Prabowo Ceritakan Baca 'Warrior of the Light' Saat Hidup di Titik Terendah Pasca-1998
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan novel Warrior of the Light karya Paulo Coelho menjadi bacaan yang menyelamatkannya di masa tergelap hidupnya, pasca pencopotan dan serangkaian tuduhan berat pada akhir tahun 1990-an. Pengakuan itu disampaikannya dalam Program Presiden Prabowo Menjawab yang tayang Jumat (18/9).
Buku berukuran tipis itu pertama kali sampai ke tangannya lewat saudara perempuannya, Maryani Djojohadikusumo, pada awal 2000-an. Saat itu Prabowo baru saja dilepaskan dari jabatannya sebagai Komandan Kostrad, dihantui tuduhan kudeta hingga kasus penculikan aktivis, dan merasa hidupnya berada di titik nadir.
"Saya habis lengser 98/99, saya dituduh macam-macam, kudeta, ini semua, penculikan apa semua, saya titik nadir," ujarnya sambil mengingat masa di mana nama baik dan karier militernya runtuh sekaligus. Ia lalu melahap isi buku tersebut dalam sekali duduk, dan air matanya mengalir tak terduga.
Menurut Kepala Negara, setiap baris yang ditulis Coelho terasa berbicara langsung kepadanya di tengah keputusasaan. Pengalaman membaca itu ia sebut sebagai momen di mana kata-kata seorang novelis Brazil berhasil menembus kegelapan yang melingkupi pikirannya selama bertahun-tahun.
Karena itulah ia kini menyarankan generasi muda Indonesia untuk membaca karya penulis The Alchemist tersebut. Baginya, buku itu bukan sekadar hiburan, melainkan panduan spiritual yang relevan bagi siapa pun yang sedang berhadapan dengan kegagalan dan kehinaan publik.
Analisis Redaksi
Pengakuan seorang presiden soal kerentanan pribadi di masa lalu jarang terdengar di ruang publik formal. Prabowo memilih narasi literasi — bukannya retorika kekuasaan — untuk menjelaskan bagaimana ia bangkit dari keputusasaan. Pilihan itu menandakan upaya membangun citra kepemimpinan berbasis refleksi batin, bukan sekadar legitimasi sejarah militer.
Nama Maryani Djojohadikusumo muncul kembali sebagai figur kunci di balik layar perjalanan politik saudaranya. Peran perempuan dalam jaringan keluarga Djojohadikusumo sering terselubung di balik dominasi figuran laki-laki, namun episodenya ini menunjukkan pengaruh substansial dalam membentuk ketahanan mental pemimpin tertinggi negara.
Rekomendasi bacaan ke generasi muda juga mengisyaratkan arah kebudayaan yang ingin ditanamkan: literasi sebagai alat survival, bukan sekadar hobi. Jika Presiden konsisten mengusung narasi ini, jangan heran jika program literasi nasional ke depan akan dikaitkan dengan narasi ketahanan karakter bangsa.
