Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Hozon Disuntik Rp7,9 Triliun, Neta Lolos Kebangkrutan dan Fokus SUV

OtomotifSiska AmeliaSiska AmeliaSumber: CNN Otomotif
Siska Amelia
Siska Amelia
Rider & Reviewer

Membawa perspektif segar dalam dunia otomotif roda dua dari kacamata perempuan.

Hozon Disuntik Rp7,9 Triliun, Neta Lolos Kebangkrutan dan Fokus SUV
BAGIKAN:

Induk perusahaan merek mobil listrik Neta Auto, yakni Hozon New Energy Automobile Company, dipastikan lolos dari ancaman kepailitan setelah masuk dalam draf rencana reorganisasi yang dirilis usai rapat kreditur keempat secara daring pada Jumat (11/9), seperti dilaporkan Just Auto pada Rabu (16/9) mengutip media lokal.

Penyelamatan pabrikan asal Tiongkok ini dilakukan oleh Zhejiang Taiyi Shanglian Enterprise Management Partnership melalui skema investasi senilai 3 miliar yuan atau setara dengan Rp7,9 triliun menggunakan kurs Rp2.644,7 untuk menguasai 70,6 persen saham Hozon.

Perusahaan manajemen Taiyi Shanglian sendiri sengaja didirikan pada awal tahun ini oleh Zhejiang Shanzi Holdings Company bersama Zhejiang Shanzi Yuxu Technology Company guna mengambil alih kendali dan memulihkan operasional pabrikan yang sempat terpuruk tersebut.

Dari total dana restrukturisasi yang digelontorkan, sebanyak 1,17 miliar yuan atau sekitar Rp3,1 triliun dialokasikan khusus untuk menyelesaikan utang lama, termasuk membayar kreditur atas aset yang dipertahankan, menanggung biaya kepailitan, serta melunasi berbagai kewajiban restrukturisasi lainnya.

Sisa dana segar sebesar 1,83 miliar yuan atau setara Rp4,8 triliun disuntikkan secara penuh sebagai modal kerja untuk menghidupkan kembali lini produksi dan penjualan, membangun ulang rantai pasok yang sempat terputus, serta memulihkan jaringan purnajual dan operasional harian perusahaan.

Strategi bisnis baru Hozon kini bergeser dengan mengategorikan peralatan produksi SUV Neta X dan Neta L sebagai aset inti yang dipertahankan, sementara perangkat perakitan sedan Neta S serta GT dilepas sebagai aset noninti.

Langkah penyelamatan ini dijabarkan dalam rencana pemulihan tiga tahap, di mana tahap awal mematok target penjualan tahun pertama sebanyak 10 ribu unit dengan mengandalkan Neta L serta penanganan klaim garansi bagi 400 ribu pemilik kendaraan di seluruh dunia.

Tahap kedua dirancang untuk meningkatkan skala operasi hingga mencapai kapasitas output 300 ribu unit per tahun sekaligus mengembangkan model khusus yang menyasar pasar berkembang di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Puncaknya pada tahap ketiga, Hozon bersiap mengembangkan model mobil listrik pintar baru untuk pasar global dengan target nilai output tahunan mencapai 40 miliar yuan atau sekitar Rp105,8 triliun serta mempersiapkan penawaran saham perdana atau IPO.

Dampak restrukturisasi ini turut dirasakan di Indonesia, tempat Neta sebelumnya memasarkan model V, V-II, dan X, di mana Januari lalu pihak Neta Indonesia menyatakan lewat akun Instagram resminya bahwa Hozon diharapkan menyelesaikan restrukturisasi pada pertengahan 2026.

Kendati demikian, layanan purnajual Neta di Tanah Air sebelumnya telah dialihkan ke Otoklix dan Anma Mobil seiring penutupan sejumlah jaringan dealer resmi, sementara perakitan lokal di fasilitas rekanan PT Handal Indonesia Motor (HIM) telah berhenti sejak sekitar enam bulan lalu.

Komisaris PT Handal Indonesia Motor sekaligus Ketua I Gaikindo, Jongkie D Sugiarto, menegaskan bahwa seluruh keputusan terkait kelanjutan produksi kini sepenuhnya berada di tangan agen pemegang merek meskipun Neta tercatat masih aktif sebagai anggota Gaikindo.

Analisis Redaksi

Keputusan Zhejiang Taiyi Shanglian menyuntikkan dana triliunan rupiah membuktikan bahwa merek kendaraan elektrik asal Tiongkok masih memiliki daya tarik komersial tinggi di tengah ketatnya persaingan global, asalkan restrukturisasi finansial dilakukan secara radikal dan terarah. Pemangkasan lini produksi sedan demi memfokuskan sumber daya pada segmen SUV menunjukkan pragmatisme bisnis yang rasional untuk menekan biaya operasional sekaligus mengejar volume penjualan yang lebih cepat di pasar internasional.

Bagi konsumen di Indonesia, kepastian restrukturisasi ini menjadi angin segar di tengah ketidakpastian layanan purnajual dan terhentinya perakitan lokal dalam beberapa bulan terakhir. Tantangan terbesar bagi manajemen baru bukan sekadar menghidupkan kembali pabrik di Tiongkok, melainkan bagaimana merebut kembali kepercayaan konsumen domestik yang sempat goyah akibat ketidakejelasan rantai pasok dan penutupan jaringan dealer.

Meow! Tanya Nesi!
😸