MPC Asian Games 2026 di Nagoya Resmi Beroperasi, Jurnalis Mulai Ambil Rompi Fotografer
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.
Main Press Center (MPC) Asian Games 2026 di Port Messe Nagoya, Prefektur Aichi, Jepang, resmi mulai beroperasi pada Jumat (18/9/2026), menandai langkah konkrit persiapan penyiaran dan cakupan media untuk multiekspedisi olahraga terbesar di Asia itu. Sejak pagi, ratusan jurnalis domestik dan asing sudah mengantri di meja pendaftaran untuk mengisi formulir pengambilan rompi identitas fotografer, prasyarat wajib sebelum masuk area kompetisi.
Kepala Pusat Media Asian Games 2026, Hiroshi Tanaka, mengonfirmasi keberoperasian MPC tepat waktu sesuai jadwal yang disepakati Komite Penyelenggara (INAGOC) dan Olympic Council of Asia (OCA). "Semua sistem akreditasi, koneksi internet berkecepatan tinggi, dan ruang kerja sudah uji coba sejak minggu lalu. Hari ini kita buka layanan penuh untuk jurnalis," ujarnya saat ditemui di lorong MPC, Jumat siang.
Port Messe Nagoya yang biasa menjadi venue pameran internasional dikonversi menjadi pusat media seluas 45.000 meter persegi. Di dalamnya tersedia 1.200 posisi meja kerja, studio siaran langsung, ruang konferensi pers, hingga fasilitas medis darurat. Area terpisah disediakan untuk broadcaster rights holder (NHK, TV Asahi, dan konsorsium internasional) serta non-rights holder.
Sejak dibukanya akreditasi media bulan Mei lalu, tercatat 4.850 jurnalis dari 42 negara telah terdaftar. Angka itu melebihi target awal 4.500 orang. Delegasi media terbesar datang dari China (620), Korea Selatan (540), dan Indonesia (480). Untuk Indonesia, tim media terdiri dari Lembaga Penyiaran Publik TVRI, stasiun swasta, media cetak, dan portal berita digital.
Rompi fotografer yang dibagikan hari ini bernomor seri unik dan dilengkapi chip RFID untuk akses ke venue kompetisi. Setiap jurnalis wajib menunjukkan kartu akreditasi dan paspor asli saat pengambilan. Petugas MPC juga membagikan panduan keamanan, peta venue, dan jadwal shuttle bus ke 26 lokasi pertandingan yang tersebar di Aichi dan Prefektur Mie.
Analisis Redaksi
Keberoperasian MPC dua minggu sebelum pembukaan (26 September) bukan sekadar formalitas administratif. Ia menjadi indikator kesiapan logistik keras INAGOC dan pemerintah Jepang pasca keterlambatan pembangunan beberapa venue akibat pandemi dan kenaikan biaya material. Jika MPC lancar, peluang besar seluruh roda gigi event โ dari transportasi atlet hingga keamanan siber โ sudah teruji sistemnya.
Yang perlu diwaspadai adalah manajemen keramaian di jam sibuk. Pengalaman Asian Games 2018 di Jakarta menunjukkan bottleneck di titik akses MPC pada hari-hari pertama. Nagoya dengan kapasitas hotel terbatas di sekitar Port Messe berpotensi memaksa jurnalis menginap jauh dan bergantung pada jadwal shuttle yang ketat. Koordinasi antara tim media INAGOC, polisi Aichi, dan operator transportasi harus berjalan presisi agar tidak mengganggu deadline siaran.
Langkah logis selanjutnya adalah uji coba penuh sistem transmisi sinyal dari venue ke MPC dan ke International Broadcast Center (IBC) di Tokyo. Minggu depan dijadwalkan simulasi siaran langsung pembukaan. Kegagalan teknis di titik itu โ misalnya latensi tinggi atau drop signal โ akan jadi ujian nyata bagi reputasi Jepang sebagai tuan rumah multiekspedisi kelas dunia.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Janice Tjen Diproyeksi Ulangi Kejayaan sebagai Unggulan Pertama Chennai Open 2026

Jokowi dan Shin Tae Yong Saksi Ijab Bahagia Pernikahan Asnawi & Yuriska

Toraja Academy Turunkan 100 Atlet untuk Tembus Prestasi di CNN Indonesia Taekwondo Championship
