Pertamina Patra Niaga Tambah Stok BBM Atasi Antrean Panjang di SPBU Kendari
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.
Pertamina Patra Niaga menyuntikkan stok bahan bakar minyak (BBM) tambahan ke sejumlah SPBU di Kendari, Sulawesi Tenggara, guna meredakan antrean panjang yang mengganggu aktivitas warga sejak beberapa hari lalu.
Kepala Divisi Pemasaran Pertamina Patra Niaga Wilayah Sulawesi Tenggara, Andi Rahman, mengonfirmasi penambahan kuota Premium, Pertalite, dan Solar masing-masing 15 persen dari alokasi harian standar mulai Senin (14/9) pagi. "Kita mendorong distribusi darurat ke 22 SPBU titik merah yang terpantau antreannya melebihi 50 kendaraan per jam," ujarnya via telepon, Rabu (16/9).
Antrean melonjak sejak pekan lalu bertepatan dengan kenaikan volume mobilitas pasca libur panjang serta isu soal kenaikan harga BBM non-subsidi yang memicu beli grosir di kalangan pengusaha angkutan. Di SPBU Pertamina Jendral Sudirman, antrean motor dan mobil mencatat 300 meter memanjang ke jalur utama, memaksa Dishub Kota Kendari menyalurkan 15 personel untuk mengatur arus.
Langkah pengawasan ketat pun diberlakukan. Tim gabungan Pertamina Patra Niaga, Disperindag, dan Polres Kendari melakukan razia mendadak ke 8 SPBU yang diduga praktik curah manual dan pembatasan penjualan tidak sesuai ketentuan. Hasil sementara: dua manajer SPBU disegel sementara 3x24 jam, sementara satu operator pompa diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Warga mengakui merasakan dampak penambahan stok. "Semalam isi Pertalite cuma antre 15 menit, kemarin bisa sampai dua jam," ujar Ridwan, pengemudi ojek online di SPBU Wolter Monginsidi. Namun, ia tetap waspada soal kestabilan pasokan mengingat pengalaman musim lalu stok kembali menipis saat libur sekolah tiba.
Analisis Redaksi
Injeksi stok darurat memang ampuh memadamkan kebakaran antrean sesaat, tapi bukan obat akar. Pola permintaan yang lonjak drastis di awal bulan dan menjelang libur nasional sudah jadi siklus tahunan, namun manajemen rantai pasok Pertamina Patra Niaga Wilayah Sultra masih bersifat reaktif — menunggu antrean baru bergerak. Jika tidak ada peningkatan kapasitas stok terminal depot Kendari dan penjadwalan armada tanker yang lebih presisi, gejala serupa akan berulang setiap puncak mobilitas.
Razia gabungan itu langkah tepat untuk menjaga disiplin pasar, namun efektivitasnya bergantung pada konsistensi. Segel 3x24 jam bagi pelanggar primer bersifat simbolis jika tidak diikuti sanksi kontrak kerja sama niaga yang mengerucutkan margin keuntungan pelaku usaha. Publik butuh jaminan pasokan stabil, tidak hanya aksi serbu musiman.
