⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.2 di 189 km SSW of Pelabuhanratu, Indonesia pada 18/9/2026, 21.36.17. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.

Prabwo Ungkap Kritik Pakar soal Gaya Berpidato Tanpa Teks di HUT PAN

Berita Nasional
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Pimpinan Redaksi

Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

Prabwo Ungkap Kritik Pakar soal Gaya Berpidato Tanpa Teks di HUT PAN
BAGIKAN:

Presiden Prabowo Subianto secara terbuka menyinggung gaya komunikasinya yang cenderung berpidato tanpa teks di hadapan audiens. Dalam acara peringatan Hari Ulang Tahun ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta pada Jumat, 18 September, ia menegaskan bahwa kritikus utama gaya bicaranya hanyalah kalangan pakar dan elite politik.

"Kalau yang enggak suka para pakar, para elite," kata Prabowo dengan tegas. Pernyataan ini dilontarkan sebagai respons terhadap banyaknya masukan yang ia terima dari berbagai ahli komunikasi dan politik. Para pakar tersebut umumnya menyarankan agar presiden menggunakan naskah atau teks saat menyampaikan orasi publik demi menjaga konsistensi pesan.

Namun, Prabowo menolak saran tersebut dengan alasan kedekatannya dengan rakyat Indonesia. Ia mengaku lebih nyaman berbicara apa adanya daripada terikat pada struktur kalimat tertulis. Bagi mantan Pangkoopsudnas ini, kemampuan membaca situasi langsung dianggap lebih penting daripada ketaatan pada naskah baku.

Ketika berdiri di depan anggota dan simpatisan PAN, Prabowo juga menilai reaksi fisik hadirin sebagai validasi atas pilihannya. Ia menyebut mampu melihat ketulusan antusiasme melalui ekspresi wajah dan tatapan mata penonton. Menurutnya, audiens现场 lebih menyukai spontanitas dibandingkan formalitas pidato berkutipan teks.

Pendekatan komunikatif ini menjadi sorotan tersendiri dalam dinamika politik nasional. Meskipun banyak pihak merasa khawatir dengan potensi deviasi narasi, Prabowo tetap mempertahankan prinsip "bicara apa adanya" sebagai bagian dari identitas kepemimpinannya. Hal ini menunjukkan prioritas berbeda antara standar akademis komunikasi dan realitas interaksi politik praktis.

Analisis Redaksi

Pernyataan Prabowo menyoroti kesenjangan mendasar antara teori komunikasi modern dan praktik kepemimpinan di Indonesia. Secara teknis, pidato berbasis teks dinilai lebih aman untuk mengontrol isu strategis. Namun, bagi publik yang lelah dengan retorika kaku, spontanitas sering kali diterjemahkan sebagai tanda kejujuran dan keberanian.

Fenomena ini perlu diwaspadai oleh lembaga demokrasi karena risiko misinformasi bisa meningkat jika tidak ada kerangka naskah yang ketat. Di sisi lain, menolak kritik pakar bisa dianggap sebagai bentuk arogansi intelektual jika tidak dibarengi akuntabilitas konten. Publik harus cerdas memilah antara gaya yang atraktif dengan substansi kebijakan yang konkret.

Masa depan komunikasi presidensial akan sangat bergantung pada bagaimana Presiden menyeimbangkan dua dunia ini. Apakah ia akan tetap memilih jalan unik yang dipertanyakan oleh para ahli, atau akhirnya menerima standardisasi komunikasi? Langkah selanjutnya tergantung pada apakah pendekatan "tanpa teks" ini masih efektif menjaga kepercayaan publik di tengah kompleksitas isu negara.

Meow! Tanya Nesi!
😸