Feiral Rizky Batubara: B50 Instrumen Kunci Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.
Pengamat ketahanan energi Feiral Rizky Batubara menegaskan Biosolar B50 sebagai instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah geopolitik minyak global yang terus bergejolak. Penilaian itu disampaikannya melalui keterangan tertulis yang diterima Antara, Kamis (18/9/2026), menjawab tantangan transisi energi yang sekaligus harus menjaga ketersediaan bahan bakar terjangkau.
"Biosolar B50 bisa menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat ketahanan energi," tegas Feiral. Ia menyoroti potensi bahan bakar berbahan baku sawit ini untuk mengurangi ketergantungan impor solar yang selama ini menguras devisa negara. Dengan kandungan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) 50 persen, B50 menjadi peluncur kebijakan B40 yang sudah berjalan sejak 2022.
Kebijakan mandatori biodiesel berbasis sawit memang telah menjadi tulang punggung diplomasi energi Indonesia hampir dua dekade. Dari B2,5 pada 2008, naik bertahap ke B30, B35, B40, hingga kini B50 diuji di lapangan. Setiap kenaikan persentase FAME berarti penghematan impor solar mentah yang signifikan, sekaligus menyerap buah sawit petani kecil yang jumlahnya mencapai jutaan keluarga di Sumatera dan Kalimantan.
Namun, lompatan dari B40 ke B50 bukan sekadar soal aritmatika campuran. Feiral mengakui tantangan teknis dan komersial yang lebih kompleks: ketahanan mesin diesel modern, kestabilan harga CPO di pasar global, hingga kesiapan infrastruktur pencampuran di depot Pertamina. "Instrumen itu harus didukung ekosistem yang matang," imbuhnya, menuding perlunya sinkronisasi antara Kementerian ESDM, BPDPKS, dan pelaku usaha hilir.
Bagi publik, keberhasilan B50 terasa langsung di kantong dan lapangan. Petani sawit berharap harga TBS (Tandan Buah Segar) stabil di atas harga acuan pembentukan dana BPDPKS. Sementara pengendara menunggu jaminan ketersediaan pompa dan harga subsidi yang tidak melonjak. Jika manajemen rantai pasok gagal, beban justru jatuh ke konsumen melalui kenaikan harga non-subsidi atau kelangkaan di daerah terpencil.
Analisis Redaksi
Penilaian Feiral menempatkan B50 bukan lagi sebagai proyek eksperimen, melainkan keharusan strategis ketahanan energi yang tidak bisa ditawar. Logikanya sederhana: Indonesia punya sawit, dunia butuh energi, dan impor solar adalah luka terbuka di neraca pembayaran. Namun, pengalaman B30 dan B40 mengajarkan bahwa keberhasilan tidak ditentukan target persentase campuran, melainkan disiplin manajemen Dana Kelapa Sawit (DKS) dan kejujuran pengawasan mutu di depot.
Yang perlu diwaspadai adalah tekanan ganda dari sisi hulu dan hilir. Di hulu, regulasi EUDR (EU Deforestation Regulation) mengancam akses pasar sawit ke Eropa, memaksa Indonesia memperkuat konsumsi domestik via B50 sebagai buffer. Di hilir, subsidi solar yang masih masif menciptakan distorsi harga; setiap kenaikan B50 memperbesar beban APBN melalui mekanisme insentif BPDPKS jika harga CPO melonjak. Langkah logis selanjutnya bukan hanya gencar sosialisasi, tapi audit terbuka rantai pasok B50 — dari kebun ke tangki — agar instrumen mulia ini tidak berujung pada rent-seeking baru.

