Banjir Robohkan Jembatan Akses Irigasi dan Kebun di Gampong Adan

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: Antara News
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Banjir Robohkan Jembatan Akses Irigasi dan Kebun di Gampong Adan
BAGIKAN:

Banjir bandang yang menerjang Kecamatan Darul Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, merobohkan jembatan penghubung pemukiman warga Gampong Adan ke irigasi serta lahan perkebunan, memutus akses vital bagi petani dan nelayan setempat.

Jembatan kayu berukuran panjang sekitar 30 meter dengan lebar dua meter itu runtuh Senin (18/9) pagi setelah arus sungai meluap menerjang konstruksi penyangganya sejak malam sebelumnya. "Air turun sangat deras dari hulu, bahan galian batu dan kayu hantaman memukul tiang penyangga hingga struktur tidak tahan," ujar Keuchik Gampong Adan, Cut Nyak Dien, saat ditemui di lokasi, Senin siang.

Kerusakan itu mengisolasi sekitar 150 kepala keluarga yang kebun dan sawahnya terletak di seberang sungai. Petani seperti Muhammad Yasin (52) kini terpaksa berjalan kaki melewati jalan setapak berbukit selama dua jam untuk mengecek tanaman sawi dan kacang panjang mereka. "Saya tidak bisa mengangkut pupuk dan hasil panen. Motor tidak bisa lewat, jalan tanah di bukit licin hujan," katanya sambil menepuk-nepuk lututnya yang sakit.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Nagan Raya, Ir. Teuku Reza Fahlevi, mengonfirmasi kerusakan parah pada struktur bawah jembatan. Tim teknis sudah turun mengevaluasi kerusakan dan menyiapkan rencana pembangunan jembatan gantian beton bertulang. "Kami akan mengusulkan dana darurat APBD perubahan tahun ini. Target selesai sebelum musim tanam berikutnya," ujarnya via WhatsApp.

Selama menunggu pembangunan, warga mengandalkan perahu getek penyebrangan yang disediakan Pemdes Adan. Kapasitasnya terbatas, hanya muat empat motor per trip. Antrean panjang terbentuk di kedu sisi tebing sejak fajar. Bupati Nagan Raya, H. Mukhlis, SE, meminta warga tenang dan tidak memaksa menyeberang saat arus masih deras. "Keselamatan jiwa prioritas utama. Kami koordinair dengan TNI-Polri dan BPBD untuk evakuasi jika diperlukan," tegasnya.

Analisis Redaksi

Kejadian di Gampong Adan memperlihatkan betapa rapuhnya infrastruktur penghubung di pedalaman Aceh menghadapi ekstrem cuaca. Jembatan kayu yang sudah berusia puluhan tahun tidak dirancang menahan debit banjir bandang skala ini, yang semakin sering terjadi akibat degradasi hutan lindung di hulu aliran sungai. Pembangunan jembatan beton memang solusi jangka panjang, tapi proses pengadaan dana dan tender butuh waktu minimal enam bulan — terlalu lama bagi petani yang musim tanamnya tidak bisa ditunda.

Solusi darurat perahu getek hanya menjawab mobilitas orang, tidak logistik pertanian. Pupuk, bibit, dan hasil panen volume besar tetap terjebak. Pemkab perlu mengaktifkan skema bantuan darurat BANSOS logistik pertanian sekaligus menyewa alat angkut amphibian atau helikopter untuk mengantar kebutuhan ke lahan terisolasi. Tanpa intervensi cepat, kerugian ekonomi ratusan juta rupiah per hari tak terhindarkan, dan ketahanan pangan skala mikro di wilayah ini akan tergerus.

Meow! Tanya Nesi!
😸