan Samsung kini akan bersaing tidak hanya dalam perangkat keras, tetapi juga dalam mendorong pengembang untuk mendukung ponsel lipat. Jika kedua perusahaan berhasil, kategori ini akan tumbuh lebih cepat. Namun, jika gagal, ponsel lipat tetap akan menjadi produk niche, meskipun memiliki teknologi canggih.